
Deka ternyata membawa Milla ke sebuah apartemen yang tak jauh dari lokasi hotel. Dengan di antara beberapa orang, Deka masuk ke dalam salah satu apartemen sambil menggendong Milla.
Pria itu langsung meletakkan Milla ke atas kasur dengan perlahan.
"Panggilkan aku dokter wanita sekarang! Dan bawakan juga pakaian wanita." Titah Deka pada bawahannya. Hal itu membuat Milla mengernyitkan dahinya.
"A-ak, aku tak perlu dokter." Pinta Milla pada Deka.
"Tap-"
"Kumohon." Sambung Milla yang membuat Deka tak mampu melawan.
"Ehm, bisakah kita hanya berdua saja?" Pinta Milla lagi. Mungkin Milla masih trauma, itulah yang muncul dalam benak Deka. Untuk itu ia langsung mengkodekan tangannya agar anak buahnya pergi.
Kode tangan itu langsung dituruti oleh semua anak buah Deka. Mereka langsung meninggalkan Milla dan Deka di sana.
"Ehm, boleh aku minta air minum?" Tanya Milla pada Deka.
"Tentu,"
__ADS_1
Deka langsung berjalan ke arah ruang dapur yang tak jauh dari tempat tidur. Apartemen itu adalah satu suite mewah tanpa penghalang. Jadi semuanya berada dalam satu ruangan, seperti tempat tidur, dapur, dan ruang nonton TV yang hanya terpisah oleh tangga kecil. Pria itu kembali berjalan ke arah Milla setelah membawa segelas air. Namun tiba-tiba saja Deka terkejut. Dari kejauhan, raut wajah Milla terlihat tersiksa. Kulit wajahnya berubah kemerahan.
"Milla?! KENAPA?" Tanya Deka sembari berlari ke arah wanita itu. Dia meletakkan gelas tadi di atas meja yang tak jauh dari sana.
Milla menggigit bibir bawahnya seperti sedang menahan sesuatu dalam dirinya.
"Hhhhm,,," Milla tak mampu membalas pertanyaan Deka itu. Pikirannya kalang kabut memikirkan sesuatu yang lain.
"Milla!" Teriak Deka panik. Pria itu menaruh tangannya di kening wanita itu memastikan suhu tubuhnya. "Kamu kenapa?"
Tangan Deka merasakan suhu yang tidak normal. Milla nampaknya terkena demam.
"Milla, jika tidak cepat, kond-"
"Ini bukan sesuatu hal yang bisa dokter tangani." Potong Milla dengan nafas terpotong-potong seperti habis lari maraton.
Hal itu membuat Deka binggung. Semakin ke sini, tingkah Milla semakin aneh. Keringat bercucuran deras, nafas terengap-engap, dan suhu badan yang naik. Deka mencoba mencari tahu penyakit apa yang kira-kira cocok dengan kondisi itu. Tapi karena Deka minim pengetahuan soal itu, dia tak tahu jawabannya.
"Biar aku kompres saja." Ucap Deka dengan satu solusi terakhirnya. Pria itu langsung berdiri hendak mengambil handuk dan sebaskom air.
__ADS_1
"Aku butuh kamu." Ucap Milla menahan langkah kaki Deka. Pria itu mematung seketika. Dia berharap yang barusan adalah kesalahan telinganya.
"Aku tak butuh dikompres atau pun obat. Aku hanya butuh kamu, Deka." Lanjut Milla memperjelas ucapannya.
Sontak Deka kembali duduk di sisi samping kasur dan menatap Milla.
"Apa maksudmu? Aku bukan dokter, Milla. Kita butuh obat untuk mengobati rasa tersiksamu."
Milla menggeleng. Dia tahu Deka bukan dokter. Tapi menurutnya hanya Deka yang bisa menolongnya dan hanya Deka lah yang Milla mau untuk menolongnya bukan orang lain. Tapi Milla binggung harus bilang apa pada Deka. Dia juga malu, takut Deka menganggapnya aneh.
Melihat nafas Milla yang semakin tersendat-sendat membeuat Deka semakin panik. Dia mencoba menelaah satu persatu dari semuanya, bahkan kejadian yang baru beberapa menit terjadi. Dan Deka langsung terbelalak begitu ia memyadarinya.
"No! Tidak mungkin kan itu yang terjadi? Bagaimana Mungkin bajingan itu memberikan itu padanya?" Batin Deka sedikit panik. Namun Deka menjawab sendiri pertanyaannya barusan. Orang-orang itu punya kuasa jadi tidak ada yang tidak mungkin.
"Aih, berarti aku harus,,,," Gumam Deka menelan air liurnya sendiri. Entah kenapa Deka mulai merasakan sesuatu yang sama seperti Milla.
"Ekhm, kau yakin? In-ini menyalahi kontrak kita berdua." Kata Deka mencoba mencari alasan. Setidaknya biar dia tidak membiarkan egonya memakan kesempatan dalam kesempitan itu.
"Buang saja, buang saja kontrak itu. Aku tak peduli. Aku mau- maksud ku aku butuh bantuanmu!" Terang Milla malu-malu.
__ADS_1