
Di alam bawah sadar Rudy. Ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. Bahkan ingatannya kembali dengan sendirinya.
Rudy hanya terdiam mematung mengingat semua yang sudah terjadi padanya.
"Ini.? Tidak mungkin." Kata Rudy dengan sangat tercengang.
"Jadi selama ini, kau menjaga rahasia itu karena aku sendiri yang memintanya."
"Kitalah Dewa itu, benarkan Emma.?" Rudy pun meneteskan air mata dengan sendirinya.
"Bahkan aku bisa melihat ingatannya, kau sudah sangat menderita."
ZEEP. Rudy pun kembali ketubuhnya. Dan ia masih terdiam disana dengan meneteskan air mata.
"Apa dia masih disana.? Aku sangat ingin menemuinya." Rudy pun langsung berdiri dan berlari ke lantai atas dengan sangat cepat.
...
Di tempat Emma berada. Jiwanya kembali ke tubuh aslinya. Dan ia pun duduk bersandar dengan wajah yang sangat gelisah.
"Di tempat itu, Rudy sudah tidak ada lagi disana, apa aku dan dia benar-benar sudah terpisah sekarang.?" Kata Emma dengan sedih.
"Tapi memang inilah rencana kita, aku sudah tidak bisa apa-apa lagi. Aku harap dia mengingat semuanya."
Emma pun memejamkan matanya, dan air matanya pun keluar membasahi pipinya.
"Hiks, ini sudah berakhir. Aku sangat takut dia meninggalkanku sendirian."
Tiba-tiba DEEP. Rudy pun sampai di depan Emma. Namun ia hanya berdiri saja disana.
"Rudy.?" Saut Emma dengan terkejut, bahkan ia pun sampai berdiri.
"Rudyy.? Apa kau marah padaku.?" Tanya Emma dengan sedih.
"Kau pengarang cerita yang hebat Emma. Apa sang Dewa memberitahumu.?" Saut Rudy.
"Hiks, Rudy. Aku, aku hanya..." Tiba-tiba Rudy pun memeluk Emma.
Rudy memeluknya dengan sangat erat, bahkan semakin erat. "Hiks, maafkan aku Rudy." Kata Emma dengan menangis.
"Aku yang minta maaf padamu. Aku sudah salah paham, maafkan aku." Saut Rudy.
"Hiks, hiks." Emma pun menangis dengan kencang di pelukan Rudy.
...
Beberapa jam pun berlalu, mereka berdua melampiaskan kerinduan yang selama ini sudah terpendam. Mereka berdua duduk berdampingan di sana.
"Apa ingatanmu sudah kembali Rudy.?" Tanya Emma.
"Ah, aku sudah mengingat semuanya, bukan hanya ingatanku saja yang kembali, tapi ingatan 25rb tahun yang lalu juga, aku bisa melihatnya." Jawab Rudy.
"Apa aku mengakatan kebohongan padamu.?" Tanya Emma.
Rudy pun hanya terdiam dengan tersenyum kepada Emma.
"Apa Dewa memberitahukan semuanya padamu.?" Saut Rudy.
"Kaulah Dewanya." Kata Emma.
"Aku sangat merindukanmu Emma. Selama itu kita terjebak di dalam ruang kosong, dan sekarang, semua rencana kita akhirnya berhasil. Aku sempat tidak percaya, tapi inilah kenyataannya." Kata Rudy.
"Aku sendiri takut padamu, tapi kau tetap memaksaku untuk menjawab pertanyaanmu." Saut Emma.
"Kau sendiri sudah tau sifatku Emma." Kata Rudy.
"Itulah yang aku takutkan. Tidak mudah menjelaskan cerita padamu." Kata Emma.
__ADS_1
"Tapi aku percaya sekarang. Kau memang cukup cantik. hehe." Saut Rudy.
"Aku memang cantik, bukan cukup. Kau awalnya tidak mempercai perkataanku. Dan sekarang kau melihatnya sendiri." Kata Emma.
"Lalu, bagaimana dengaku.? Kau sendiri yang memilih tubuh ini." Tanya Rudy.
"Ah, meskipun wajahmu cukup ganteng, tapi yang aku lihat adalah jiwamu, bukan fisikmu. Karena fisik bisa tua karena usia, sudah tidak ada lagi wajah yang kau banggakan itu." Jawab Emma.
"Eh.? Harusnya aku yang bilang seperti itu." Saut Rudy.
"Apa kau mau protes padaku.?" Saut Emma.
"Ah, sepertinya itu tidak mungkin." Kata Rudy.
"Kau harus menerimaku apa adanya, kau sendiri yang bilang, kita akan hidup bersama selamanya. Kata-kata itu selalu aku ingat setiap saat." Kata Emma.
"Hahaha, mana mungkin aku menolak wajah cantik ini." Kata Rudy sambil memegang pipi Emma.
"Berhentilah memegang wajahku." Kata Emma dengan kesal.
Rudy pun tiba-tiba mencium Emma dengan mesra. Dan Emma hanya terdiam dengan sangat terkejut.
Beberapa detik kemudian, Rudy pun melepaskan ciumannya. "Aku sudah menyentuhmu." Kata Rudy.
"Apa yang kau lakukan.?" Saut Emma dengan terkejut.
"Ah, aku hanya ingin menyentuh bagian itu Emma. Maaf aku sudah mencurinya darimu." Kata Rudy.
"Aku sangat terkejut Rudy, bahkan sampai aku tidak bisa merasakan bibirmu. Apa boleh kita lakukan sekali lagi.?" Saut Emma.
"Eh.?" Saut Rudy dengan terkejut. Emma pun langsung mencium Rudy dengan penuh cinta, dan Rudy pun membalas ciuman itu.
Beberapa saat kemudian. Mereka pun melepaskan ciumannya.
