
Di atas benteng. Rudy dan Emma masih di atas sana sambil menunggu yang lainnya datang. Beberapa saat kemudian Marco mengendong Lilia keluar dari dungeon.
"Rudy, Marco sudah kembali." Kata Emma.
"Eh.? Ada apa dengan Lilia.?" Tanya Rudy yang terkejut.
"Mereka pasti meracuni Lilia di dalam sana." Jawab Emma.
DEEP. Marco pun sampai di atas benteng dengan raut wajah yang marah.
"Bajingan mereka semua." Kata Marco.
"Apa dia bersama Panglima kerajaan.?" Tanya Emma.
"Aku menemukannya tergeletak sendirian di lantai 27. Untung saja dia masih belum jauh." Jawab Marco.
"Jadi Lilia di racuni di sana dan di tinggalkan sendirian.?" Tanya Rudy dengan terkejut.
"Sepertinya mereka kabur bersama kapal-kapal itu, setelah mereka melumpuhkan Lilia disana." Jawab Emma.
"Keterlaluan sekali mereka." Saut Rudy sambil mengepalkan tangannya.
"Bagaimana keadaanya.?" Tanya Emma.
"Dia terkena racun yang sama dengan Rudy. Untungnya masih belum menyebar ke otak, jika sampai aku telat sedikit, mungkin Lilia akan mati di dalam sana." Jawab Marco.
"Dia pasti di paksa makan sesuatu disana." Kata Emma.
"Mereka merencanakannya dengan baik. Pasti mereka tau, waktu yang di tempuh untuk memasang koin-koin itu, jika Lilia tergeletak disana selama satu minggu, sudah pasti tubuhnya akan membusuk. Bahkan dengan Resorruction Magic sekalipun, pasti jiwanya tidak mau kembali lagi." Kata Rudy.
"Kita harus cepat mengejar mereka Rudy." Kata Marco.
"Kita pasti kesana Marco, kau tenanglah dulu. Kita masih belum punya bukti apapun. Bahkan makanan di dapur umum pun sudah tidak ada lagi, mereka semua menghilangkan semua bukti yang ada." Saut Rudy.
"Jika seperti itu, kita hanya perlu menghancurkan kerajaan mereka." Kata Marco.
"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak bersalah.?" Tanya Rudy.
"He.?" Saut Marco.
"Bagaimana dengan orang-orang yang mereka tindas selama ini.? orang-orang sepertimu yang tinggal di dalam benteng.? Sepeti Lilia dan Rin.? Apa kau sudah memikirkan itu.? Rakyat jelata disana tidak tau apa-apa Marco." Kata Rudy dengan serius.
Marco pun hanya terdiam disana dengan merenung.
__ADS_1
"Mudah saja bagi kita menghancurkan sebuah kerajaan. Tapi dampaknya akan sangat buruk. Jika rakyat jelata disana tau, kalau kerajaan sudah runtuh, mereka akan membrontak kedalam dan menyerang semua orang yang memiliki status sosial disana. Kalau sudah seperti itu, kita hanya menciptakan orang bejat yang baru. Keserakahan rakyat jelata lebih buruk dari pada para bangsawan, karena mereka belum pernah merasakan kekayaan yang sebenarnya." Kata Rudy.
Marco yang mendengarnya pun hanya bisa menelan ludah.
"Kau paham Marco.? Mereka akan merebut kekuasaan yang sudah hilang. Kursi tahta seorang Raja akan di perebutkan dengan nyawa, mereka akan berperang satu sama lain. Dan dampak terburuknya adalah, mereka sengaja menghancurkan menara, lalu Hewan iblis akan masuk kedalam sana dan membrantas semua manusia dalam sekejap. Justru kitalah yang bejat. Tugas yang seharusnya melindungi manusia, menjadi pembasmian massal." Kata Rudy dengan serius.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan.?" Tanya Marco sambil mengepalkan tangannya.
"Kami sudah pernah membicarakan ini sebelumnya Marco. Kami sudah punya jawabanya, hanya tinggal menunggu keputusan Rudy." Jawab Emma.
"He.? Jadi kau sudah tau akan terjadi seperti ini Rudy.?" Tanya Marco.
"Aku tau, aku dan Emma tau akan terjadi seperti ini." Jawab Rudy.
Marco pun hanya tercengang dan menelan ludah sambil melihat Rudy.
"Kau tidak perlu terkejut seperti itu Marco. Aku dan Emma sudah mempelajari kehidupan manusia di dunia ini selama ratusan tahun." Kata Rudy.
"Ratusan.? Ratusan tahun.?" Saut Marco dengan tercengang.
