
Dalam kediaman Bachsmid.
"Hahaha, kakak udah, lain kali jangan jail lagi. Kasihan anak kecil itu sampe nangis." Ucap Milla saat dia hendak duduk di sofa ruang tamu. Tadi saat mereka singgah sebentar di salah satu mall, El sempat nge-prank anak kecil. Dia berpura-pura menjadi penjual anak kecil.
"Ya, sekali-kali gak masalah kali, Tha. Lagian dia duluan yang sok kenal sama aku." El menggandeng tangan Milla menuju kamarnya.
"Iya in aja, deh." Milla mengalah. Dia tidak akan menang jika berdebat dengan El.
"Tha, besok-besok kita jalan lagi mau?" El mencoba memulai semuanya dari awal lagi. Dia tahu Milla sudah menikah. Tapi pernikahan itu hanya sebatas formalitas saja. Dia yakin tidak ada cinta anatara Milla dan Deka. Jadi dia merasa punya kesempatan sekarang.
"Em, boleh sih. Tapi aku izin ke Deka dulu ya."
Jelas wajah El langsung tak senang. Setiap kali mendengar Milla mengucapkan nama Deka selalu membuat dia kesal dan tak suka.
__ADS_1
"Yah, gak seru. Kan yang jalan-jalan kamu, bukan dia. Masa' sih harus izin dulu. Lagian dia pasti bolehin, kok. Kita kan jalan-jalan doang. Gak ngapa-ngapain." El mencoba memancing Milla agar langsung menerima tawarannya. Ini memang salah satu tipu muslihat El. Dia berencana mendekati Milla kembali dan membawa wanita itu pergi dari sisi Deka.
"Hhhmm,,, yaudah nanti aku pikirin lagi, kak. Semuanya tergantung kakak ngajaknya kemana," Balas Milla yang cukup setuju dengan perkataan El. Dia rasa benar juga kata El, untuk apa izin-izin segala. Mereka kan bukan suami istri pada umumnya.
El langsung merasa menang. Dia yakin usahanya ini pasti akan berjalan mulus. Deka bukanlah lawan yang sepadan untuknya.
"Yeah, benar begitu seharusnya, Milla. Pria itu hanya orang asing. Dibandingkan aku yang terpelajar dengan dia yang hanya bermodalkan ucapan, tentunya kamu harus milih aku. Tentunya aku akan memperlakukan kamu sebaik mungkin." Batin El kegirangan mendapati rencana dan usahanya mungkin akan berhasil.
Setelah menaiki anak tangga, akhirnya keduanya sampai di depan kamar Milla.
"Kamu yakin gak perlu aku bantuin?" El tadi sempat mengajukan pertolongan kepada Milla agar membantunya untuk tidur. Memang sebagian besar itu modus, tapi dia juga khawatir Milla akan kesusahan di dalam kamar. Apalagi Milla baru semalan saja di kamar itu.
"Iya, kak. Gak usah. Aku kan ada ini." Milla mengangkat tongkat yang tadi sempat mereka beli di mall.
__ADS_1
"Yaudah deh kalo itu mau kamu. Tapi kalo kamu mau turun atau laper, bisa panggil kakaknya. Cukup teriakin nama kakak aja, nanti biar kakak bantu." Kamar El dan Milla memang tidak begitu jauh, jadi cukup jika Milla memanggilnya seharusnya Langsung terdengar ke dalam kamarnya.
"Oke, kak. Aku masuk duluan ya." Milla masuk ke dalam kamarnya. Dan El pergi masuk juga ke dalam kamarnya sendiri.
Di dalam kamar, Milla berjalan pelan menggunakan tongkat sebagai alat untuk penunjuk arahnya. Dia berjalan menuju kasur. Rasanya cukup letih hari ini. Jadi, dia memutuskan untuk tidur sebentar. Tak lama, dia berhasil menemukan kasur dan langsung tiduran di atas kasur empuk itu.
"Ah, nyaman sekali." Gumam Milla menghadap ke langit-langit kamarnya. "Sudah lama sekali aku gak jalan-jalan ke mall seperti tadi. Rasanya menyenangkan sekali."
Milla tersenyum mengingat kenangan masa lalunya yang sering menghabisakan waktunya di mall entah itu untuk shopping atau sekadar nongkrong dengan teman-temannya.
"Ah, kenapa aku jadi cengeng sekali sih." Umpat Milla lantaran tiba-tiba saja air matanya mengalir. "sial, untuk apa aku menangisi mereka."
Mereka yang Milla maksud adalah teman-temannya dulu. Sebelum Milla buta, Milla punya banyak teman yang bisa dia ajak untuk nongkrong bahkan sekedar shoping. Tapi saat kabar kecelakaan dan kematian kedua orang tuanya menyebar luas, mereka yang Milla anggap teman malah menghilang satu persatu tanpa jejak.
__ADS_1
"Lihat saja kalian semua. Aku pasti akan bangkit dan akan aku balas semua perbuatan kalian!" tekad Milla sebelum akhirnya dia terlelap ke alam mimpi.