Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
76. Tante Eny


__ADS_3

Seketika itu juga, Eny meneteskan air matanya. Isak tangis tak kuasa ia tahan saat mendengar cerita yang di alami Milla belakangan ini. Dia merasa kasihan pada Milla dan membawa Milla ke dalam pelukannya.


"Ya tuhan, anak tante, bagaimana bisa kamu merasakan neraka seperti itu. Hiks,," Ungkap Eny sembari memeluk Milla. Wanita yang dipeluk membalas peelukan itu. Rasanya seperti tengah dipeluk oleh ibunya sendiri.


Sementara itu, Bachsmid yang dari tadi ikut mendengarkan, mengepalkan tangannya. Dia nampak sangat geram. Tak disangka orang-orang itu mulai berani melawan Milla secara terang-terangan. Padahal selama ini, Bachsmid beranggapan kalau Milla akan aman-aman saja karena dia punya nama George yang melekat padanya setelah Milla menikahi Deka.


"Ak-aku sudah nggak apa-apa, kok. Tante jangan nangis ya?" Pinta Milla berusaha untuk tetap tegar dan tidak menangis. Tapi rasanya miris sekali melihat tantenya menangis karena dirinya.


Setelah sedikit tenang, Eny melepaskan pelukannya dan menatap Milla.


"Ma-maafkan tante. Lihatlah dirimu, bahkan setelah semua itu, kamu masih bisa tetap tegar. Andai saja waktu itu tante bertindak tegas, mungkin kamu tidak akan mengalami hal seperti ini." Ungkap Eny sembari menghapus air matanya. Rasanya tidak baik jika dia menangis dia depan Milla yang sedang mencoba untuk tabah.


"Ini bukan salah, tante." Ucap Milla yang merasa kalau tantenya tidak ada sangkut paut kesalahan di sini.

__ADS_1


Eny menoleh ke arah Deka dan Leo.


"Terima kasih. Aku sungguh-sungguh berterima kasih padamu." Kata Eny dengan tulus kepada Deka.


"Tak perlu berterima kasih. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan." Balas Deka yang tak mau orang di depannya menaruh label berlebihan pada dirinya.


"kami benar-benar berterima kasih padamu. Dan maaf sekali jika anakku malah bersikap tak sopan padamu." Kali ini giliran Bachsmid yang berterima kasih. Sebenarnya baik Eny maupun Bachsmid sudah diberitahu beberapa bocoran mengenai kejadian yang menimpa Milla oleh anak buah Deka saat kemari. Tapi mereka berdua tidak ingin mengambil informasi itu begitu saja. Lebih baik mendengarnya langsung dari Milla. Itulah alasan kenapa saat pertama kali bertemu, Bachsmid langsung berterima kasih pada Deka.


"kak El dan Deka kenapa paman?" Tanya Milla saat mendengar permohonan maaf pamannya.


"Tak ada masalah Milla. Kami berdua hanya memiliki sedikit perdebatan tadi. Tapi percayalah masalah itu sudah selesai sekarang." Giliran Deka yang bicara untuk menjawab pertanyaan Millla.


"kalau kamu yang bilang begitu, aku akan percaya. Tapi kalau dia sampai macem-macem sama kamu, bilang saja aku. Biar aku yang memarahinya." Terang Milla membela Deka.

__ADS_1


"pfftt,,," Leo yang mendengar itu langsung tak kuasa menahan tawa. Sejak kapan bosnya berlindung dibelakang seorang wanita.


Deka langsung memberikan tatapan sinis pada Leo.


"Hah, tante lihat-lihat lagi, kalian berdua sudah seperti suami istri sesungguhnya. Apa jangan-jangan cucu tante sudah ada?" potong Eny menggoda pasangan muda di depannya.


"Tan-tante,,,," Rengek Milla menahan malu.


"Tenang saja, tante. Itu sedang dalam proses." Jawab Deka dengan santainya. Hal itu malah membuat wajah Milla seperti kepiting rebus.


"Deka?!" Milla tak habis pikir, bisa-bisanya pria itu menjawab pertanyaan tantenya seperti itu.


Sontak Eny dan Bachsmid tertawa lega melihanya. Meski sudah tertimpa musibah, seteidaknya senyum diwajah Milla tidak pudar. Mereka sangat bersyukur akan hal itu.

__ADS_1


"Kalau sedang dalam proses, tante harap itu secepatnya." Eny lagi-lagi menggoda Milla. Melihat Milla yang malu-malu menjadi hiburan tersendiri buatnya. Saat Milla hendak merengek, Eny mengelus pelan tangan Milla. "Sekarang, karena kondisinya seperti ini, bagaimana kalau kamu tinggal di tempat tante saja?"


__ADS_2