"Sangat sulit menjelaskannya padamu Marco. Yang paling penting sekarang adalah, bagaimana cara kita merubah pola pikir manusia, bukan memusnahkan mereka. Itu yang masih belum kita temukan jawabannya." Kata Rudy.
"Hal seperti itu sangat sulit dilakukan. Tapi aku tidak menyangka, ternyata kalian sudah hidup ratusan tahun." Saut Marco.
"Aku hidup ratusan tahun bersama Emma dalam bentuk jiwa. Kesadaran kami tidak hilang sejak saat itu. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk datang ke dunia ini." Kata Rudy.
"Ah, kami sudah merencanakannya dengan matang, bahkan senjata dan perlengkapan yang kau miliki saat ini, itu semua adalah buatan Emma." Jawab Rudy.
Marco pun menelan ludah dengan sangat tercengang. "Jadi, kalian adalah Dewa.?" Saut Marco dengan ketakutan.
"Aku sendiri tidak bisa menjawabnya. Apakah Dewa itu benar-benar ada atau tidak. Bahkan kami berdua tidak bisa menciptakan sebuah dunia dan mengontrolnya. Yang kami sadari saat ini adalah, kami hanya seorang manusia biasa yang memiliki kekuatan Dewa." Kata Rudy.
"Aku benar-benar sangat terkejut." Saut Marco.
"Jadi, kami berdua memiliki misi dan tujuan saat memutuskan datang ke dunia ini. Bagaimana caranya merubah sistem dunia." Kata Rudy
"Yang bisa kami lakukan hanyalah merubahnya dengan kekuatan sihir. Jika kami bisa mengontrol Dunia ini, tidak perlu kami berdua datang kesini." Kata Emma.
"Ah, apapun tujuanmu itu, ajaklah aku bersamamu Rudy. Aku sudah tidak punya tempat untuk kembali, mungkin hanya kematian yang bisa membuatku tenang." Kata Marco.
"Apa kau tidak keberatan.? Misi ini jauh lebih berat dari dulu." Tanya Rudy.
"Aku sudah menetapkan hatiku sejak awal. Hanya saja, tujuanmu sekarang jauh lebih besar lagi. Aku benar-benar sangat ingin membantumu." Jawab Marco.
__ADS_1
"Hm, baiklah Marco. Lakukan sesukamu dengan keyakinan hatimu." Saut Rudy.
...
Lilia pun membuka matanya.
"Argh, apa yang terjadi padaku.?" Tanya Lilia yang masih merasakan kesakitan.
"Ah, Lilia. Kau sudah sadar." Saut Marco.
"Marco.? Dimana kita sekarang.? Bukankah aku sedang di dalam dungeon.?" Tanya Lilia.
"Apa kau tidak ingat sesuatu.?" Tanya Marco balik.
"Ah, aku hanya ingat stevani mengajak makan di dalam sana, dan kepalaku jadi berat. Setelah itu aku tidak tau apapun." Jawab Lilia.
"Sudah jelas kau di jebak." Saut Rudy.
"Rudy.? Apa kau baik-baik saja.?" Tanya Lilia.
"Aku sudah baikan sekarang. Lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri." Jawab Rudy.
"Baiklah. Lalu, apa maksudmu aku di jebak.?" Tanya Lilia.
"Bukan hanya kau yang di jebak, tapi kita semua sudah di jebak." Jawab Rudy.
"He.? Apa maksudnya.?" Tanya Lilia dengan terkejut.
"Lihat ke bawah sana Lilia, dan lihatlah ke dalam benteng." Jawab Marco.
Lilia pun melihat ratusan ribu hewan iblis yang terbakar di sana, dan ia juga melihat kawasan militer kerajaan sudah kosong tidak ada siapapun.
"Ini, apa yang sudah terjadi.?" Tanya Lilia.
"Kita sudah di hianati Lilia, bahkan mereka meracuni tubuhku dan tubuhmu." Jawab Rudy.
"Jadi, makanan yang aku makan tadi beracun.?" Saut Lilia dengan terkejut.
"Itu benar. Jika Marco tidak menemukanmu lebih cepat, mungkin kau akan mati didalam sana." Jawab Rudy.
Lilia pun hanya menelan ludah. "Apa tujuan mereka.?" Tanya Lilia.
Tiba-tiba. "Kak Rudy, hosh hosh." Teriak Rin yang tetengah-engah dari kejauhan sambil menyeret sebuah peti.
__ADS_1
"Hm, sepertinya kita akan tau jawabanya." Kata Rudy dengan tersenyum sambil melihat Rin menyeret sebuah peti.
...