Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
117. Kucing nakal


__ADS_3

Deka menghiraukan pandangan semua orang yang memandanginya. Suara cempreng Milla saat memberontak tentunya membuat perhatian seisi bar tertuju pada mereka berdua. Tapi itu semua bukan masalah. Anak buah dengan sangat gampang mengurusi hal ini.


Di lantai dua, terlihat masih ada beberapa orang di sana. Beberapa orang berkaos hitam terlihat sedang mencoba membuat pelanggan yang sudah ada di sana untuk turun. Terlihat juga manajer yang tadi sempat berbicara dengan Deka di sana tengah mengarahkan pelanggan lainnya untuk pindah ke tempat lain. Deka tak mengubris hal itu. Suara cempreng berontakan Milla adalah satu-satunya yang dapat ia dengar.


“Turunkan aku! Kubilang turunkan!” Bentak Milla tak memperdulikan pandangan orang lain terhadapnya. Dia terus memukul-muluk dada Deka. Tapi karena badan Deka lebih banyak terdiri dari otot, pukulan Milla tak begitu terasa bagi Deka.


Lantai yang Deka datangi itu ternyata di isi oleh satu sofa memanjang dari ujung ke ujung. Di depan sofa, terdapat meja yang dibagi menjadi dua. Deka memilih duduk di bagian tengah tepat celah antar meja itu berada.


“Dasar pria tak tah-Hmphh,,”


Deka langsung membungkam mulut Milla dengan ciuman sembari membawa Milla duduk di atas pangkuannya. Ciuman itu berakhir singkat saja. Namun mampu membuat Milla terdiam seribu bahasa.


“Kau!” Deka memanggil siapa saja yang ada di sekitar sana.


Seorang pria menghampiri Deka ternyata itu adalah manajer yang tadi ikut membantu menurunkan semua pelanggan yang sudah terlanjur ada di lantai dua.


“Iya, tuan?” Tanya pria itu di hadapan Deka.

__ADS_1


“Jangan biarkan siapa pun naik kemari. Lalu, jangan biarkan kejadian barusan menyebar kemanapun. Paham?” Ucap deka membungkam pria dihadapannya.


Pria itu mengangguk dalam ketakutan.


“Tak usah terlalu dipikirkan. Sebentar lagi, akan ada beberapa orangku yang kemari. Dia akan membantumu.”


“Baik, tuan. Terimakasih.”


“Oh, satu lagi, bawakan aku alkohol paling kuat di bar ini. Aku mau kau kembali dalam sepuluh detik.” Titah Deka untuk kesekian kalinya.


Sontak pria itu terkejut.


“Satu, sebaiknya kau cepat. Atau mungkin kamu ingin tahu aku lebih jauh?!”


Tanpa hitungan kedua, pria itu langsung berlari ke bawah. Mencoba mengambil alkohol yang Deka mau. Sepeninggalan pria itu, Milla masih menutup mulutnya.


“Apa kamu tidak mau bicara? Atau perlu kucium lagi?” Ancam Deka menatap wajah Milla intens. Lampu remang-remang dari bar itu membuat insting laki-laki aktif lebih cepat saat melihat Milla.

__ADS_1


“Tu-turunkan aku!” Milla memberontak untuk turun dari pangkuan Deka. Tapi tentunya Deka tak mengizinkan hal itu. Tenaga Milla kalah jauh dari Deka. Jadi usahanya sia-sia saja.


“Hei, itu bukan kalimat yang ku mau. Bukannya kamu seharusnya menjelaskan semuanya?” Deka mengencangkan tangannya yang memegangi pinggang Milla agar tidak turun dari pangkuannya.


“Huf, huf, tu-tu,tuan, ini, huf.” Pria tadi sudah kembali dengan satu botol minuman di tangannya. Pria itu berjalan terengah-engah ke hadapan Deka.


“Bagus, kemarikan.”


Deka menjulurkan tangan kanannya hendak mengambil botol yang diberikan oleh pria itu. Milla yang merasa ada kesempatan langsung mencoba untuk kabur dari cengkraman Deka. Tapi hasilnya nihil. Tangan kanan Deka kembali merangkul Milla dengan cepat menahannya untuk kabur.


“Letakkan itu di meja. Lalu, kau boleh pergi. Ingat jangan biarkan satu orang naik kemari termasuk dirimu sendiri.”


Tanpa banyak basa-basi pria itu langsung meninggalkan Deka dan Milla di sana. Dia tak mau mengalami masalah yang lebih dari ini.


“Kamu mau kemana? Mencari om-om genit?” Tanya Deka yang sudah tersulut emosi.


Plak, satu tamparan langsung melesat tepat dipipi kanan Deka.

__ADS_1


“Jaga ucapanmu!” bentak Milla melayangkan satu tamparan keras pada Deka.


__ADS_2