
Terlihat, Rudy, Marco dan Rin tercengang melihat fasilitas kamar yabg ada di dalamnya.
"Woaah, ini sangat menakjubkan." Kata Marco.
"Kamar ini sangat mewah sekali, bahkan bingkai lukisan itu terbuat dari emas." Kata Rudy.
"Kamar mandinya juga ada 3. Benar-benar sangat luas." Kata Marco.
"Biarkan aku tidur sebentar kak." Kata Rin.
"Ah, kau tidurlah disana." Kata Marco sambil melempar tubuh Rin.
Buk, suara tubuh Rin yang terjatuh di atas kasur.
"Kasurnya empuk sekali kak." Kata Rin.
"Benarkan.? Hahaha, tidurlah dengan puas Rin, jika kau lapar, kau bisa memesan sesukamu. Kau sudah punya uang banyak sekarang." Kata Marco.
"Ah, baiklah kak. Aku ingin tidur dulu." Saut Rin, dan ia pun langsung tertidur.
"Lihatlah kesini Marco." Kata Rudy yang memanggil Marco dari luar balkon.
"Sepertinya disana sangat indah untuk di lihat." Kata Marco sambil berjalan menghampiri Rudy.
"Ternyata Kapal ini sudah terbang, aku bahkan tidak terasa sudah ada di atas udara." Kata Rudy.
"Jika dilihat dari sini, kota selatan ternyata sangat luas sekali. Bahkan bentengnya melingkar sangat besar." Saut Marco yang melihat kebawah.
"Aku sendiri tidak menyangka, kota itu benar-benar sangat luas. Bahkan kita tidak sempat berkeliling kesemua tempat." Kata Rudy.
"itu akan sangat melelahkan Rudy." Saut Marco dengan tersenyum sambil melihat kota selatan dari atas udara.
"Apa ibu kota akan terlihat jauh lebih besar lagi dari kota ini.?" Tanya Rudy.
"Aku juga ingin melihatnya." Jawab Marco.
"Huh, kalau begitu, aku akan rebahan dulu." Saut Rudy.
"Lalukan sesukamu." Kata Marco sambil melihat Rudy masuk kedalam kamar.
...
"Aku tidak menyangka bisa berada disini. Hidupku sudah berubah 100% sejak aku bertemu dengannya. Dunia ini memang sangat kejam. Terimakasih banyak Rudy." Kata Marci dalam hati dengan tersenyum.
...
Sore hari, di caffetaria. Emma dan Lilia sedang makan berdua disana.
"Apa Rudy dan lainnya tidak kesini Emma.?" Tanya Lilia.
"Aku tidak tau, mungkin mereka sedang bermain." Jawab Emma.
"Hihi, kau benar. Kita biarkan saja mereka bermain." Saut Lilia.
Tiba-tiba mereka di datangi oleh 3 Murid laki-laki Akademi.
"Hallo Nona-nona. Boleh kah kami ikut bergabung.?" Kata salah satu murid akademi yang mendekati Emma dan Lilia. Dia bernama Kevin, dan salah satu keturunan bangsawan kelas atas.
"Masih banyak kursi yang kosong, kenapa kau memilih kesini.?" Saut Emma.
__ADS_1
"Dia benar-benar sangat cantik jika di lihat dari sini Kevin." Kata Julius. Dia juga salah satu keturunan bangsawan kelas atas.
"Tentu saja aku ingin berkelanan denganmu Nona, siapa nama Anda.?" Tanya Kevin sambil membungkukkan badan.
"Jangan ganggu kami." Jawab Emma.
"Em, kau cukup menarik juga." Saut Kevin sambil duduk di sebelah Emma.
"Nona ini juga sangat cantik, siapa nama Anda Nona.?" Tanya Kenn, dia juga dari keturunan bangsawan kelas atas.
"Hahaha, kau mengambil start lebih awal dariku." Kata Julius.
"Kenapa kau diam saja Nona.? Kami tidak akan menyakiti kalian." Kata Kenn.
"Ada urusan apa kalian datang kesini.?" Tanya Lilia.
"Tentu saja untuk berkenalan dengan Anda." Jawab Kenn sambil duduk di sebelah Lilia.
"Maaf, kami sedikit terganggu." Kata Emma.
"Aku tidak akan lama-lama disini. Apa kalian juga akan pergi ke Akadami.?" Tanya Kevin.
"Tentu saja, kami murid baru di Akademi." Jawab Emma.
"Perkenalkan, namaku adalah Kevil Rosehood, dari bangsawan kelas satu Rosehood. Dan ini bernama Julios, lalu dia bernama Kenn. Kami juga salah satu murid baru di Akademi Rousen. Salam kenal Nona-nona." Kata Kevin yang memperkenalkan dirinya.
"Ah, dari keluarga bangsawan, sangat tidak cocok berkenalan denganku." Kata Emma.
