Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
119. kejujuran


__ADS_3

Hanya dari sikap Milla saja Deka sudah menebak jawabannya.


“Sekarang, aku mau kamu cerita semuanya secara jujur. Kenapa kamu bisa ada di sini.” Pinta Milla membiarkan Milla memeluknya manja. Sesekali Deka mengusap dan menciumi ujung kepala Milla.


Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Milla langsung menceritakan alasan dia kemari karena dia bosan. Dia tidak mengatakan alasan lainnya yang dikarenakan dia kesal terhadap Deka lantaran malah melepaskannya di saat dia sudah memberikan kesempatan. Dia juga menceritakan kalau Maya tidak bersalah sama sekali disini. Wanita itu hanya sedang menjalankan kemauan Milla.


“Hhmm, apa ceritamu bisa kupercaya?” Tanya Deka menarik kepala Milla untuk menjauh agar dapat melihat wajah cantik itu lebih jelas.


Milla langsung mengangguk sebagai jawaban. Dia kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Deka setelah mengangguk. Pikiran Milla yang semakin tak jernih membuat wanita itu tiba-tiba mendapatkan sebuah ide yang menarik.


“Kamu sendiri ngapain kemari? Wanita mana kali ini yang akan kamu ajak bermain, hah?!” Tanya Milla ketus. Milla terkesan sangat emosi.


“eh, apa maksudmu? Aku main sama wanita mana?” Deka tak paham maksud Milla. Daritadi dia berada di kantor bersama Leo. Mana ada wanita di sana.


“Jangan berbohong. Kamu pasti berencana mencari wanita di sini bukan?” Racau Milla memukul dada Deka beberapa kali. Karena sudah sangat kelelahan, Milla hanya dapat memukul Milla pelan.


Deka dibuat semakin heran.Dia bahkan baru pertama kali ke tempat ini.

__ADS_1


“Kalau kau diam, berarti aku benar, kamu memang lelaki baj-“


“Husss, huss, dari siapa kamu mendengar hal itu?” Potong Deka menahan tangan Milla.


“dari Maya, dia bilang kamu ada meeting malam ini di tempat ini.”


Deka terkekeh mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau istrinya ternyata begitu polos. Dan dia juga terlalu terbawa suasana sampai bisa emosi seperti tadi.


“Terus, apalagi yang dikatakannya.” Deka mencium puggung tangan Milla. Deka melihat di jari Milla masih tersemat cincin pernikahan mereka berdua.


“Oh ya? Apa itu pendapatmu?”


“Tentu saja. Kamu pikir aku bodoh?! Mungkin bisa saja kamu melakukan ini setiap malam. Bukannya itu juga alasan kenapa kamu selalu pulang tengah malam. Kamu tahu, kalau aku tidak bisa memuaskanmu di ranjang.”


Deka sungguh terhibur dengan perkataan Milla. Wanita itu memang terdengar seperti orang yang tengah kesal. Tapi di mata Deka, Milla terlihat begitu menggemaskan. Dia tidak tahu kalau selama ini wanita itu memikirkannya. Bodohnya dia sampai tak memikirkan hal itu.


Setelah mendengar semuanya langsung dari Milla, Deka membuat satu kesimoulan. Walau dia merasa tak pantas berada di samping Milla. Setidaknya dia harus bisa membahagiakan wanita itu.

__ADS_1


“Ada lagi yang mau kamu sampaikan?” Tanya Deka mencoba menjaga hati Milla. Deka merasa bersalah saat tadi sempat memberikan kesan yang tidak baik kepada Milla.


Milla menggeleng sebagai jawaban.


“Maafkan aku. Aku terlalu sibuk mengurusi perusahaan sampai lupa memperhatikanmu.” Ucap Deka tulus.


“Si-sia,,siapa juga yang butuh perhatianmu.” Balas Milla malu-malu.


Meski berkata seperti itu, Deka yakin hati Milla berkata lain.


“Oh ya? Kamu yakin? Mungkin jika kamu bilang butuh, malam ini aku akan memberikan perhatian khusus.”


Wajah Milla langsung merah padam mendengarnya. Sepertinya dia paham ke arah mana percakapan yang Deka maksud. Deka kemudian berdiri dan tetap membopong Milla dalam gendongannya.


“Ma-mau kemana?” Tanya Milla dengan spontan mengalungkan kedua tangannya ke leher deka agar tidak jatuh.


“Kurasa kita ada meeting berdua malam ini.” Ucap Deka tepat di telinga Milla lembut. Seakan tengah menggoda Milla.

__ADS_1


__ADS_2