
Malam pun tiba. Tadi siang setelah bertemu dengan Bachsmid, Deka langsung kembali ke Big corp. Di sana dia membereskan berkas-berkas penting tentang perusahaan Milla itu. Setelah memecat semua petinggi perusahaan ini, Deka mengganti mereka dengan orang-orang yang dikirimkan oleh Erato. Tak hanya mengganti para petinggi, Deka juga menambahkan jumlah karyawan yang ada di sana dengan tujuan meningkatkan produktivitas yang ada. Dan hasilnya Deka harus kerja lembur terus untuk menyelesaikan data-data yang diperlukan.
Sebenarnya dia bisa saja menyuruh Leo atau anggota Muse untuk menyelesaikan urusan ini. Tapi hati Deka berkata ingin mengawasi semuanya secara langsung. Oleh karena itu, Deka lebih cenderung mengerjakan urusan perusahaan Milla ini secara pribadi. Tujuan Deka tak hanya sebatas mengembalikan perusahaan Milla menjadi normal. Tapi dia juga ingin agar perusahaan ini bisa sampai bersaing dikancah benua. Sehingga saat Milla bisa melihat kembali, dia bisa dengan mudah mengembangkan bisnis ini.
Untuk masalah dana perusahaan yang sudah minus, Deka menyerahkannya pada Clio. Biar dia yang menutupi semua minus keuangan yang ada. Tentunya nominal yang Clio keluarkan cukup banyak untuk hal itu. Tapi bagi Deka itu hanya masalah kecil. Dia sudah punya banyak uang. Hanya mengeluarkan 4 sampai 5 digit bukan masalah yang besar.
Di dalam kantor, pintu kantor terbuka. Seorang pria muncul dari balik pintu.
“Bos, saya mau mengantarkan beberapa perusahaan lain yang ingin mengadakan pertemuan untuk esok hari.” Pria itu adalah Leo. Deka menyuruhnya untuk membantunya mengurus masalah pertemuan dengan klien atas nama perusahaan Big Corp.
“Berapa Banyak kali ini?” Tanya Deka tak menatap ke arah Leo. Dia sibuk membaca berkas yang dipegangnya.
Leo masuk ke dalam ruangan Deka.
__ADS_1
“Hhmm, jumlahnya naik dari beberapa hari yang lalu. Jika di total bisa sampai lima puluhan perusahaan.”
“Hhmm, apa itu perusahaan local?”
“Setengah darinya local dan setengah dari negara lain. Saya sudah memilah beberapa perusahaan yang mungkin bisa kita ajak kerja sama. Apa mulai kita ambil saja mereka?”
“Baiklah ambil saja satu atau dua, dan kita lakukan meeting untuk esok hari. Atur juga jadwal dan tempatnya. Suruh mereka untuk tiba tepat waktu. Jika mereka terlambat, langsung batalkan kerja samanya.”
Leo mengangguk.
“Untuk data penghasilan bulan lalu, apa langsung saya kirimkan lewat email?” Tanya Leo. Butuh waktu yang cukup lama baginya untuk memeriksakan keuangan perusahaan Big Corp. karena saking banyak pencucian uang yang terjadi.
“Oh, kamu sudah mendapatkannya?” Deka membuka ponselnya.
__ADS_1
“Sudah. Saya baru sele-“
“Sialan!” Umpat Deka saat melihat ponselnya.
“Ma-maaf,bos?” Leo langsung panik seketika itu juga.
“Di mana itu bar Olyphic?” Tanya Deka menyebutkan nama suatu bar.
“Eh, maaf?” Leo masih tak paham. Tiba-tiba saja Deka menanyakan tentang bar saat mereka tengah membahas tentang pekerjaan.
“Aku keluar sebentar. Kirim kan yang perlu kau kirimkan. Dan cari tahu dimana bar Olympic itu berada padaku sekarang. Aku tunggu dalam lima menit, lokasi bar itu sudah harus ada di ponselku.” Tanpa banyak basa-basi, Deka lansung meninggalkan Leo dan langsung turun ke lobi perusahaan.
Sejujurnya Leo sangat kebingungan. Tapi dia mencoba bekerja professional, dia tak mau nyawanya terancam cuman gara-gara tak tahu letak bar Olympic. Tak sampai satu menit, Leo langsung menemukan lokasinya dari ponselnya.Dia segera mengirmkan lokasi itu kepada Deka yang mungkin sudah meningggalkan perusahaan ini.
__ADS_1
“Huh, hampir saja aku bunuh diri.” Gumam Leo setelah mengirimkan lokasi barnya pada Deka.