Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
43. Ikut Saja


__ADS_3

"Baiklah, tunjukkan jalannya." Ucap Deka seraya kembali mengikuti Valeene.


Mereka berdua berjalan ke aula utama mansion. Di sana sudah ada banyak sekali orang yang datang. Selain mewah dan modis, pesta ini sungguh meriah. Orang yang dipanggil Agatha itu menyiapkan panggung ukuran sedang di ujung aula mansion. Terlihat seorang wanita sedang bernyanyi di sana untuk menghibur orang-orang yang datang. Nampaknya wanita itu adalah salah satu penyanyi terkemuka di negeri ini.


Namun, Deka dan Valeene tidak diam di sana untuk menyaksikan pertunjukan itu. Mereka berjalan memutar menuju sisi barat aula. kesebuah rumah kaca yang di dalamnya hanya ada beberapa orang saja.


Jelas rumah kacanya ini isinya para elit atau mereka tamu VVIP saja sebab untuk masuk saja harus menyertakan surat undangan atau memang sudah diizinkan untuk masuk. Mungkin jika tidak ada Valeene, orang seperti Deka tidak bisa masuk ke sana. Beberapa penjaga yang mengenal valeene langsung mempersilahkan Valeene dan Deka masuk.


"Nona Milla, saya membawa tuan Deka." Ucap Valeene ketika di hadapan seorang wanita yang membelakanginya.


"Ah akhirnya kau datang,"


Wanita itu menoleh ke hadapan Valeene dan Deka.


Pernah jatuh dari kasur karena mimpi terlalu tinggi? Mungkin itulah yang di rasakan oleh Deka sekarang. dirinya nampaknya harus cepat-cepat bangun dari mimpinya saat melihat bidadari di depannya.


Dengan gaun putih layaknya salju yang turun, kecantikan Milla membuat mata Deke terpaku. Pikirannya seakan-akan kosong begitu saja. Bahkan tanpa sadar ia meracau pelan "perfect."


Valeene yang mendengar walau kecil sekali suara itu langsung menoleh ke arah deka. Dia melihat Deka seperti patung.


"Ehm,"


Valeene membangunkan Deka dari lamunannya.

__ADS_1


"Ah, iya, Milla. Aku di sini." Kata-kata ini secara spontan keluar dari mulut Deka.


Hal itu membuat Valeene heran.


"Syukurlah kamu di sini, Deka. Kau tahu, seperti yang kita bicarakan beberapa waktu yang lalu. Aku akan menjalankan semua yang perlu kulakukan."


"Ah, iya tentu."


Milla Tersenyum manis mendengar suara Deka.


"Gila! Apa itu malaikat yang turun ke bumi!" Batin Deka ketika pertama kali melihat Milla tersenyum seperti itu kepadanya.


"Deka, kau sudah menolongku sejauh ini. Jika tidak ada kamu, aku pasti sudah kesulitan. Sekali lagi ku ucapkan terima kasih."


Seorang wanita menghampiri mereka.


"Maaf menganggu, nona. Tuan Agatha bilang akan memulai pestanya. Nona Milla diharapkan untuk ikut saya sesuai arahan tuan Agatha."


"Oh, iya sebentar." Jawab Milla.


"Deka meski hanya sedikit, kuharap kau menikmati pestanya. Selesai ini semua, aku akan membalas semua pertolongan mu." sambung Milla pada Deka.


"Itu tidak perlu, aku menolongmu bukan untuk sebuah balsan darimu."

__ADS_1


Milla Tersenyum simpul.


"Aku tahu kau akan menjawab itu. Valeene tolong kau temani Deka. Aku mau bertemu dengan tuan Agatha."


"Baik, nona."


Milla meninggalkan Deka dan Valeene di tuntun oleh wanita yang tadi.


Deka menyusul Milla di belakangnya.


"Mau kemana?" tanya Valeene menahan lengan Deka.


Deka mengeryitkan dahinya.


"tentu saja menikmati pestanya. Bukannya sebentar lagi akan di buka oleh tuan mu?"


"Oh, iya." Ungkap Valeene. Dia mengira Deka mau mengikuti Milla.


"Oke, mari kita melihat pestanya dan kau jangan jauh-jauh dariku."


Giliran Valeene yang menuntun Deka memasuki aula mansion. Mereka berdua berbaur dengan tamu yang datang di sana.


Sementara itu, di atas panggung, wanita yang tadi bernyanyi menyapa para tamu layaknya host sebuah acara TV. Di penghujung sapaannya, waniita itu memanggil sebuah nama yang paling penting dalam pesta itu. Dia adalah Agatha.

__ADS_1


__ADS_2