Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
64. tempat yang aman


__ADS_3

Di dalam mobil yang sedang melaju cepat, Deka mengambil sebuah kotak P3K. Pria itu mencoba membersihkan darah kereing yang ada di sekitar hidung Milla.


"Em." Decih Milla pelan saat air alkohol yang Deka usap mengenai kulitnya.


"Milla. Milla, bisa dengar aku?" Panggil Deka berharap Milla menjawabnya. Deka melanjutkan aktivitasnya untuk mengusap luka di wajah Milla.


Hal itu membuat Milla meringis kesakitan beberapa kali. Bahkan samai membuat Milla mulai mengerjapkan kedua matanya.


"Dek, Deka?" Ucap Milla saat pertama kali membuka matanya. Milla memang buta, namun yang rusak adalah bagian korneanya karena kecelakan itu. Jadi mata Milla masih utuh meski fungsinya tidak mampu bekerja sebagaimana mestinya.


"Ya, Milla. Ini aku, Deka. Semua sudah aman." Balas Deka sambil menatap wajah Milla sendu.


Hati Deka benar-benar retak melihat kondisi wanita di depannya. Sudah diberi cobaan mengalami kebutaan, wanita itu kini masih harus ditimpa musibah yang mengancam nyawanya. Meski sudah banyak kali melihat kondisi sekarat seseorang, baru kali ini hati Deka tergerak. Hanya karena melihat kondisi Milla yang seperti itu.


Mendengar balasan Deka membuat Milla tak sanggup menahan air matanya. Seketika itu juga Milla menagis tak peduli jika ada orang lain di sana. Tangis yang rasanya harus ia keluarkan saat ini juga.

__ADS_1


"Te, terima kasih, Deka. Ka-kamu menolongku lagi, hiks,,," Ungkap Milla dalam lubuk hati terdalam. Besar sekali rasa terimakasih yang ia ingin ungkapkan pada pria yang telah menolongnya berkali-kali itu.


"Jik\=jika saja aku mendengarkanmu, Jika saja aku berpikir. Jik-"


Deka langsung membawa Milla ke dalam pelukannya. Lirih hatinya saat mendengar wanita itu menyalahkan dirinya sendiri.


"Hust, kau tidak salah. Kau tidak berhak atas itu." terang Deka saat Milla ada dalam pelukannya. Hal itu malah membuat tangis Milla semakin menjadi-jadi.


"Haaaa,,,,,, aaaaa maaf." Milla larut dalam tangis di pelukan Deka. Dia melepaskan semua air matanya pada pria itu.


Perlahan tangis Milla nampak mereda. Wanita itu tidak terdengar mengeluarkan suara lagi. Nampaknya pelukan hangat itu berhasil menenangkan Milla.


Sementara itu, Deka menoleh ke arah bawahannya yang sedang membawa mobil. Dia merasa kalau mobil yang di naiki itu sudah berhenti. Seperti sudah mengenal Deka sangat dalam, bawahan Deka hanya mengangguk saat melihat mata Deka menatapnya. Bawahannya itu langsung keluar dan bersiap di luar untuk membukakan pintu mobil untuk Deka.


"Milla, kita sudah aman sekarang. Mari beristirahat dulu. Tubuhmu harus dirawat." Ucap Deka bertepatan dengan pintu mobil yang dibukakan oleh bawahan Deka.

__ADS_1


"hiks, hiks," Milla mengankat wajahnya dari pelukan Deka.


"Tu-tubuhku lemas sekali, aku tak sanggup mengerakkan tangan dan kakiiku." Ucap Milla pada Deka. Pria itu langsung keluar dari pintu sebaliknya dan berlari ke arah pintu dekat Milla.


Deka langsung mengendong Milla ala bridal style keluar dari mobil.


"De,,deka!!" Kaget Milla yang tiba-tiba saja tubuhnya terangkat.


"Tenanglah ini aku," Balas Deka dengan tenang.


"Buk-bukan begitu maksudku. Em, aku takut orang lain melihat kita seperti ini."


"Oh, itu. Tenanglah. Hanya ada kita berdua di sini."


Tentu itu adalah kebohongan, saat Deka berkata hanya berdua, faktanya terdapat puluhan anak buah Deka berjejer mengantarkan di sisi jalan mengamankan jalan masuk keduanya.

__ADS_1


__ADS_2