Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
9. Hari-H


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 7.30. Deka sudah rapih dengan setelan tuxedo putih yang menempel pada tubuh kekarnya. Sebuah dasi kupu-kupu tak lupa ia kaitkan pada kerah lehernya agar dapat tampil maksimal di pernikahannya nanti. Ia melihat pantulan dirinya pada sebuah cermin besar yang ada pada kamar hotel miliknya.


Sempurna adalah kata yang tepat untuk menggambarkan penampilannya saat ini. Setelah memotong rambut panjangnya beberapa hari yang lalu, ia nampak lebih rapih dari sebelumnya. Tak lupa pula ia mencukur habis brewok yang sudah beberapa tahun ini menjadi aksesoris di wajahnya. Dan kini ia sudah sangat siap untuk menghadiri acara pernikahannya.


Seorang pelayan akhirnya mengetuk pintu kamarnya dari luar.


"Maaf mengganggu, tuan. Apakah sudah siap?" Tanya si pelayan masih di depan kamar Deka.


"Ya, aku sudah siap. Aku akan keluar sekarang," Jawab Deka seraya mengambil jas putih yang ia letakkan di atas kasur dan keluar dari kamar hotelnya. "Apakah mempelai wanitanya sudah siap?"

__ADS_1


"Ya, tuan." Jawab si pelayan dengan sopan seraya mengarahkan Deka ke tempat ia akan bertemu dengan mempelai wanitanya. "Tuan tunggu sebentar di sini. Akan saya panggilkan mempelai wanitanya untuk turun."


Deka menuruti perkataan si pelayan dengan diam di sana. Jujur selama masa hidupnya ini adalah momen langka yang ia alami. Pertama karena menikahi gadis yang tak kenal. Dan yang kedua adalah perasaan gugup yang luar biasa ia rasakan sejak tadi pagi. Meski hanya pernikahan di atas kertas atau pernikahan politik perusahaan, dirinya tak bisa memungkiri bahwa ia akan menikah dan harus bertanggung jawab terhadapa wanitanya kelak. Soal perasaan gugup ia pun tak tahu kenapa ia bisa segugup ini.


Kebisingan dari dalam ruangan pernikahannya pun dapat ia rasakan. Dia sadar pernikahan ini hanya formalitas sebagai penebusan hutang dirinya. Tapi ia tak menyangka kalau pamannya akan mengadakan pernikahan semegah ini. Dan tak lama, mempelai wanitanya akhir turun menghampiri Deka.


Balutan dress pernikahan warna putih yang menempel pada tubuhnya menambahkan kesan elegan pada wanita itu. Langkah kaki yang perlahan turun menghampirinya membuat detak jantung Deka semakin kencang tak karuan. Semakin dekat dirinya dengan wanita itu, semakin nampak jelas wajah cantik dengan make up tipis yang dapat membuat siapapun yang melihat akan terpukau, termasuk Deka.


"Tuan, ini nona Milla." Si pelayan yang entah sejak kapan ada di samping Deka menyadarkan Deka dari lamunannya menatap Milla.

__ADS_1


"Kamu Deka?" Tanya Milla tanpa menoleh sedikit pun ke arah Deka. Namun hanya dengan suaranya saja mampu membuat bulu kuduk Deka merinding saking halusnya intonasi wanita itu. Apalagi ketika wanita itu menyebut namanya, rasanya Deka bisa langsung menggila saat itu juga.


"I,iya aku Deka." Dengan terbata-baga Deka menjawab pertanyaan Milla. Baru hendak mengajak Milla untuk masuk ke dalam ruangan pernikahan, Deka dibuat keheranan dengan tingkah Milla yang mencoba meraba-raba sesuatu di dekatnya. Di tambah dengan pandangan Milla yang hanya memandang lurus bukan ke arahnya.


Sampai pada satu detik kemudian Deka mencoba memastikan persepsinya. Ia melambaikan tangan di depan wajah Milla. Dan ternyata dugaannya benar. Milla sama sekali tidak terpengaruh dengan tindakan Deka yang artinya Milla memang buta.


"Deka? Kamu ke mana?" Panik Milla karena tidak menemukan Deka dengan tangannya. Deka yang baru sadar akan hal itu langsung menarik tangan Milla agar tetap tenang.


"Aku di sini." Ucap Deka dengan perasaan iba karena ternyata cacat yang selalu di omongkan oleh kakak sepupunya maupun orang lain adalah ketidak berdayaan Milla untuk melihat seperti orang normal lainnya.

__ADS_1


__ADS_2