
Di suatu tempat daerah selatan benteng. Marco dan Lilia membawa Rin kesana untuk berlatih.
"Pelajaran pertama, merasakan energi sihir dari dalam tubuh. Kau hanya perlu berkonsentrasi dan merasakan aliran energi di dalam tubuhmu. Lakukan sekarang." Kata Marco.
"Baik kak." Kata Rin sambil bersila dan memejamkan mata.
Marco dan Lilia pun hanya terdiam sambil melihat Rin yang sedang berkonsentrasi.
"Merasakan aliran energi di dalam tubuh." Kata Rin dalam hati.
SWOSH. Suara aliran energi dari dalam tubuh Rin. Ia bisa merasakannya dengan cepat.
"Aku bisa merasakannya kak." Kata Rin.
"He.? Ini baru beberapa detik. Cepat sekali kau belajar." Saut Marco.
"Sepertinya kita melatih anak yang jenius." Kata Lilia.
"Baiklah, sekarang keluarkan aura dari dalam tubuhmu. Kau hanya perlu melepaskan energi itu dari dalam. Tekan energi itu sampai keluar menggunakan tekanan dada." Kata Rin.
"Baik kak, akan aku coba." Saut Rin.
WOOSSH. Aura Rin keluar dari dalam tubuhnya.
"Hem, energi ini masih sangat lemah. Mungkin dia berada di tingkat Rank D+, kekuatan itu cukup tinggi di usianya yang masih bocah." Kata Marco dalam hati
"Sudah Rin, berhentilah." Kata Marco.
"Bagaimana kak.?" Tanya Rin.
"Kau sudah cukup kuat di antara bocah seusiamu." Jawab Rin.
"Dia bertipe assasin sepertinmu Marco, sepertinya dagger sangat cocok untuknya." Kata Lilia.
"Kau benar Lilia, kita coba saja dengan senjata ini." Kata Marco sambil mengeluarkan dagger Rank B dari cicin penyimpanan.
"Ambilah ini Marco. Dan coba serang aku dengan sekuat tenaga." Kata Marco.
"He.? Itu seperti senjata yang sangat mahal kak." Saut Rin.
"Dari mana kau tau ini sangat mahal.? Bahkan jenis senjata ini sangat rendah di tempat penyimpananku." Kata Marco.
"Benarkah.?" Tanya Rin.
"Sepertinya kau harus memberikan perlengkapan set padanya Marco. Senjata itu memang tidak jauh dari Rank asalnya. Tapi untuk berjaga-jaga, lebih baik dia menggunakan perlengkapan full set." Saut Lilia.
"Ah, kau benar." Kata Marco sambil mengeluarkan perlengkapan full set Rank S.
"Ini perlengkapan set yang aku pakai dulu, sekarang aku tidak butuh lagi, lebih baik kau pakai saja." Kata Marco.
"Wah, ini keren sekali." Kata Rin.
"Jubah dan perlengkapan lainnya tidak terlihat mencolok. Ini seperti pakaian biasa yang di gunakan sehari-hari. Cobalah." Kata Marco.
"Baik kak, aku akan mencobanya." Kata Rin sambil mengenakan perlengkapan full set.
Lalu, ZUIING. Perlengkapan yang di pakai Rin menyusut menyesuaikan tubuhnya.
__ADS_1
"Waaah, kereen sekali." Kata Rin dengan tersenyum lebar.
"Aku ganti senjatanya, gunakan dual dagger ini." Kata Marco yang memberikan dagger Rank S+.
"Senjatanya bercahaya. Apa boleh aku menyentuhnya kak.?" Tanya Rin.
"Tentu saja boleh. Ini aku berikan untukmu, tapi kau hanya boleh menggunakan senjata ini untuk membunuh hewan iblis." Jawab Rin.
"Baik kak." Saut Rin sambil menerima dual dagger dari Marco.
"Ini sangat keren sekali. Sepertinya ini item super langkah." Kata Rin dalam hati.
"Sekarang, coba serang aku dengan kekuatan penuhmu." Kata Marco.
"Aku tidak bisa kak." Saut Rin.
"Kenapa tidak bisa.?" Tanya Marco.
"Item ini sangat berharga, aku tidak bisa menerimanya." Jawab Rin.
"Huh, dia sama sepertiku, sangat berhati-hati dengan barang orang lain." Kata Marco dalam hati.
"Baiklah kalau gitu. Aku hanya memintamu untuk menyerangku dengan perlengkapan itu. Lakukan saja." Kata Marco.
"Tapii, tanganku masih gemetar." Saut Rin.
"Kau sangat naif sekali Rin. Itu adalah item sampah di tempat penyimpananku." Kata Marco.
