
"Hooamm,,," Deka menguap seraya menggaruk perutnya.
Ia melirik ke arah ponselnya.
08.16 p.m
"Hah?!" kaget Deka karena sadar ia sudah tidur sampai malam.
Deka kemudian mendial sebuah nomor untuk ia telpon dan tak berapa lama panggilannya tersambung. Panggilan via telpon itu berlangsung singkat. Deka langsung beranjak setelah selesai menelpon.
Sesampainya di luar kamarnya, Deka merasa sangat sepi sekali.
"Apakah memang seperti ini setiap hari?" Tanya Deka sembari mencari-cari orang lain.
Sayangnya ia tak menemukan satu pun. Tak ia sangka kalau dirinya benar-benar di asingkan dimansion ini. Tapi Deka tak mempermaslahkan hal itu. Toh, di sini ia hanya menumpang sementara saja. Deka yakin kalau pernikahan ini tidak akan berlangsung lama dan dia akan dibuang jauh-jauh.
Deka kemudian melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan mansion itu. Sebelum keluar, ia melihat seorang satpam tepat di pos jaga gerbang mansion itu.
"Selamat malam, pak." Ramah Deka pada pak satpam.
"Selamat malam, mas." Balas pak satpam yang langsung memperhatikan Deka dari ujung kaki sampai ujung kepala.
__ADS_1
"Oh, suaminya non Milla ya?" Sambung pak satpam setelah ia menerka siapa pria didepannya.
"Eh, iya, pak."
"Kenalin nama saya Kadir. Saya satpam di sini."
Kadir menjulurkan tangan hendak bersalaman dengan Deka.
"Deka," Balas Deka sembari membalas jabatan tangan pak Kadir.
"Mau pergi keluar ya?"
"Iya, pak. Mau nyari angin."
"Oh, iya, Pak."
"Rumah saya dekat sini. Mas ting,,"
"Sepertinya gak perlu, pak. Saya nginep diluar, ada kerjaan."
Tentu Deka hanya membuat alasan tentang kerjaan itu.
__ADS_1
"Oh, seperti itu. Kalau begitu, hati-hati di jalan, mas."
Deka berlalu dari sana. Ia memesan jasa antar online dan langsung menuju ke tempat yang sudah ia rencanakan untuk bertemu dengan orang yang tadi ia telpon.
Lima belas menit berlalu, Deka akhirnya sampai di sebuah tanah kosong tempat menaruh material bangunan. Sang sopir yang mengantar Deka binggung dengan tempat tujuan Deka ini. Tempat ini sepi dan sangat gelap. Tapi ia memilih untuk diam dan langsung pergi setelah Deka membayar.
Deka kemudian masuk ke area tanah kosong yang hanya ada material bangunan itu. Meski hanya berandalkan cahaya rembulan malam, Deka masih bisa melihat jalan setapak untuk di lalui. Tak jauh dari tempat ia berjalan terdengar beberapa orang sedang berbicara.
"Lama banget, nih." Ucap seorang pria sambil menyalakan rokok ditangannya.
"sabar, bentar lagi juga sampai." Balas pria di depannya.
Kedua kemudian tak lanjut bicara hanya saling menikmati rokok masing-masing. Dan tak lama Deka sampai di tempat mereka.
"Nah, akhirnya sampai juga, kampret. Capek gua nunggu lw, anj*ng!" Sambut pria yang daritadi tidak sabaran.
"Hahaha, bukannya disapa atau dipeluk malah dikatain gua," Deka tidak marah ataupun kesal dengan ucapan pria itu. Dirinya hanya tersenyum dan menjabat tangan kedua pria yang daritadi menunggunya.
"Lw kata gua gay?"
Ketiganya tertawa bersama mendengar hal itu.
__ADS_1
"Dah lah, mending langsung cabut aja." Ungkap pria yang satunya.
Deka pun mengiyakan dan langsung ikut bersama kedua pria kenalannya itu. Mereka meninggalkan tempat itu dan menaiki sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari sana.