
Milla mau tak mau melepas pelukannya. Wanita terlihat mengusap pipinya yang basah oleh air matanya sendiri. Sementara itu, Deka melepaskan sebuah kalung yang ia kenakan. Kalung itu terlihat biasa-biasa saja.
"Ini adalah kalung yang dapatkan dari guruku. Menurut guruku kalung ini punya banyak makna. Tapi aku lupa apa saja makna itu." Terang Deka menaruh kalungnya di atas tangan Milla agar wanita itu bisa merasakan kalung pemberiannya.
"Hiks, ke-kenapa bentuknya seperti ini?" Tanya Milla saat meraba kalung milik Deka.
Deka terkekeh mendengar pertanyaan Milla itu.
"Itu adalah sebuah peluru yang sudah penyok. Guruku bilang kalung ini adalah sebuah jimat pelindung yang sangat berharga. Meski terdengar sangat kuno dan seperti barang bekas, maukah kau menerima kalung ini?"
"Ap-apa tak masalah? Bukannya ini pemberian gurumu?" Milla merasa enggan menerima sesuatu yang ternilai berharga seperti itu.
"Tak masalah. Kalung itu tidak berfungsi jika aku yang mengenakannya. Namun berbeda jika kamu yang memakainya."
Deka mengusap air mata di pipi Milla yang pelan-pelan masih jatuh.
__ADS_1
Milla mengangguk sebagai jawaban.
"Izinkan aku memakaikan nya untukmu."
Deka mengambil kalung itu dari tangan Milla dan memakaikannya di leher Milla.
"Ehm, apakah itu cocok untukku?" Tanya Milla meminta pendapat Deka. Milla yang sadar di tidak memakai apapun menutupi bagian tubuhnya dengan selimut.
"Tentu, kau sangat cocok mengenakannya." Jawab Deka memalingkan wajahnya. Melihat leher mulus Milla membuat dia kembali deja vu dengan aktifitas semalam. Sebab di sana terdapat beberapa tanda yang Deka tinggalkan.
Deka mencubit pipi Milla pelan.
"Ayolah, apa kau hanya akan menghabiskan waktu untuk bersedih? Come on, kamu itu wanita kuat. aku yakin Kamu bisa melewati semua ini."
"Aw," Milla memegangi pipinya. "ak-aku hanya berniat untuk terimakasih. Jujur hanya kamu satu-satunya orang yang mau menolongku."
__ADS_1
Deka merasa miris mendengar hal itu. Dia paham betul bagaimana kondisi Milla sebelum mereka bertemu. Wanita itu sudah beberapa kali dicampakkan oleh orang lain. Baik teman dan bahkan mantan pacarnya. Setelah kecelakaan 7 bulan yang lalu, semuanya orang di dekatnya tiba-tiba saja meninggalkannya. Di mulai dari Ibunya meninggal tepat saat kecelakaan yang dia alami saat itu karena mereka berdua memang menaiki mobil yang sama. Lalu, ayahnya juga menyusul beberapa hari setelah kecelakaan itu.
"Jika kamu berterima kasih kurasa itu tidak perlu. Bukankah sudah sewajarnya manusia saling menolong." Balas Deka mencoba bersikap sebahagia mungkin agar Milla tak bersedih terus.
"Setidaknya menolongmu, membuatku bisa menebus dosa-dosaku meski hanya sedikit." Batin Deka karena dirinya sendiri binggung kenapa sampai rela bertindak sejauh ini untuk Milla. Padahal jika itu dirinya beberapa tahun yang lalu, dia pasti akan bersikap acuh pada Milla selama tidak ada yang menganggunya.
Milla menggelengkan kepalanya. Menolong dirinya yang buta dan tak memiliki apapun bukanlah hal yang wajar. Jika itu orang kebanyakan, mereka pasti akan menghindari masalah ini. Tapi, Milla binggung bagaimana caranya memberitahukannya pada Deka. Dia takut menyinggung pria itu.
"Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Anggap saja aku adalah doa yang dikabulkan oleh tuhan untuk menolongmu. Jadi, tak perlu terlalu memikirkan tentang berterima kasih atau semacam itu. Fokus saja pada pemulihan dirimu. Banyak hal yang harus kamu persiapkan." Sambung Deka agar Milla tidak terlalu terbebani tentang perasaan tak enak pada dirinya.
"Hhhmm, kau benar." Balas Milla memberikan satu buah senyuman pada Deka.
"Nah, itu baru bagus. Sebelum itu, mari kita sarapan terlebih dahulu. Aku yakin kau pasti sudah lapar. Sebab semalam kamu ganas sekali." ungkap Deka beranjak dari atas kasur.
Milla yang mendengar kata semalam, langsung memerah.
__ADS_1
"Aih, jadi aku dan dia benar-benar melewati malam panas itu?" Gumam Milla menenggelamkan wajahnya ke arah selimut.