Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
68. Keluarga Harmonis


__ADS_3

"Kak?!" ucap seorang gadis memgetuk pintu kamar.


"Ayo bangun! Ini sudah jam berapa? Jangan bilang kakak lupa janji kita semalam." Sambung gadis itu. Kali ini dia mengetuk pintu kamar dengan lebih kencang agar yang di dalam segera bangun dan membukakan pintu.


"Halo?! Ban,,gun! Ayo bangun! Bangun! Bangun! ayo bangun!" Gadis seperti sedang menjadi pemandu sorak suatu pertandingan karena ia memadukan suaranya dengan ketukan pintu.


Krek, krek, pintu itu akhirnya terbuka. Terlihat seorang laki-laki tampan yang membukakan pintunya.


"Dasar anak nakal!" Seru laki-laki sambil menguap. Dia membiarkan pintu terbuka dan kembali masuk ke dalam melemparkan tubuhnya kembali ke atas kasur.


Si gadis yang melihat itu langsung tidak terima.


"Woi, ayo! Ini udah siang!" Bentak gadis itu mulai kesal. Dia menghampiri lelaki itu. Dilihatnya lelaki itu. Ternyata lelaki itu sudah tertidur lagi. Gadis itu jadi semakin geram. Dia mencoba memcubit paha kakaknya. "1, 2, 3, Mati kau."


"Aaaaaaa,,,,,,, saakitt, sakit." Teriak kakaknya yang terbangun dari tidurnya. "Dasar anak nakal! apa sih yang kau mau?"


Kakaknya nampak langsung kesal padanya.


"Hei, hei, kau lupa janji kita semalam?"


"janji? seja-"


Si gadis kembali maju kehadapan pria itu hendak mencubit kembali kakaknya itu.


"Ampun, iya, iya, aku ingat sekarang!" Balas si pria agar terhindar dari cubitan. Sebenarnya dia masih lupa janjinya semalam.


"Kalau sudah ingat, segera mandi! Kita harus berangkat sekarang! Aku gak mau kelewatan sedikit pun!"

__ADS_1


Pria itu menggaruk-garuk kepalanya. Rasanya kali ini dia benar-benar sudah ingat apa janjinya semalam, yaitu mengantar adiknya ini pergi ke konser.


"ya, iya. Berisik sekali, sih." Balas pria itu tapi tidak berkutik dari atas kasur.


"Oke, aku tunggu dibawah." Gadis itu akhirnya memutuskan meninggalkan kamar kakaknya. Tapi tepat di depan pintu ia menghentikan langkahnya. "Oh, iya, kalau aku sampai telat. Aku bongkar semuanya ke mama."


Mendengar itu, si pria langsung beranjak dari atas kasur.


"Ak-aku akan selesai dalam 15 menit." Panik pria itu bergegas menuju kamar mandi.


Sementara si gadis tadi berjalan turun ke bawah. Tak di sangka hanya dengan ancaman sederhana kakaknya langsung dengan mudahnya menuruti kemauannya. Gadis itu turun ke bawah menuju ruang tamu. Dari kejauhan ia melihat add dua orang sedang bercengkrama.


"Halo, gadis mama yang paling cantik." Sapa seorang wanita paruh baya saat melihat seorang gadis mendekatinya. "Bagaimana kakakmu? sudah bangun?"


"Aman, ma. Bentar lagi juga turun." Jawab si gadis dengan senyum yang terus melekat di wajahnya. Gadis itu menoleh ke arah berlawanan dengan mamanya. Di sana ada seorang pria yang tadi ia lihat mengobrol dengan mamanya.


"Hai, nona Amelie. Anda terlihat semakin cantik setiap harinya." Balas Bastian terhadap sapaan anak perempuan bosnya itu.


"Makasih, paman. Aku memang anaknya mama yang paling cantik. Hehehe,"


Bastian dan mamanya Amelie tersenyum mendengarnya.


"Yah, cantik, sih. Tapi jangan nakal, ya! Mama gak mau kamu macem-macem sama laki-laki lain. Kamu sudah mama jodohin sama si kamal." Balas Mamanya menekankan aturan pada anaknya.


"Siap, komandan. Amelie gak bakal macem-macem. Toh, di hati Amelie cuman ada kak Kamal seorang." Amelie memberikan tanda hormat pada mamanya sebagai bahan candaan.


"Bucin!" ucap seseorang yang baru datang. Itu adalah kakaknya yang sudah selesai mandi.

__ADS_1


Amelie langsung melotot ke arah kakaknya. Entah mengapa kakak laki-lakinya itu selalu memulai perselisihan antara mereka.


"Gapapa bucin daripada jomblo abadi! Huek,,," Balas Amelie mengejek kakaknya sembari menjulurkan lidahnya.


"Bukan jomblo aku it-"


"Hush, sudah-sudah. Kalian berdua ini selalu aja berantem. Mending kalian berangkat daripada nanti telat. Rafael, anterin sana adek kamu. Jaga dia baik-baik." Potong wanita di samping Amelie agar kedua anaknya itu tidak bertengkar lagi.


Kedua anaknya hanya bisa mendengus kesal karena tidak jadi berantem. Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Kalau mama marah, uang jajan mereka yang jadi taruhannya.


"Yaudah, ma. adek berangkat." Ucap Amelie menyalami mamanya.


"Aku juga, Ma." Rafael juga ikut menyalami mamanya.


"Iya, hati-hati di jalan." Balas sang mama mempersilahkan keduanya pergi. Setelah keduanya pergi, kini tinggal Bastian dan wanita itu saja di sana. Mereka nampak sedang membicarakan hal penting.


"Kembali lagi ke topik pembahasan. Gimana perkembangannya? apa gadis itu sudah ditemukan?" Tanya wanita itu dengan sikap serius. Tidak ada raut wajah bersahabat yang ditunjukkan seperti saat ia memyapa anak-anaknha tadi.


"Sudah, nyonya. Dia berada dalam genggaman musuh kita." Jawab Bastian menyerahkan selembaran foto.


"Bagus, lalu bagaimana dengan kaki tangannya?"


"Semuanya aman. Kami sudah berhasil membungkam semuanya. Kalau pun ada yang tidak setuju, mereka memilih untuk golput daripada memilih anda. Tapi dengan ini bisa dipastikan semua fraksi perusahaan sudah pasti mendukung anda sebagai pemimpin perusahaan, nyonya."


"Kerja bagus. Dalam rapat beberapa hari lagi, kita akan buat sejarah baru di perusahaan."


Bastian menggangguk sebagai balasan.

__ADS_1


"Oh, iya. Kau bilang gadis itu ada di tangan musuh. Apa dia masih hidup?"


__ADS_2