Leveling System Reincarnation

Leveling System Reincarnation
CH 106 - Mansion.


__ADS_3

Rudy dan Emma mengunjungi tempat pembangunan Royal Unity.


"Eh.?" saut Rei dengan terkejut.


"Bagaimana pembangunannya.?" tanya Rudy.


"Kami masih membuat rancangan ulang, karena tekstur tanahnya lebih lembek. Jadi ini butuh beberapa waktu untuk pengerjaan." jawab Solan.


"Berapa lama waktu yang kalian butuhkan.?" tanya Rudy.


"Tidak banyak, mungkin sekitar 4 bulan. Kami bisa menyelesaikan pembangunan Istana dan Pusat pelatihan." jawab Solan.


"Hm, baiklah. Aku serahkan padamu Tuan Solan." saut Rudy.


"Ah, Maaf memotong pembicaraan Anda." saut Rei sambil menundukkan kepalanya.


"Hm.? Anda siapa.?" tanya Rudy.


"Perkenalkan, nama saya adalah Rei, pemilik kontraktor kelas atas yang bekerja dalam pembangunan ini." jawab Rei.


"Ho, jadi Anda orangnya. Salam kenal Tuan, nama saya Rudy, dan ini adalah Emma." saut Rudy.


"Kami sudah sering mendengar nama Anda. Hari ini saya sangat beruntung bisa bertemu langsung dengan Anda." kata Rei sambil menundukkan badannya.


"Ah, hahaha. Biasa saja Tuan, saya bukan seorang Raja." kata Rudy.


"Baik Tuan." saut Rei.


"Oh ya Tuan Solan, apa Anda bisa membuatkan sebuah rumah di dekat air terjun.?" tanya Rudy.


"Apa kau yakin.? Tempat itu sedikit jauh dari tempat istana ini." jawab Solan.


"Tidak apa-apa Tuan. Buatkan sebuah Mansion disana, yaah intinya cukup untuk tempat tinggal kami, istana ini akan aku gunakan untuk tempat kerja saja." kata Rudy.


"Baiklah, aku akan membuatkan sketsanya dulu. Kira-kira Mansion seperti apa yang kau inginkan.?" tanya Solan.


"Ah, yang ku inginkan seperti ini..." Rudy pun menjelaskan secara detail dari Mansion tempat tinggalnya.


...


Beberapa jam kemudian.


"ini akan membutuhkan banyak biaya Rudy, dan pengerjaannya akan bertahap, tidak mungkin kami mengerjakan istana bersamaan dengan Mansionnya, waktu pembangunannya juga akan semakin lama." kata Solan.


"Hm. Kalau biaya aku bisa mengaturnya, tapi kalau masalah waktu, aku tidak bisa apa-apa." saut Rudy.


"Apa Anda butuh tenaga kerja tambahan Tuan.?" tanya Rei.


"Apa masih ada pekerja di tempatmu.?" saut Rudy.


"Kami masih punya 200 pekerja profesional, jika Anda ingin, saya akan membawanya kemari." kata Rei.


"Ah, baiklah. Aku akan membayar untuk pekerja tambahan itu. Jadi mohon kerja samannya." saut Rudy.


"Baik Tuan, setelah ini saya akan panggil semua pekerja yang tersisa." kata Rei.


"Mohon bantuannya." kata Rudy.


"Apa kau tidak ingin melihat tempatnya dulu, Mansion yang kau minta juga sangat besar, aku tidak yakin lahan disana cukup, apalagi lahan depan Mansionnya sangat luas." kata Solan.


"Baiklah, kita pergi kesana." saut Rudy.


"Saya juga akan kembali ke ibu kota Tuan." saut Rei.

__ADS_1


"Baik Tuan." saut Rudy.


...


Beberapa menit kemudian. Rudy, Emma dan Solan sampai di tempat yang di inginkan Rudy.


"Tempatnya cukup jauh juga." kata Emma.


"Tapi disini sangat nyaman Emma, bahkan tidak terasa energi alamnya. Bagaimana menurutmu.?" tanya Rudy.


"Tempat ini sangat cocok untuk membangun rumah kita, bukan sebuah Mansion." jawab Emma dengan tersenyum.


"Aku juga berfikir seperti itu." saut Solan.


"Mantion itu juga rumah kita Emma." saut Rudy.


"Tapi kenapa Marco dan lainnya juga tinggal disini nanti.?" tanya Emma.


"Mereka juga butuh tempat tinggal yang layak. Tidak mungkin kita menelantarkan mereka." jawab Rudy.


"Hm, baiklah." saut Emma.


"Jadi bagaimana.? Apa kau ingin membuat rumah, atau Mantion.?" tanya Solan.


"Tentu saja sebuah Mantion. Lalu, buatkan aku sebuah ruang bawah tanah yang luas untuk tempat pelatihan pribadi dan penyimpanan senjata." saut Rudy.


"Apa kau akan menghancurkan bukit itu.? Lahan disini tidak cukup untuk membuat sebuah Mantion." kata Solan.


