Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
75. Sebuah Fakta


__ADS_3

"Kamu mau pesan apa?' tanya Eny menawarkan Milla untuk memesan sesuatu. "Ah, apa kamu mau es coklat? Bukannya kamu senang sekali minum itu?"


Eny terbayang beberapa kenangan kecil tentang Milla di masa lalu. Masa di mana Milla masih sangat kecil dan selalu memaksa Anin, ibunya Milla, membalikannya es coklat tak peduli meski itu masih sangat pagi.


"Tentu. Hehe, tante ternyata enggak lupa sama kesukaanku." Milla tak menyangka tantenya masih mengingat apa yang menjadi kesukaannya.


"Tentu saja, bagaimana Mungkin tante bisa lupa saat ada gadis cantik yang merengek sepanjang hari cuman gara-gara es coklat."


Kedua wanita itu tertawa bersama. Kenangan itu memang selalu menjadi hal indah yang layak dikenang.


"Kalau kamu, mau pesan apa?" Kali ini Eny beralih ke pria di depannya.


"Ah, tidak perlu repot-repot, nyonya. Saya di sini hanya perwakilan sampai bos datang." Jawab Leo sedikit enggan sekaligus menjaga sikap pada kedua wanita di depannya.


"Jangan sungkan seperti itu, kamu adalah rekannya suaminya Milla, bukan? Tak apa, pesanlah." Sekali lagi Eny menawarkan pada Leo.

__ADS_1


"Hhmm, kalau begitu, kurasa cukup kopi tanpa gula dua. Satunya lagi untuk bos. beliau sangat suka kopi."


Eny mengangguk dan langsung memesan kepada pelayan yang lewat. Tak lupa pula dia memesankan minuman untuk suaminya dan anaknya.


"Yang kau panggil bos itu, suaminya Milla bukan?" Tanya Eny membuka percakapan.


"Benar, nyonya. Beliau adalah bos kami." Jawab Leo dengan senyum yang terus terpasang di wajahnya.


"Hhmm, aku sedikit penasaran, bahkan mungkin bukan aku saja," Eny menoleh ke arah Milla. "Kalau boleh kami tahu, apa pekerjaan Deka sampai kamu memanggilnya, bos?"


"Oh, itu, Kami hanya mendirikan bisnis kecil milik kami, nyonya." Jawab Leo masih dengan senyum terpasang di wajah.


"Bisnis apa itu kal-"


Belum genap Eny bertanya, para pelayan cafe datang menyuguhkan pesanan mereka. Dan di saat yang sama, Deka dan Bachsmid datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Loh, sayang, El kemana?" Tanya Eny saat melihat hanya dua orang yang datang.


"Ah, dia bilang ada urusan mendadak. Jadi, dia izin pulang duluan." Jawab Bachsmid mengambil salah satu kursi dan duduk di sebelah istrinya di ikuti oleh Deka.


"Loh, kak El sudah pulang? Kok, cepet banget, sih?" Protes Milla lantaran El malah tidak ada di sana.


"haha, tenang saja Milla, kamu bisa ketemu sama dia lain kali. Dia tidak akan pergi kemana-mana lagi. Paman jamin itu," Jawab Bachsmid sembari meminum minuman yang ada di atas meja.


Deka yang duduknya di sebelah Leo menoleh ke arah bawahan itu. Dia hanya menatapnya tanpa berkata-kata, dan Leo yang melihat itu menggeleng. Hal itu terlihat seperti Deka menanyakan sesuatu dan dijawab tidak oleh Leo.


"Sebelum membahas tentang hal lain, bukannya kamu harusnya cerita tentang sesuatu, Milla?" Kali ini Eny angkat suara. Dia sudah tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya tentang apa yang terjadi di sini.


Pagi ini dia dan suaminya datang ke mansion Milla untuk berkunjung. Namun bukannya bertemu dengan Milla, mereka malah bertemu dengan orang-orang tak di kenal di dalam mansion itu. untungnya anak buah Deka sudah bersiaga di sana, jadi Bachsmid dan Eny tidak terjebak oleh orang-orang yang menyerang Milla tempo. Dengan adanya kejadian seperti itu, tentunya membuat Eny sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Bachsmid mengangguk setuju dengan pertanyaan istrinya. Dia juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Milla.

__ADS_1


"Em, itu,,,,," Milla mulai menceritakan tentang penyerangan malam itu pada Bachsmid dan Eny. Dilanjutkan dengan ceritanya yang bertemu dengan Agatha hingga saat ini mereka bisaada di sana.


__ADS_2