
"Kau itu wanita kuat, Milla. Kau pasti bisa melewati ini. Aku di sini untuk menyelamatkan mu," Kata Deka mencoba membuat wanita dalam pelukannya tenang.
Setelah sedikit tenang, Deka melepas pelukannya dan mengusap air mata Milla yang tersisa di pipi wanita itu.
"Sudah mendingan?" Tanya Deka memastikan keadaan Milla. Wanita itu mengangguk.
"Baiklah, aku tahu kau masih syok. Tapi kita tidak boleh berdiam di sini kita harus kabur dari sini." Sambung Deka.
"Ke, kenapa?"
"Aku yakin mereka yang ada di sini belum semua dari orang yang mengincarmu. Jika pun tidak, lebih baik kita beranggapan seperti itu. Kau pasti sudah mencoba menghubungi paman ku bukan?"
"Iy, iya. Tapi tetap tidak bisa."
Perkataan Milla membuat Deka semakin yakin dengan alibinya.
"Berarti dugaanku kuat. Di luar mansion ini ada seseorang yang menggunakan alat untuk mengacak-acak jaringan yang ada di sini. Kita tidak akan bisa menghubungi siapapun jika masih di sini."
Milla nampak terkejut dengan fakta itu. Bagaimana mungkin mereka bisa selamat jika tidak akan ada bantuan yang datang.
__ADS_1
Deka menyentil pelan kening Milla.
"Tenanglah, ada aku di sini. Akan kupastikan membawamu ke tempat yang aman. Kau percaya padaku, kan?" Entah apa rencana Deka, tapi dia yakin bisa menyelamatkan Milla dari sini.
Milla terdiam sejenak. Jika pertanyaan apakah ia bisa percaya pada Deka, dia tentu akan binggung. Tapi itu jika ia dalam kondisi biasa. Dalam kondisi kali ini, dirinya akan menghilangkan egonya. Percaya atau tidak, Milla tak tahu pasti. Setidaknya dari suara Deka, ia sadar bahwa pria ini mampu.
"iya." Jawab Milla tanpa keraguan.
"Bagus, ayo kita bergegas. Masih kuat berjalan?"
Deka menggenggam tangan Milla dan membantunya untuk berdiri.
Deka dengan cepat melupakan hal itu dan berjalan ke arah tubuh pria yang tadi menembakinya. Dia mengambil semua senjata yang bisa ia gunakan tak terkecuali rompi anti peluru sebagai persiapan hal buruk. Saat melakukan looting ditubuh salah satu penjahat itu, Deka menemukan sebuah tattoo yang seperti ia kenal.
"Ekhm, De, Deka." Panggil Milla dari belakang. Nampaknya dia sudah selesai.
"Ini jaketmu. Terimakasih." Milla menyerahkan jaket milik Deka.
"Kau pakai saja. Kamu lebih membutuhkannya daripada aku."
__ADS_1
Deka mengecek sisa peluru dalam senjata yang ia ambil tak lupa membawa beberapa amunisi tambahan.
"Kau bawa senjata?" Milla nampak takut saat mendengar Deka mengokang senjata ditangannya.
"Iya. Dan ini adalah senjata untukmu dan pakai ini." Deka memberikan sebuah pistol semi otomatis serta rompi anti peluru untuk Milla.
"Ak, aku tak bisa."
"Ini untuk berjaga-jaga saja. Mereka yang menghunuskan pedang padamu duluan maka dia sudah siap untuk mati. Jadi, kau tak perlu khawatir."
"Bukan. Bukan masalah itu. Ak, aku tak bisa melihat mereka."
Deka tersenyum mendengarnya.
"Kau tak perlu tahu siapa musuhmu, nona. Saat kau terancam gunakan saja. Itu fungsi otomatis sebuah senjata."
Mau tak mau Milla menerimanya dan memakai rompi anti peluru. Deka menyimpan pistol itu dibalik jaket yang Milla kenakan.
"Baiklah nampaknya kamu sudah siap. Ayo kita pergi dari sini,"
__ADS_1