Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
33. Warteg


__ADS_3

"Milla, ibu sayang kamu. Maaf ibu pergi tanpa bilang apa-apa sama kamu. Semangat ya, anak cantik."


"Gak, jangan tinggalin Milla, ma!"


Milla mengejar banyangan yang terus menjauh itu.


"Mama! mama! mama!" Milla kemudian tersadar dan langsung membuka matanya.


"Huh, huh, hanya mimpi." Milla mengatur ulang nafasnya agar lebih tenang. Saat nafasnya mulai tenang dan teratur, perut Milla gantian berbunyi.


"Kau lapar?" Tanya seorang pria yang duduk tak jauh dari tempat Milla berbaring. Milla sangat kenal dengan suara itu karena suaranya benar-benar menghangatkan hati Milla tadi malam.


"Hhhhm, iy, iya." Jawab Milla ragu-ragu. Malu rasanya mengetahui pria itu mendengar suara perutnya yang keroncongan.


"Lapar itu manusiawi. Tak perlu malu. Ayo kita cari makan. Kau sudah berhasil melewati malam yang panjang, jadi kau harus mengisi perutmu." Balas pria itu bak bisa membaca arah pikiran Milla.


Milla menurut, entah kemana hilangnya rasa gengsi Milla yang biasanya tak mudah mengikuti ucapan orang lain.


Pria itu menuntun Milla turun dari kasur dengan memberikan lengannya sebagai topangan. Lalu membawa Milla keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


"Kita makan dimana?" Tanya Milla saat sedang memakai sepatunya. Semalam ia meninggalkan sendal miliknya di gudang. Jadi, hanya tersisa sebuah sepatu.


"Pakai ini saja biar tidak ribet. Aku tadi pergi membelinya." Pria itu memberikan Milla sebuah sendal karet.


"Terimakasih, Deka." Ucap Milla menerima sendal pemberian Deka itu. Ya, pria itu adalah Deka. Sosok pria yang telah menyelamatkannya dari kelamnya hidup sebagai seorang Eleanor.


"Kita makan di warteg. Saat membeli sendal ini, aku lihat tak jauh dari sini." Balas Deka menjawab pertanyaan Milla Sebelumnya.


"Apa itu warteg?"


Sontak Deka mengeryitkan dahi.


"****. Orang Indonesia tidak tahu warteg? Bahkan di Amerika saja ada." Batin Deka yang mengira semua orang Indonesia pasti tahu apa itu warteg.


Milla mengangguk tak mempermasalahkan kerancuan jawaban Deka.


Mereka berdua akhirnya pergi berjalan ke arah warteg dengan Deka menuntun Milla untuk berjalan ke sana. Deka nampak begitu telaten dalam menuntun Milla. Ia tak pernah menuntut Milla jalan lebih cepat atau bahkan jalan mendahului Milla. Deka Selalu menjaga jarak antara dia dan Milla agar tetap sejajar. Bahkan jika ada sesuatu di jalan, Deka akan mengutarakannya pada Milla. Orang awam yang melihat mereka pasti akan mengira mereka adalah sepasang kekasih.


"Kita sampai. Kamu mau makan apa?" Tanya Deka ketika sampai ke dalam Warteg.

__ADS_1


"Hhhhm, aku binggung mau makan apa. Setelah ku ingat-ingat aku pernah mendengar tentang warteg. Tapi Ini adalah pertama kalinya aku makan di sini." Jawab Milla setelah ingat kalau dulu salah satu pelayan rumahnya pernah bercerita tentang warteg.


"Oke, biar aku saja yang pilihkan."


Deka langsung memilihkan lauk untuk Milla dan dirinya santap tak lupa beserta minumannya.


"Ini," Deka menyerahkan piring dengan berbagai macam lauk di dalamnya kepada Milla.


"Baunya enak sekali," Batin Milla saat piring itu berada di atas tangannya. Cacing diperut Milla nampak sudah tak tahan ingin mencicipi makanan itu.


"Kemari," Deka membawa Milla ke salah satu meja yang kosong. Untungnya mereka datang agak siang, jadi pelanggan yang makan hanya sedikit.


"Ini, mas." Seorang pelayan memberikan minuman bertepatan saat Deka dan Milla duduk.


"Menurut mu bagaimana?" Tanya Deka meminta pendapat Milla sembari menyeruput kopi baru sampai.


"Apanya?" Tanya Milla asal. Dia sudah tidak tahan ingin makan, tapi hatinya tidak membiarkan hal itu sebelum Deka memperbolehkannya.


"Makanan warteg yang dipiringmu itu. Bukankah dari segi aroma sangat menggiurkan?"

__ADS_1


Milla mengangguk setuju dengan ucapan Deka.


"Kalau begitu, tunggu apalagi. Makanlah." Deka mempersilahkan Milla untuk menyantap sarapan mereka pagi ini.


__ADS_2