Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
19. Bang Devan


__ADS_3

"Halo?! DEKA?! Kau dimana?" Tanya seseorang di ujung telpon.


Namun Deka tak menjawabnya. Dia malah lanjut tidur setelah selesai menjawab panggilan itu sebab nada dering yang berisik.


"Halo?! K*mpret nih bocah! Gak jawab panggilan gua, rahasia waktu kecil lw bakal viral." Orang di ujung telpon nampak sangat kesal pada Deka. Karena ternyata orang itu bisa mendengar suara dengkuran Deka.


Namun, ancaman itu bukanlah apa-apa bagi Deka. Dirinya tetap menghiraukan si penelpon dan lanjut tidur. Sampailah saat Deka mulai ternganggu baru Deka membalas telpon tersebut.


"Apa? Ganggu orang tidur aja." Sahur Deka sambil beberapa kali menguap.


"Anj*ng!!! Akhirnya nyahut lw. Berapa menit udah gw maki-maki lw ditelpon, sampai akhirnya baru lw jawab."


Deka nampak tak tertarik. Dia malah berencana tidur kembali.


"Hah, anak bangs*t emang. Cepet lw ke sini gua tunggu. Lokasinya habis ini gua share. Lw mulai kerja malam ini."


Deka hanya menguap dan langsung mematikan panggilan itu. Orang yang di sana pasti sudah mengamuk tak jelas karena Deka.


Tapi meski begitu, Deka akhirnya bangkit dari kasur meski ia bergerak layaknya kukang benar-benar lambat.

__ADS_1


Lima belas menit berlalu, barulah ia siap untuk berangkat. Seperti biasa, di depan gerbang ia bertemu dengan pak Kadir.


"Malam, pak." Sapa Deka sebelum keluar pagar.


"Malam, mas. Pergi keluar lagi?" Balas pak Kadir dari dalam pos.


"Iya, pak. Ada kerjaan."


"Wah sibuk banget nih."


"Hehehe, gak kok pak. Pergi dulu, pak."


"Sini!" Teriak seorang pria ketika melihat Deka sampai.


Nampaknya pria itu sudah sangat marah. Wajahnya bak istri yang tidak pernah dikasih jatah.


"Anj*ng! Lama banget lw, bangs*t!" Caci si pria saat Deka sudah dihadapanya. Tak lupa pula ia mendaratkan sebuah pukulan pada lengan Deka.


"Aduh, duh, ampun, bang. Tadi macet." elak Deka agar tak terus-terusan terkena pukulan. Pria itu adalah Devan, dia sudah menunggu 2 jam jika ditotal dari pertama kali ia menghubungi Deka.

__ADS_1


"Huh, sudahlah ayo cepat ikut aku. Orang yang akan kita temui ini sangat sibuk jadi kita harus cepat."


Keduanya langsung bergegas dengan Devan yang memimpin. Tak begitu jauh mereka berjalan, seorang pria negro menghampiri mereka.


"Madam Maria?" Tanya pria negro itu.


Devan mengangguk sebagai jawaban.


Akhirnya mereka berdua kini mengikuti pria negro itu. Mereka masuk ke dalam sebuah gang kecil yang nampaknya perbatasan antara dua apartemen. Tak jauh dari sana sebuah mobil hitam menunggu mereka.


Pria negro itu menepi dan mempersilahkan Deka dan Devan untuk masuk. Setelah masuk, supir di dalam mobil langsung tancap gas.


"Jadi, pria ini orangnya?" Tanya sang supir sambil melirik ke arah kaca spion dalam mobil.


"Ya, bagaimana menurutmu, apakah dia layak?" Jawab Devan meminta pendapat pria itu.


"Hhhhm, jika kau tanya padaku. Aku akan menerimanya. Tapi bukan sebagai bartender, melainkan sebagai tukang pukul. Hanya melihat dari wajah dan fisiknya aku tahu dia mampu."


"Hahaha, kau mungkin benar. Tapi dia nampak tak berminat jadi anak buahmu."

__ADS_1


"Kau benar. Tapi bukankah madam sering sepemikiran denganku."


__ADS_2