Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
89. Pedagang informasi


__ADS_3

"Ah, itu mudah. Biar aku cek dulu,"-Pedagang informasi.


Semuanya kembali hening menunggu pedagang informasi.


"Ketemu. Biar aku bacakan,"-Pedagang informasi.


Pedagang informasi itu menerangkan ada tiga tim yang melakukan pekerjaan mereka dalam kurun waktu Minggu inl.


"Jika tuan bertanya untuk hari itu, aku butuh waktu untuk bisa mencarinya. Tapi tentunya tarifnya juga naik. Yah, bukannya mau bersikap tidak sopan, tapi berurusan dengan data pembunuh bayaran bukanlah hal yang mudah."-Pedagang informasi.


"Tidak perlu. Informasimu barusan sudah sangat membantu." Deka mengisyaratkan pada Charris untuk menyudahi percakapan. sementara Charris melakukan transaksi pembayaran bersama pedagang informasi, Milla yang dari tadi menyimak menarik lengan baju Deka.


Sontak Deka menoleh ke arah Milla.


"Apa ini tidak apa-apa?" Tanya Milla memastikan. Nampaknya saat mendengar kata pembunuh bayaran membuat Milla sedikit ketakukan.


Deka tersenyum. Di cubitnya pipi Milla pelan.


"Tenang, selama ada aku di sini. Semuanya aman terkendali."


Di depan mereka, El hanya bisa menggerutu melihat kedekatan Milla dan Deka.


"Lalu apa, Deka?" Tanya Bachsmid saat melihat Charris sudah selesai dengan ponselnya.


"Mudah saja. Sebenarnya tidak masalah pembunuh bayaran mana yang menyerang Milla waktu itu. Sebab yang terpenting adalah siapa orang yang membayar mereka." Terang Deka meyakinkan semuanya.


"Ah, jangan-jangan, si bajingan itu!" Tiba-tiba Bachsmid teringat seseorang yang mungkin bisa menyewa pembunuh bayaran sekaligus musuh dari Milla.


"Siapa maksud kamu, sayang?" Tanya balik Eny tak paham siapa yang diumpati oleh suaminya.

__ADS_1


"Agatha. Siapa lagi orang berkuasa dan musuh Eleanor yang berani melakukan hal ini selain dia."


Bachsmid sangat yakin dengan persepsinya.


"Tapi bukannya dia sudah berdamai pada keluarga Milla? Lihat saja saat pemakaman kakak, dia datang ke pemakaman itu." Sanggah Eny tak percaya. Meski Agatha bukan orang baik, tapi Eny merasa Agatha tidak akan sanggup melakukan hal semacam ini.


"Anu, sebenarnya,,,," Milla ragu-ragu ingin bercerita. Tapi tangan Deka menyentuh punggung tangannya pelan. Seolah memberikan kekuatan pada Milla agar tidak ragu.


"Kenapa Milla?" Tanya Eny.


"Itu,,,, tentang Agatha,,,,"


Milla kembali menceritakan semua yang terjadi padanya dan Agatha. Meski dia tidak menceritakan semuanya terutama tentang malam pertamanya dengan Deka.


"Huuhhhahaaa,,,,,,Milla keponakan, tante,,," Eny langsung memeluk Milla selesai wanita itu bercerita. Tangis Eny sejadi-jadinya. Dia merasa gagal mengemban janjinya dengan almarhum ayah Milla. "Ma-ma,,,maafkan tante. Maafff,,,"


Bachsmid ikut memeluk Milla. Tanpa terasa percakapan mereka terhenti karena suasana sedih dari cerita Milla. Sementara itu, El bukannya sedih, dia malah nampak marah. Kedua tangannya mengepal kencang.


"Bajing*n! Berani sekali mereka menyentuh, Milla!" Umpat El dalam hati. Pria itu mencoba menekan amarahnya sebisa mungkin. Bukan saatnya memaki-maki. Sekarang dia harus tenang. Ada Milla yang perlu dia perhatikan. Amarah berlebihan tidak ada gunanya.