"Tidak masalah, aku bisa menghancurkannya." saut Rudy sambil mengarahkan tangannya kedepan bukit.


WING, WOOOSH. BRDMMM. Rudy pun menghancurkan bukit yang ada disana.


"Hee.?" saut Solan dengan terkejut.


"Huh, kau membuatku terkejut Rudy. Baiklah, aku akan mengerjakannya." jawab Solan.


"Berapa kira-kira biaya yang di butuhkan.?" tanya Rudy.


"Hm, jika sketsa Mantion seperti ini, Material dan fasilitasnya mungkin bisa menghabiskan anggaran 2 Miliyar koin Emas." jawab Solan.


"Oke, aku akan memberikan 3 Miliyar untuk Anda. Gunakan material yang bagus dan lengkapi fasilitasnya juga." kata Rudy sambil mengeluarkan cincin.


"Ah, itu uang yang sangat banyak Rudy." saut Solan.


"Tidak apa-apa Tuan. Uang itu tidak seberapa di bandingkan dengan tempat tinggal." kata Rudy.


"Baiklah kalau begitu." saut Solan.


...


3 Bulan pun berlalu.


Di dalam dungeon Hard, Tim 2 sudah menyelesaikan Dungeon sampai lantai 1.000.


"Huh, huh, bossnya kuat sekali." kata Ellena dengan terengah-engah.


"Aku hampir mati melawannya." saut Rin yang terbaring di tanah.


"Kerja bagus anak-anak. Kalian bisa membunuh boss terakhir di dungeon hard." saut Lilia.


"Kenapa kak Lilia tidak membantu kami.?" tanya Ellena.


"Tentu saja boss itu membuat kalian semakin kuat." jawab Lilia dengan tersenyum.

__ADS_1


"Aku hampir tidak bisa mengalahkannya Kak." saut Ellena.


"Tapi buktinya kalian bisa membunuhnya." kata Lilia.


"Kami bisa membunuhnya karena senjata ini kak." saut Rin.


"Hm benar, tapi jangan di gunakan untuk membunuh manusia. Gunakan senjata itu untuk berburu hewan iblis." kata Lilia.


"Baik kak, aku mengerti." saut Rin.


"Apa kita kembali sekarang.?" tanya Ellena.


"Ada satu tugas lagi untuk kalian. Bakar semua mayat hewan iblis di dalam sini." saut Lilia.


"He.? Merepotkan sekali." saut Ellena.


"Apa kau ingin tempat ini menjadi tempat tinggal hewan iblis lagi.?" tanya Lilia.


"Eh, itu. Baiklah aku akan membakarnya." kata Ellena sambil mengeluarkan sihir apinya untuk membakar hewan iblis disana.


"Kau juga bisa kan Rin.? Gunakan skill apimu untuk membantu Ellena." saut Lilia.


"Baiklah kak." saut Rin.


...


Di dalam Dungeon Expert.


Marco dan Luciana masih melakukan pemburuan didalam sana.


SLASH. JEB. Suara dagger Marco yang membunuh boss.


"Hm, disini sudah beres." kata Marco.


"Sudah di lantai berapa kita.?" tanya Luciana.


"Kita masih berada di lantai 752, kurang sedikit lagi." jawab Marco.


"Tidak kusangka, kita juga bisa secepat itu." saut Luciana dengan tersenyum.


"Yaah, kita bisa mengalahkan rekor dari pasangan Rudy dan Emma bukan.?" saut Marco dengan tersenyum.


"Hihi. Tapi tetap saja, tanpa senjata buatan Rudy, kita tidak bisa secepat ini." saut Luciana.


"Memang senjata ini luar biasa, tidak di ragukan lagi. Kau juga sudah berjuang di dalam sini Luci, mungkin jika aku sendirian, aku masih berada di lantai 300an." kata Marco.


"Aku hanya melakukan tugasku, dan yang terpenting, aku selalu bersamamu." kata Luciana sambil mencium Marco. Cup.


"Kau selalu seperti ini. Bahkan setiap hari kau menciumku 3x. Apa kau tidak bosan dengan bibirku.?" saut Marco.


"Mana mungkin aku bosan. Tapi kenapa kau menghitungnya seperti itu.? Apa kau tidak ingin menciumku.?" saut Luciana dengan kesal.


"Ah, bukan seperti itu. Aku juga memiliki batasan, bagaimana jika aku tidak bisa menahannya.?" tanya Marco.


"Eeh.? Kau sudah berjanji untuk tidak merusakku kan.?" saut Luciana dengan wajah memerah.


"Hehe. Kalau begitu, jangan peluk aku saat tidur. Aku bisa meronta-ronta." kata Marco dengan tersenyum lebar.


"ituu, aku kan hanya kedinginan." saut Luciana dengan malu.


"Sudahlah, kita lanjutkan ke lantai selanjutnya. Aku tidak ingin Rudy sampai menunggu lama." kata Marco sambil berjalan.


"Oke." saut Luciana sambil mengikuti Marco.

__ADS_1


...


__ADS_2