"Apa maksudmu.? Apa kau bukan dari keluarga bangsawan.?" Tanya Kevin.
"Kami adalah rakyat jelata, yang kebetulan diterima di Akademi." Jawab Emma.
"Pakaian dan wajah kalian seperti dari istana kerajaan, saya mengira kalian adalah putri Raja." Kata Julius.
"Itu benar. Mana mungkin rakyat jelata bisa masuk ke dalam kapal ini." Kata Kenn.
"Huh, baiklah kalau kalian tidak percaya." Saut Emma.
"Hem, jika kalian adalah rakyat jelata, kenapa kalian bisa diterima di Akademi.? Apa kau punya uang.? Atau kau punya kekuatan.?" Tanya Kevin dengan serius.
"Sudah aku katakan, kami hanya kebetulan di terima di Akademi." Jawab Emma.
"Berani sekali kalian masuk kedalam kapal ini, bahkan kaliam makan di tempat VVIP. Apa kau penyusup.?" Tanya Kevin dengan serius.
"Ternyata penyusup. Sangat di sayangkan wajah cantikmu itu." Saut Julius.
"Hehe, lebih baik aku beli saja kalian sebagai budakku, bagaimana.?" Kata Kenn sambil mengerakkan tangannya ke arah tubuh Lilia.
Lalu, Plak.
"Hentikan itu." Kata Lilia yang tiba-tiba menampar tangan Kenn.
"Apa yang kau lakukan.? Kami juga salah satu murid Akademi Rausen. Bersikaplah dengan sopan kepada perempuan." Kata Lilia dengan kesal.
"He.? Hahaha. Justru kalian yang harus bersikap sopan kepada kami." Kata Kenn.
"Rakyat jelata seperti kalian tidak pantas berada disini. Kalian juga tidak berguna di kalangan manusia, lebih baik ikut saja dengan kami. Aku sangat ingin menjilati wajah cantikmu itu." Kata Julius.
"Baiklah, jika kalian ingin membeli kami, harganya 1 Miliar koin emas. Apa kau sanggup.?" Saut Emma.
__ADS_1
"HAAA.?" Teriak mereka bertiga dengan sangat terkejut.
"Kau benar-benar tidak tau harga diri, rakyat jelata yang sudah di butakan dengan uang. Apa kau pikir bangsawan kelas atas punya uang sebanyak itu.?" Kata Kevin dengan kesal.
"Jika kalian tidak punya uang, jangan menawar kami." Kata Emma dengan serius.
"Kurang ajar sekali dia." Kata Kenn sambil berdiri.
"Aku baru tau, ternyata bangsawan kelas atas sekalipun tidak mempunyai uang sebanyak itu." Saut Lilia.
"Kalian tidak tau malu, seenaknya saja kau bilang seperti itu." Kata Kenn dengan marah sambil mengeluarkan aura sihir dari tubuhnya.
"Apa kau ingin melawanku.?" Tanya Lilia.
"Aku ingin menyiksamu." Jawab Kenn.
"Hoo, ternyata seperti itu kau memperlakukan perempuan." Saut Lilia sambil mengeluarkan aura sihirnya.
"Hentikan itu Lilia. Kita pergu dari sini, jangan sampai Rudy melihat kejadian ini." Kata Emma sambil berdiri dari duduknya.
"Kau juga berhentilah Kenn, banyak bangsawan yang melihat kemari." Kata Kevin.
"Hosh, hosh." Suara Kenn yang masih marah sambil menghentikan auranya.
Emma pun berjalan pergu dari sana.
"Kau selamat untuk saat ini. Lain kali jika kita bertemu lagi, aku tidak akan segan-segan." Kata Kenn.
"Kau yang selamat." Saut Lilia sambil mengikuti Emma.
"Apaaa.?" Teriak Kenn dengan kesal.
"Sampai bertemu lagi cantik." Kata Kevin kepada Emma.
"Mereka harus kita laporkan Kevin. Di dalam kapal ini ada penyusup." Kata Julius.
"Biarkan mereka, kita lihat saja di Akademi nanti." Saut Kevin
"Aku sudah ingin menyiksanya." Kata Kenn.
"Kau terbawa emosi Kenn. Lebih baik perempuan itu untukku." Kata Julius.
"Ambil saja rakyat jelata itu." Saut Kenn.
...
"Mereka sangat menganggu waktu makan kita." Kata Lilia.
"Lebih baik kita menghindar dari orang-orang macam mereka." Saut Emma.
Lalu. "Hoee, Emma." Teriak Rudy yang memanggil Emma.
"Ah, Rudy.?" Saut Emma.
"Kemarilah, kita makan di luar sini. Pemandangannya sangat indah." Teriak Rudy.
"Hem. Kita kesana Lilia, lebih aman jika kita berada di samping Rudy." Kata Emma.
"Ah, baiklah." Saut Lilia.
__ADS_1
...