
"Hhmm, enaknya ngapain ya?" Tanya Deka pada dirinya sendiri sembari mengusap-usap layar ponselnya.
Deka mendapatkan jatah libur malam ini. Jadi, ia tidak pergi bekerja malam ini. Dan justru hal itulah yang membuat Deka binggung saat ini, sebab ia tak tahu harus melakukan apa malam ini.
Kruyuk, kruyuk, suara perut Deka mengalihkan perhatian Deka dari ponselnya.
"Ah, lebih baik aku cari makan dulu." Deka akhirnya memutuskan untuk mencari makan di luar. Dia memang belum makan dari pagi.
Selama tinggal di mansion ini, Deka tidak pernah makan dari dapur mansion Milla. Dirinya pasti pergi keluar untuk cari makan atau memesan makanan secara online. Baginya tidak ada alasan yang membuat dirinya untuk mendapatkan makanan dari mansion ini.
Deka mengambil kunci motornya dan bergegas keluar dari mansion. Setelah berkeliling cukup lama, Deka sudah kembali ke mansion. Di pos jaga, pak Kadir sedang berjaga seperti biasa.
"Pak," Sapa Bira mematikan mesin motornya dan menghampiri pak Kadir.
__ADS_1
"Iya, mas Deka. Udah selesai milih makan malamnya?" Tanya pak Kadir. Tadi sebelum keluar dari mansion, Deka sempat bercengkrama sebentar dengan pak Kadir.
"Sudah, pak. Ini jadi beli nasi goreng. Ini buat bapak," Deka memberikan kresek bungkusan nasi goreng.
"Loh, gak usah, mas. Saya sudah makan tadi."
Deka hanya tersenyum dan menaruh bungkusan nasi goreng itu di meja terdekat.
Deka berjalan keluar dari pos dan menyalakan kembali mesin motornya.
"Aduh, mas ini kebiasaan. Yaudah bapak terima. Makasih, mas." Ucap pak Kadir. Nampaknya Deka sudah sering mentraktir pak Kadir seperti ini.
"Selamat malam, pak." Balas Deka menancapkan gas motornya.
__ADS_1
"Malam, mas."
Deka langsung kembali ke dalam kamarnya dan langsung menyantap nasi goreng yang di belinya. Perutnya sudah bergejolak untuk di isi daritadi.
"Ah, syukurlah rasa nasi goreng yang ini mantap. Pantas saja tadi antrinya panjang sekali." Tukas Deka setelah selesai menyantap nasi goreng yang ia beli tadi. Selesai dengan nasi goreng, ia beralih ke hidangan yang lain. Deka tak hanya membeli nasi goreng saja. Dia juga membeli beberapa kudapan ringan sebagai cemilan.
Deka memang memiliki kekayaan yang banyak dari pekerjaannya sebagai seorang bos mafia. Namun, meski faktanya begitu, makanan sederhana seperti ini tetap selalu jadi makanan favoritnya. Tentunya itu berdasarkan pengalamannya dulu yang hanya dapat makan-makanan sederhana seperti ini saja. Saat melihat jajanan-jajanan itu, Deka merasa teringat kembali tentang masa kecilnya. Masa ketika ia dulu masih tinggal bersama ibunya di Indonesia.
Pada dasarnya Deka adalah keturunan blasteran Indonesia. Ayahnya merupakan turis asal Meksiko sedangkan ibunya adalah orang Bali asli. Semasa kecil, ibu Deka lah yang bertugas untuk merawatnya. Mereka tinggal di rumah neneknya Deka yang ada di Bali. Setidaknya Deka sudah menetap di Indonesia selama 12 tahun. Jadi, wajar saja jika lidahnya cocok dengan masakan orang Indonesia.
"Oh, iya. Semenjak kemari aku belum pernah ke makam mama lagi. Sudah 16 tahun ya, ma." Lirih Deka mengenang almarhum mamanya.
Jika mengingat tentang masa lalu, tentu mamanya akan ikut dalam kenangan itu. Sebuah kenangan paling berharga dalam hidup Deka. Dia tidak akan pernah melupakan kenangan indah dan berharga itu. Walau kesannya jahat, Deka tak pernah sekalipun mengunjungi kembali kuburan mamanya. Sebab ia tahu, jika ia pergi ke sana, ia hanya akan merutuki dunia. Kesedihan yang selama ini ia pendam akan meluap tak karuan.
__ADS_1