
HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!
Diperkenankan untuk sudah cukup berusia dalam meembaca chapter ini!
...****************...
Deka tak membalas perkataan Milla itu. Dia binggung harus berkata apa. Ego dalam diri Deka terlalu egois untuk segera membantu Milla kali ini. Tapi dia juga punya prinsip dalam hidupnya, Prinsip dari ibunya yang tak akan ia lupakan. Bahwa dia akan menjaga kehormatan seorang wanita kecuali untuk wanita yang benar-benar mau menerimanya apa adanya.
Namun kondisi saat ini berbeda. Dia dihadapkan oleh pilihan yang berat. Haruskah ia menolong Milla kali ini atau membiarkan Milla tersiksa sepanjang malam.
Deka menatap kembali wajah Milla. Raut wajah itu semakin tak kuasa menahan gejolak dalam dirinya. Pria itu tak habis pikir dengan pikiran orang-orang yang memperlakukan Milla hingga bisa seperti ini. Dia pernah meendengar cerita tentang obak viral di dunia bawah. Menurut rumor, obat itu disuntikkan itu sangat ampuh dan kuat. Siapa sangka Deka malah berurusan dengan hal semacam itu sekarang.
Mengingat dunia bawah, Deka teringat sesuatu. Bukankah dia punya kuasa dalam dunia semacam itu. Kenapa dia tak mencari penawarnya saja. Bukannya itu lebih mudah dan efisien.
"Emm,, begini saja, aku akan telpon anak buahku. Dia pasti akan dengan mudahnya menemukan obat penawar yang kau rasakan. Aku yakin itu.: Terang Deka sebagai balasan perkataan Milla.
__ADS_1
Milla tak merespon keterangan Deka tersebut. Pikirannya sudah tak bisa fokus ke hal lain. Dan Deka memanfaatkan momen itu untuk menelpon Leo. Deka segera mengambil ponseel dalam saku celananya dan menelpon tangan kanannya itu.
Cukup satu kali dering, telpon itu langsung dijawab.
"Halo, bos!"-Leo.
"Leo, tolong carikan ak-"
Belum sempat Deka mengucapkan kata-kata selanjutnya, tangan Milla menepis tangan Deka yang sedang memegang ponsel. Benda kotak itu terlempar cukup jauh ke atas lantai. Namun tangan Milla tak berhenti sampai di sana. Tangannya langsung menahan tangan Deka dan tangan satunya menarik kerah baju Deka agar medekat ke arahnya.
Dalam diri Deka ada perasaan ingin melawan wanita itu, namun saat merasakan betapa gigihnya wanita itu mencengkram tangannya, Deka melunak. Dia menerima ciuman itu dan menikmatinya. Ciuman yang tadinya sepihak kini beralih menjadi saling mengulum dan mengecap. Hal itu membuat sebuah gairah dalam diri Deka bangkit. Dia sudah tak bisa menahannya.
Pria itu melepaskan pangutannya dan membiarkan Milla mengambil nafas. Nampaknya ini pertama kalinya bagi keduanya melakukan hal itu. Mereka sampai kehabisan nafas karena hal itu. Kali ini Deka lebih berinisiatif. Dia menedekat dan mengangkat kedua tangan Milla di atas kepala wanita itu lalu kembali mencium bibir merah yang begitu menggoda itu.
Milla tak melawan. Dia mengikuti alur permainan Deka dan menikmatinya. Terdengar suara-suara halus yang seksi dari kegiatan keduanya. Hal itu membuat tangan Deka menjadi nakal. Saat tangan satunya menahan tangan Milla, tangan Deka yang satunya memanfaatkan kesempatan manis itu untuk masuk ke dalam selimut yang tadi Deka pakai untuk menutupi Milla saat membawanya ke sini.
__ADS_1
Dengan pelan tangan Deka menyentuh kulit Milla. Kulit mereka berdua saling bergesekan membuat rangsangan di antara keduanya semakin meningkat. Tangan Deka mulai bermain di dua bukit yang masih tertutup. Seperti belut, tangan Deka berhasil melewati penghalang itu dan mulai bermain dengan nyaman di sana.
"ehm,,,, Aahhh,,,: Desah Milla melepaskan pangutan keduanya saat tangan Deka yang satunya mulai bermain cantik dibagian tubuhnya.
Dalam keadaan seperti itu, Deka turun ke leher Milla dan memberikan sebuah pangutan manja dikulit mulus milik wanita itu. Tangan Deka yang satunya juga melepaskan kedua tangan Milla dan lansung ikut bermain dengan tangannya tangan satunya dibukit kembar milik Milla.
Milla menggigit jari telunjuknya. Dia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara-suara aneh. Meski sudah berusaha sedemikian rupa, suara dari mulut Milla tetap lolos beeberapa kali dia tak tahan saat Deka mulai bermain-main di sana.
"Hmph,,, hmph,,," Milla nampak mulai kesusahan mengontrol dirinya sendiri.
Deka tak menghentikan aksinya. Perasaan yang tadi enggan sudah tak bisa menghentikannya. Satu-satunya yang diinginkan pria itu adalah menjadikan Milla sebagai miliknya malam ini. Tangan kanan Deka berhenti main di sana, Tangannya mulai turun ke bawah. Ada tugas peting yang harus dia lakukan. Dan saat sudah masuk berhasil sampai di sana, Milla langsung tak kuasa menahan dirinya. Di bawah sana sudah basah sekali.
Deka mengankat wajahnya dan menetap Milla sejenak. Da mengecup bibir ranum Milla. Lalu beralih ke telinga Milla seperti hendak membisikinya sesuatu.
"I need you, babe." Ucap Deka menahan segala gejolak dalam dirinya.
__ADS_1