Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
78. Orang Biasa


__ADS_3

Milla berbaring di atas kasur. Dia tidak tertidur melainkan sedang berpikir cukup keras. Dia memikirkan opsi yang ditawarkan oleh Deka beberapa saat yang lalu.


Memang terkesan tiba-tiba dan seperti berbohong kata-kata itu. Tapi karena itu keluar dari mulut Deka. Milla memilih untuk percaya. Dia yakin Deka bisa melakukan keajaiban untuk dirinya. Meski Milla sendiri mempertanyakan dari mana rasa kepercayaan ini muncul. Padahal beberapa waktu lalu, dia tidak terlalu percaya pada Deka dan yakin hanyalah orang yang sedikit mahir dalam perkelahian.


"Menurutmu, berapa besar kemungkinan aku bisa melihat kembali?" tanya Milla mengeraskan sedikit suaranya agar terdengar.


Deka ternyata duduk di sofa yang tak jauh dari kasur tempat Milla berbaring. Dia terlihat sedang fokus melihat layar ponselya.


"hhmm, kau ingin mendengar persentasi dari aku pribadi atau tim medis?"


"Jika dari ahli medis, berapa besar kemungkinannya?"


Deka melirik ke arah Milla yang masih terbaring.

__ADS_1


"Jika itu dari ahli medis negara ini, kemungkinan untuk kamu bisa melihat mungkin hanya sekitar 5 persen saja. Tapi jika dari aku pribadi, kemungkinan untuk kamu bisa melihat kembali sekitar 70 persen."


Milla semakin terkejut. Selisih perbandingannya terlalu jauh.


"Kenapa perbandingannya jauh sekali?"


"Tentunya karena koneksi yang ku miliki."


Jawaban Deka membuat Milla tercengang. sekarang bukan saatnya untuk meragukan Deka. Sudah dua kali pria itu menolongnya. Bahkan saat terkahir kali, Milla tahu kalau Deka punya anak buah layaknya seorang bos. Anak buahnya juga memanggil Deka dengan sebutan bos. Jadi, tak ayal jika Deka memang memiliki koneksi.


Akhirnya Milla bertanya tentang sesuatu hal sudah Deka tebak pasti dipertanyakan. Tentang siapa dirinya sebenarnya. Asal usul atau hal lain yang berkaitan dengan dirinya. Meski sudah menebak, Deka tetap sedikit binggung harus menjawab apa. Dia takut jawabannya akan menjadi bumerang untuk Milla di kemudian hari.


"Kalau menurut pandanganmu, aku ini bagaimana?" Deka malah balik tanya ke Milla.

__ADS_1


"Hhmm, jika kamu bertanya pada saat kita pertama kali bertemu, aku akan menilai kamu hanyalah sampah masyarakat. Setidaknya itulah informasi yang ku dapatkan dari Albert dan kak Altan."


Maksud dari sampah masyarakat di sini adalah Deka merupakan mantan napi di negara lain yang tidak bisa apa-apa. Meski sebenarnya itu semua hanyalah rumor yang sengaja Deka sebar luaskan agar dia tidak disorot oleh banyak orang.


"Kalau sekarang?" Deka meletakkan ponsel sejenak. Tangannya sedikit gatal ingin merokok.


"Kalau sekarang,,, kamu terlihat seperti orang yang sangat baik. Kesannya seperti seorang pahlawan yang tak kenal rasa takut."


Deka tersenyum saat mendengar Milla menilai dirinya itu baik. Rasanya ini baru pertama kali ada orang yang menilai dirinya seperti itu. Kebanyakan orang pasti akan mengumpat Deka saat mereka bertemu."


"Sejujurnya, aku hanyalah orang biasa, Milla." Deka menatap ke arah jendela kamar yang terbuka. "Mereka yang memanggilku bos hanyalah rekan-rekan yang aku percayai."


Milla mengernyitkan dahinya. Jawaban Deka terlalu ambigu buatnya. Tidak menjawab apa yang dia inginkan.

__ADS_1


"Ahaha, biar kutebak. Kamu pasti heran dengan jawabanku barusan. Yah, tapi menurutku itu adalah jawaban yang paling baik untuk kamu dengar saat ini." Alasan kenapa Deka tidak membeberkan identitas aslinya kepada Milla adalah karena dia takut Milla takkan sanggup menahan konsekuensinya. Tidak semua kebenaran akan berakhir baik.


"Kumohon terima saja jawaban itu. Tidak ada gunanya mencari tahu tentangku lebih dalam." Tambah Deka memohon agar Milla tak menanyakan lagi tentang siapa dia. "Dan satu hal lagi, aku bukan orang sebaik yang kamu kira."


__ADS_2