Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
104. Menantu


__ADS_3

Duar, suara petir mengelegar di langit. Awan yang tadinya putih perlahan menghitam. Nampaknya akan terjadi hujan beberapa saat lagi.


Deka yang daritadi duduk disamping hanya terdiam. Sebenarnya ada perasaan tidak tega dari lubuk hati Deka melihat Milla menangis tersedu-sedu seperti ini. Tapi menurutnya cara terbaik mencerakan pikiran adalah berkomunikasi dengan orang yang di percaya. Sebab Deka selalu seperti itu.


"Tuan Eleanor dan nona anin, ah, harusnya aku memangil kalian ayah dan mama, perkenalkan nama saya Deka. Saya adalah suami anak anda. Kami menikah sekitar 2 bulan yang lalu." Tukas Deka setelah Milla berhenti berbicara.


"Ayah, Mama, Milla kini bersamaku. Aku berjanji akan menjaganya sebaik mungkin. Walaupun Milla tidak sempurna dan punya banyak kekurangan, bagiku dia tetap orang baik. Kalian berdua telah berhasil mendidik Milla sejauh ini." Jujur Deka di depan makam kedua orang tua Milla.


Setelahnya Deka menuangkan bunga-bunga ke atas makam kedua orag tua Milla.


"Bisa aku ikut menaburkan bunganya?" Tanya Milla saat dia mencium bau bunga di dekatnya.


Deka tersenyum. Wajah Milla sehabis menangis terlihat lucu di matanya. Mata Sembab dan hidung yang kemerahan adalah faktornya.


"Tentu," Deka menghapus air mata yang sesekali jatuh di wajah Milla. Lalu Deka mengarahkan tangan Milla untuk mengambil bunga kemudian di sebarnya di atas makam ayah dan ibunya. Hingga tak terasa bunga yang tadi Mereka beli di jalan sudah habis.


Langit juga terlihat semakin menghitam nampaknya sebentar lagi akan turun hujan.

__ADS_1


"Sudah habis," Ucap Deka memberitahu Milla kalau bunganya sudah habis. "Kayaknya juga mau hujan, Milla."


Milla mengangguk.


"Ma, Yah, makasih udah mau dengerin Milla ya. Milla pamit dulu. Nanti Milla usahain buat sering-sering ke sini. Mama sama ayah yang akur ya di sana. Milla balik dulu,"


Deka membantu Milla untuk berdiri dan segera berjalan menjauh dari sana. Tapi baru beberapa langkah berjalan, rintik hujan mulai turun. Rintik yang turun dengan cepatnya berubah menjadi hujan deras. Deka yang takut Milla terpeleset langsung menggendong wanita itu ala bridal style.


"Aa,," Kaget Milla saat tubuhnya tiba-tiba diangkat.


Deka membawa Milla berlari ke sebuah gazebo terdekat. Akhirnya keduanya berhasil selamat meski terlanjur basah.


"Huhft, kita kejebak hujan." Terang Deka tak habis pikir tiba-tiba saja hujannya deras.


"Hhmm, bajuku basah semua." Milla merasakan seluruh tubuhnya basah tanpa terkecuali. Untungnya Deka tadi menyuruhnya memakai kemeja yang cukup tebal dan celana panjang yang sama tebalnya, jadi tubuh Milla tidak tembus pandang saat terkena air.


"Sama, hujan derasnya tiba-tiba muncul." Pekik Deka karena hujannya nampak semakin kencang. Sementara itu, dari kejauhan Deka melihat segerombolan pria berpayung berjalan menghampirinya. Deka yang sadar akan hal itu langsung melotot dan mengibas-ngibaskan tangannya.

__ADS_1


"Aih, kenapa semuanya refleknya bagus banget. Hujan deras dadakan gini, langsung sigap bawain payung. Woy, pergilah. Kali ini aku gak butuh bantuan kalian." Batin Deka sembari terus mengibaskan tangannya untuk mengusir bawahannya yang mendekat.


Untungnya bawahan paling depan, sadar akan kode Deka. Mereka langsung berbalik arah meninggalkan Deka dan Milla di sana.


"Ada apa, Deka? Kok, aku kayak denger suara langkah kaki mendekat barusan." Selidik Milla ragu-ragu. Derasnya hujan membuat pendengarannya jadi tidak bisa fokus.


"Eh, gak ada apa-apa, kok, Milla. Hujannya deras aja. Jadi kamu ngira ada orang jalan ke sini." Deka mencoba menyakini Milla agar tidak curiga.


Milla mengangguk. Dia percaya saja pada Deka.


Sebenarnya Deka tak punya alasan khusus atau motif lain saat menyuruh anak buahnya tidak membantunya. Dia hanya berpikir untuk menikmati momen ini berdua saja dengan Milla. Itu saja.


"Kamu kedinginan?" Tanya Deka basa basi.


Milla mengangguk. Selain hujan deras, ada angin kencang yang menerjang mereka. Jadi, wajar saja jika Milla kedinginan.


"Aku gak bawa payung. Anak buahku sepertinya juga begitu." Sambung Deka tak beralasan. Entah kenapa fellingnya mengatakan perlu melakukan hal ini siang ini.

__ADS_1


Milla nampak berpikir.


"Aha, gimana kalo kita terjang saja! Ayo, kita sudah terlanjur basah ini," Milla menarik tangan Deka. Keduanya berjalan santai ditengah derasnya hujan.


__ADS_2