Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
83. Berbagi asbak


__ADS_3

Deka terbelalak mata mendengar permintaan Milla barusan. Dia yang berdiri di belakang Milla sedang mencoba mencerna kalimat Milla.


"Hei, hei, kau tidak serius minta rokok, kan?" Batin Deka ragu-ragu. Dia bersikap seperti itu karena dia menilai Milla adalah bukan wanita perokok. Deka percaya wanita itu tidak pernah terlibat dalam hal seperti ini. Mustahil penilaiannya salah.


"Kenapa diam? Kamu masih di sini kan?" Tanya Milla kembali ketika tidak mendengar jawaban dari Deka.


"Ah, iya, aku di sini." Deka berjalan mendekati Milla dan berdiri di sebelah Milla menatap ke arah luar balkon. Di luar balkon yang Deka lihat hanya halaman luas terawat milik keluarga Bachsmid sejauh matanya memandang.


"Kamu pasti binggung. Jujur, aku pun juga sama. Tapi jika ada di saat seperti ini, ayahku pasti akan keluar sebentar Lalu membakar rokoknya." Milla menceritakan satu kenangan yang selalu ia kenang tentang ayahnya. Ayahnya pernah cerita bahwa dia merupakan seorang perokok aktif. Baginya rokok adalah sarapan, makan siang, dan makan malam. Penting untuk hidupnya. Dan saat inilah Milla tiba-tiba saja ingin mencoba mengikuti ayahnya.


Jujur saja, Deka ingin menolak permintaan Milla itu. Tapi karena dia tahu apa yang di alami Milla saat ini, dia malah jadi ingin memberikannya pada Milla.


Setelah beberapa pertimbangan, Deka menyerahkan satu batang ke tangan Milla. Merasakan tangannya diberikan rokok, Milla tersenyum. Dulu dia tak begitu suka dengan benda di tangannya ini. Baginya benda itu adalah racun, tak baik untuk tubuh. Tapi entah kenapa saat ini, dia merasa benda ditangannya ini seperti sebuah solusi.


"Apakah seperti ini cara memegangnya?" Tanya Milla memeragakan tangannya sesuai dengan ingatannya saat ayahnya menghirup benda itu.


"Kurang lebih seperti itu. Aku nyalakan, ya?" Deka mengambil korek dari sakunya.

__ADS_1


Milla mengangguk sebagai jawaban.


Saat asap sudah mengepul dan tercium di hidung Milla, wanita itu langsung menghisap putung rokok di tangannya.


"Hftt, uhuk, uhuk.,," Milla langsung terbatuk setelah sekali menghisap. "Akh, ini buruk sekali."


Deka dengan sigap menepuk-nepuk punggung Milla dan mengambil putung rokok dari tangan Milla.


"Seharusnya kamu tidak melakukannya." Deka terlihat panik melihat Milla seperti itu. Sebenarnya rokok yang Deka bawa ini cukup berbeda dengan rokok yang biasanya. Ini adalah rokok custom dengan rasa yang kasar dan pahit. Tidak cocok untuk seorang pemula seperti Milla.


"uhuk, tak apa. Aku hanya belum terbiasa saja. Berikan lagi, aku belum selesai." Milla mengelak tangan Deka yang di punggungnya dan mencoba mengambil rokok dari tangan Deka.


"Aih, kubilang berikan lagi padaku." Milla bersikukuh ingin mengambil rokok di tangan Deka. Semakin Milla berusaha, semakin Deka menjauh. Mereka seperti dua kucing yang berebut satu tikus.


"Gak, kamu gak boleh ngerokok." Larang Deka tegas.


Di lemparnya satu batang rokok itu ke bawah oleh Deka agar Milla tak mampu menjangkaunya lagi.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa aku gak boleh? Bukannya saat terpuruk seperti ini adalah waktu yang tepat?" Ucap Milla dengan suara bergetar. Tampaknya Milla mulai rapuh malam ini. Meski tadi saat makan malam ia terlihat banyak tersenyum dan tertawa, ternyata hatinya sangat rapuh. Dia memendam semuanya dengan sangat baik agar tak terlihat di depan semua orang.


Tanpa terasa Milla mulai menitikkan air matanya. Ingatannya tentang ayahnya membuat emosinya tidak bisa ia tampung lagi. Di hadapan Deka untuk kesekian kalinya Milla menangis lagi.


"Ke,,,,kenapa?! Kenapa semuanya jadi begini,,,,?!" isak tangis Milla sudah tak mampu dibendung lagi. Milla menarik baju Deka dan membenamkan wajahnya di dada Deka. Tangisnya pecah.


"Huuuaaa,,,,,,,,Aa,,,,,ap,,apaa salahku?! Kenapa semua jadi seperti ini?! Aaa,,aku takut! Aaakk-"


Deka membuang bungkus rokok serta korek yang ia pegang ke sembarang arah. Tangannya yang satu memegang dagu Milla dan mengangkatnya agar menghadap ke arahnya.


Cup


Deka mencium bibir Milla menghentikan racauan tak jelas Milla.


"Hmph,,, hmppph,," Milla tak melawan dan menghentikan ciuman tiba-tiba dari Deka itu. Dia malah memberikan Deka kesempatan itu seluas-luasnya. Tangan Milla bahkan naik melingkar ke arah leher Deka agar ciuman itu dapat lebih intens.


Deka yang mendapat kebebesan bergerak luwes. Dia membawa ciuman itu menjadi sangat panas untuk keduanya. Tangan Deka bergerak memeluk pinggul Milla.

__ADS_1


*Hah,,, Ini lebih baik dari pada merokok." Deka melepaskan ciuman panas itu. Dia takut akan kejadian selanjutnya jika dia meneruskanya.


__ADS_2