"Tidak perlu takut rusak, gunakan saja senjata itu. Jika rusak, kau bisa memintanya lagi pada kak Marco." Kata Lilia.
"Heh.?" Saut Rin dengan tercengang.
"Hem, sepertinya nasibmu tidak ingin berubah. Baiklah, jika kau tidak ingin menyerangku, aku ambil semua set perlengkapan itu." Kata Marco.
Dalam hati Rin, dia sangat ragu. "Ini sangat membingungkan." Kata Rin dalam hati.
"Bagimana Rin.? waktu kita terbatas, jadi apa keputusanmu.?" Tanya Marco.
"Baiklah kak, aku akan mencoba meyerang kakak." Jawab Rin.
"Bagus. Sekarang, serang aku." Saut Marco.
Rin pun hanya menelan ludah, perlahan ia bergerak mendekati Marco, lalu ia berlari, dan berlari lagi cukup kencang.
"HIAAA." Teriak Rin.
SWOS, WOS, WOS. Suara dagger yang di hempaskan ke tubuh Rin. Dan Marco hanya menghindari serangan itu.
"Gerakannya sangat amatiran sekali." Kata Marco dalam hati.
"Hia, hia hiaa." Teriak Rin sambil menghempaskan daggernya.
"Kau tidak bisa menyerang seperti itu. Gunakan sihirmu untuk memperkuat dan mempercepat seranganmu." Kata Marco.
"Ah, baik. HOAA." Teriak Rin sambil mengeluarkan aura sihirnya.
SWOS. WOSH WOSH. Suara serangan Rin dengan sekuat tenaka menyerang Marco.
__ADS_1
"Hem, dia tidak bisa berkembang dengan cepat jika seperti ini terus." Kata Marco dalam hati.
Glep. Tiba-tiba tangan Marco memegang pundak Rin. Lalu. DEEP. Mereka berdua pun menghilang dari sana.
"Huh, dia terlalu buru-buru." Kata Lilia sambil memejamkan matanya.
...
Di tengah hutan, Marco membawa Rin keluar dari tembok.
"Heh.?" Saut Rin yang terkejut.
SWOSH. Suara tubuh Rin yang di lempar ke tengah hutan. Buok. Tubuh Rin pun menghantam tanah.
"Iteeh." Suara Rin kesakitan.
Lalu. GRRRR. Raungan hewan iblis Rank A+. Hewan iblis disana pun langsung berlarian ketempat Rin. Dan Marco mendarat di atas pohon.
"Mari kita lihat, seberapa hebat jika kau berhadapan dengan hewan iblis secara langsung." Kata Marco yang melihat Rin di kepung puluhan hewan iblis.
Rin pun hanya menelan ludah melihat hewan iblis untuk pertama kalinya. Bahkan tubuhnya gemetar cukup kencang.
"Inikah sosok hewan iblis.?" Kata Rin dalam hati dengan tercengang.
"Sepertinya aku di jebak." Kata Rin.
GROAAR. Teriakan hewan iblis sambil menyerang Rin dengan cakarnya.
"Hiks, ini menakutkan sekali. Bahkan aku tidak bisa bergerak." Kata Rin dalam hati.
SWOSH, SRAK. Marco pun membantu Rin dari jauh.
"Apa yang dilakukan bocah itu. Sudah jelas-jelas nyawanya terancam." Kata Marco.
"Oe Bocah. Serang hewan iblis itu dengan kemampuanmu. Kenapa kau hanya diam hanya. Apa kau ingin mati.?" Teriak Marco.
"Heh ?" Saut Rin dengan tercengang.
Lalu. SRAK. Tubuh Rin pun terkena cakaran hewan iblis, sampai tubuhnya terpental cukup jauh. Buok. "Arrgh." Suara Rin, bahkan kepalanya sampai berdarah.
"Hem, masih saja terluka, padahal sudah di lengkapi set perlengkapan langkah." Kata Marco.
Tiba-tiba DEEP. Lilia pun datang di samling Marco. "Kau terlalu memaksanya Marco." Kata Lilia dengan kesal.
"Biarkan dia bertarung secara langsung, jika tidak, dia tidak akan bisa berkembang." Saut Marco.
"Apa kau sadar, bahkan kau masih mengajarinya beberapa menit saja." Kata Lilia.
"Diamlah Lilia, kita lihat saja, apa yang akan dilakukan bocah itu." Saut Marco.
"Aah. Ini sakit sekali." Kata Rin sambil bangun.
GRRR. Raungan hewan iblis yang akan menyerang Rin.
"Apa yang harus aku lakukan.?" Kata Rin sambil melihat puluhan hewan iblis yang berlari kearahnya.
...
__ADS_1
"Mari kita lihat bocah jenius seperti yang kau katakan." Kata Marco.