"Terimakasih Rudy, aku harap perkataanmu itu benar." Kata Emma yang masih memeluk Rudy.
"Aku tidak ingin tinggal sendirian. Hanya kaulah yang aku miliki saat ini. Kau bilang padaku, kita akan tinggal bersama selamanya. Bahkan kau ingin membangun rumah bersamaku." Jawab Emma.
"Kau sudah merasakan tinggal sendirian Emma, bahkan tidak ada manusia satu pun saat itu. Aku sendiri tidak bisa membayangkannya, bagaimana perasaanmu waktu itu. Tentu saja aku tidak bisa meninggalkanmu sekarang." Kata Rudy sambil mencium kening Emma.
"Aku hanya khawatir kau akan meninggalkanku, jiwa kita sudah berpisah sekarang." Kata Emma.
"Siapa bilang jiwa kita terpisah. Hanya pindah tempatnya saja, tidak ada yang berubah dengan sifatku. Aku masih tetap sama, seseorang yang kau kenal ratusan tahun yang lalu." Saut Rudy.
"Terimakasih." Kata Emma dengan tersenyum.
"Baiklah, kita kembali sekarang. Masih banyak yang harus kita bahas kedepan." Saut Rudy sambil mengandeng tangan Emma.
"Eh.? Apa kau akan menikahiku.?" Tanya Emma.
Rudy pun tiba-tiba berhenti dari langkahnya. "Bukan itu yang ku maksud." Teriak Rudy.
"Lalu, apa yang kau maksud dengan kedepan.? Tanya Emma.
"Huh." Rudy pun hanya menghelah nafas.
...
Di luar Dungeon.
Terlihat beberapa murid Akademi Rousen sedang berkumpul di depan pintu dungeon Expert bersama dengan Alicia.
"Ho, jadi ini adalah dungeon Expert.?" Tanya Murid 1.
"Tempatnya sangat menyeramkan sekali." Kata Murid 2.
"Kalian tidak boleh masuk kedalamnya, itu sangat berbahaya buat kita." Kata Alicia.
__ADS_1
"Lalu, apa ada yang masuk kedalam sana Tuan Putri.?" Tanya Murid 1.
"Tentu saja ada. Sudah 5 bulan mereka masuk kedalam sana. Mungkin mereka sekarang sedang bertarung dengan hewan ibis." Jawab Alicia.
"Hm, siapa yang berani masuk kedalam sana Tuan Putri.?" Tanya Murid 2.
"Aku tidak bisa menjawab itu. Lebih baik kita lanjutkan pelajaran kalian." Jawab Alicia.
"Baiklah Tuan Putri." Saut Murid 2.
"Oke, pelajaran pertama. Dungeon memiliki dasar, selama ini kita menganggap dungeon tidak memiliki dasar, dan tidak ada ujungnya. Tapi, seseorang sudah membuktikannya, dungeon memiliki 1000 lantai, dan..." Alicia pun memberikan pelajaran kepada Murid-Murid Akademi disana.
...
Di tempat lain di dalam dungeon Hard lantai 245. Marco bersama Rin, Eva, dan Herry, melakukan perburuan didalam sana.
"Huh, huh, aku sudah mencapai batas sekarang." Kata Herry dengan terengah-engah.
"Kau kalah dengan Rin, lihatlah dia, apa kau tidak malu dengannya.?" Saut Marco.
"Tapi perlengakapannya jauh lebih baik dari pada kami Marco." Kata Herry.
"Berhentilah mengeluh, dan lakukan latihanmu sekarang." Kata Marco sambil menendang bokong Herry.
"Huh, huh, Cukup sampai disini Marco, kami sudah tidak kuat. Kita kembali lagi besok pagi." Kata Eva.
"Kalian memang sangat manja sekali. Bagimana denganmu Rin.?" Teriak Marco.
"Hiaaa." Teriak Rin yang masih bertarung dengan hewan iblis Srak Slash.
"Hosh, hosh, Aku juga sudah lelah kak." Kata Rin.
"Baiklah, kita kembali sekarang." Saut Marco.
"Kau selalu seperti itu Marco, kapan kau akan mendengarkan kami.?" Kata Herry.
"he.? Diamlah. Rin masih seorang bocah, berbeda denganmu yang sudah tua." Saut Marco.
"Padahal aku masih seumuran denganmu." Kata Herry dengan cemberut.
...
Di tempat lain. Terlihat Lilia sedang membunuh hewan iblis yang keluar dari dungeon Expert satunya bersama dengan para Panglima.
"Kenapa mereka tidak ada habisnya.?" Tanya Viona sambil menyerang hewan iblis yang keluar dari dungeon.
"Serang terus, jangan berhenti." Kata Lilia sambil memperhatikan para panglima disana.
"Apa kau tidak ingin membuat Barrier disini Lilia.? Kami sudah mencapai batas menjaga tempat ini." Kata Stevani.
"Kalian memang selalu seperti itu." Saut Lilia.
"Kita sudah berdiri disini selama 3 jam sambil menyerang mereka, biarkan kami istirahat sebentar." Kata Kevin.
"Hm, baiklah kalau begitu." Saut Lilia sambil mengarahkan tangannya ke arah dungeon.
SWOSH, BREDOM. Sihir api yang melesat kedalam dungeon. Lalu ZING. Lilia pun membuat Barrier disana.
"Kembalilah besok pagi, kalian masih punya tugas disini." Kata Lilia.
"Kenapa kita menjadi budaknya sekarang. Harusnya kita yang membuat aturan militer disini." Kata Kevin yang berbisik.
"Diamlah, lakukan saja apapun yang dia perintahkan." Kata Stevani.
"Huh." Kevin hanya menghelah nafas.
...
__ADS_1