"Paman, tante," Milla perlahan melepaskan pelukan dua orang itu. Dia tak mau ada orang lain yang menangis karenanya. "Lihat aku, semuanya sudah baik-baik saja."


Milla memegang tangan tantenya. Mencoba menguatkan pemilik tangan tersebut agar tidak terus menangis. Eny yang melihat itu tersenyum. Benar kata Milla, bukan saatnya untuk bersedih sekarang.


Eny menghapus air mata yang masih tersisam


"Kamu benar-benar gadis yang kuat seperti ibumu." Puji Eny memberikan satu pelukan lagi untuk Milla. Bachsmid tak banyak kometar. Dia juga ikut bersedih tentunya, tapi melihat Milla mampu untuk tabah membuat dia malu jika terus bersedih.


"Charris, siapkan semuanya. Kita akan gugat si Agatha itu." Ungkap Bachsmid pada Charris. Bawahannya itu langsung mengangguk. Sudah kewajibannya menjalankan perintah. Setelahnya mereka berdiskusi sebentar tentang cara menggugat Agatha. Deka yang dari tadi menyaksikan semuanya diam tak menanggapi. Dia sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu tapi dia ragu-ragu.

__ADS_1


Berbeda dengan Deka, El malah sangat antusias dalam diskusi membahas gugatan Agatha. Dia banyak memberikan saran dan cara agar bisa membawa Agatha ke dalam jeruji besi. Bagaimana pun juga, El adalah seorang terpelajar. Sekitar delapan tahun dia gunakan untuk belajar di luar negeri. Jadi tak anyal jika merasa lebih baik daripada Deka.


"Sayang, lebih baik kalian pulang dulu. Masalah Agatha kita bicarakan lagi nanti di rumah." Bachsmid meminta agar Eny, Milla, Deka dan El untuk pulang dulu. Mereka sudah mencapai kesepakatan langkah mereka selanjutnya. jadi, sudah saat untuk yang lain pulang. Bachsmid masih punya pekerjaan lain yang harus dikerjakan.


"Hhhmm, oke, sayang. Sampai jumpa lagi nanti malam." Balas Eny tak memberikan cipika-cipiki pada suaminya sebagai salam perpisahan. "Milla, ayo kita balik. Tapi, kamu ikut tante sebentar ya."


"Mau kemana tante?" Eny mengenggam tangan kanan Milla. Dia menuntun Milla berjalan keluar dari sana diikuti oleh El.


"Tante mau ke butik sebentar."


Ketiganya berjalan keluar. Meninggalkan Bachsmid, Charris, dan Deka di sana. Ya, Deka tidak ikut keluar dari sana.


"Loh, kamu tidak ikut?" tanya Bachsmid yang sadar Deka tetap diam di sana.


"Tidak, ada hal yang perlu kita bicarakan." Jawab Deka dengan tatapan serius.


Dari kejauhan, Milla yang mendengar jawaban Deka itu langsung menghentikan langkahnya.


"Kenapa, Milla?" Eny yang tidak mendengar jawaban Deka merasa heran. Dia daritadi sibuk mengoceh dengan El jadi tidak begitu mendengarkan Deka suara Deka. Jarak mereka juga cukup jauh, jadi sulit mendengarnya. Tapi berbeda dengan Milla yang beberapa bulan belakangan ini selalu mengandalkan pendengaranya, dia bisa mendengar jelas jawaban Deka barusan.


"Deka? Kamu gak ikut?" Milla meninggikan suaranya agar Deka dapat mendengarnya. Dia tidak sadar kalau dari tadi Deka ternyata diam di tempat tidak ikut dengan mereka.


Eny langsung mengangguk dan menoleh ke belakang.


"Kamu duluan saja, Milla. Aku ada perlu sebentar dengan pamanmu." Balas Deka.


"Ada perlu apa?" Milla ikut menoleh ke belakang meski dia tidak tahu di arah mana Deka berada.


"Ah, bukan sesuatu yang penting. Hanya ingin berbincang sesama pria saja." jelas Deka enggan membeberkan maksud pada Milla.

__ADS_1


__ADS_2