
Pagi hari pun tiba. Terlihat Rudy sedang tertidur pulas di atas lantai. Sedangkan Emma sudah rapi dengan pakainnya.
"Seperti biasa, dia tidur dengan lelap. Padahal tubuhnya tidak butuh tidur. Mungkin itu kebiasaan saat dia masih berada di dunianya dulu." Kata Emma sambil melihat Rudy dengan duduk.
"Hem, mungkin tidak baik jika aku menganggunya." Kata Emma sambil berjalan keluar kamar.
Di Bar makan. Terlihat Lilia sedang memesan makanan disana.
"Lilia." Kata Emma yang menyapa.
"Ah, Emma, kau datang." Saut Lilia.
"Apa Marco belum datang juga.?" Tanya Emma.
"Laki-laki memang suka tidur Emma. Biarkan saja mereka." Jawab Lilia.
"Lalu, apa rencanamu hari ini.?" Tanya Emma.
"Sebenarnya aku ingin pergi shopping. Apa kau mau ikut Emma.?" Saut Lilia.
"Hem, kalau itu adalah kebiasaan perempuan. Baiklah, mari kita pergi shopping." Kata Emma dengan tersenyum.
"Kita sarapan dulu disini, setelah itu kita pergi." Kata Lilia.
"Baiklah." Saut Emma.
...
Beberapa saat kemudian. Di dalam Bar makan.
"Hoaam" Suara Rudy menguap.
"Apa kau ingin tidur seharian Rudy.? bahkan ini sudah siang." Kata Marco yang sedang makan.
"Dimana yang lainnya.?" Tanya Rudy.
"Kata pelayan, mereka sudah pergi dari pagi." Jawab Marco.
"Hem, kira-kira kemana mereka.?" Tanya Rudy.
"Aku juga ingin tau. Lalu apa rencanamu hari ini.?" Saut Marco.
"Tentu saja kita akan keluar melihat kota ini." Jawab Rudy.
"Baiklah, mari kita pergi." Saut Marco.
"Tunggu sebentar Marco, biarkan aku makan dulu." Kata Rudy.
"Pelayan, pesan 1 porsi makanan lagi." Teriak Marco kepada pelayan bar.
"Baik Tuan." Saut Pelayan itu.
...
Beberapa saat kemudian. Mereka berdua pun pergi kearah pusat kota. Terlihat banyak sekali pedagang dan pembeli yang ada di pusat kota.
"Disini sangat ramai sekali, baru kali ini aku melihat kota kuno seperti ini." Kata Rudy.
"Apa maksudmu dengan kota kuno, justru kota ini sudah modern." Saut Marco.
"Kau tidak akan mengerti maksudku." Kata Rudy.
"Kemana kita akan pergi Rudy.?" Tanya Marco.
"Aku sendiri tidak tau Marco, kita jalan saja keliling kota." Jawab Rudy.
Tidak lama kemudian, mereka berdua pun tersesat sampai di ujung kota.
"Disini terlihat kumuh sekali." Kata Rudy.
"Apa sebaiknya kita kembali saja.?" Tanya Marco.
__ADS_1
"Aku penasaran dengan pelabuhan yang di bicarakan Emma. Kira-kira, dimana tempat itu berada.?" Saut Rudy.
"Kita akan tersesat jika tidak bertanya." Kata Marco.
Tiba-tiba, mereka mendengar tangisan anak kecil disana. Bahkan tangisan itu terdengar sangat keras.
"Em.?" Suara Rudy yang terkejut mendengar tangisan itu.
"Disebelah sana Rudy, mari kita lihat." Saut Marco sambil berlari menuju sumber suara tangisan itu.
"Tunggu Marco." Kata Rudy.
"Cepat Rudy, firasatku sangat buruk." Kata Marco sambil berlari.
Tiba-tiba, Marco pun berhenti seketika. Wajahnya terlihat sangat marah, kesal, dan terharu. Rudy pun melihat sesuatu yang tidak ingin ia lihat.
"Apa yang sudah mereka lakukan.?" Tanya Rudy yang melihat sesuatu.
"Mereka menindas yang lemah Rudy." Jawab Marco.
...
"Hiks, Ampuni saya Tuan." Teriak anak laki-laki berusia 6 tahun sambil menangis.
"HEE.? Apa yang kau bilang.? pengemis seperti kalian harusnya mati saja." Kata seseorang disana sambil menyiksa anak kecil itu. (Orang 1)
"Hahaha, patahkan kakinya." Kata Orang 2.
"Uhuk, uhuk, ampuni saya Tuan." Kata Anak kecil itu sampai mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Kita hanya mempercepat usiamu saja. Orang-orang seperti kalian tidak ada gunanya tinggal di kota ini." Kata Orang 3.
"Sebaiknya kau menyusul temanmu di alam sana." Kata Orang 1.
Mereka bertiga pun memukuli anak kecil itu hingga babak belur, bahkan darah sudah berceceran dimana-mana.
"Bajingan." Kata Marco dengan kesal.
"Hem.? Siapa kalian.?" Saut orang 3.
"Apa yang sudah kalian lakukan.?" Kata Rudy dengan kesal.
"Apa urusanmu.? Apa kau mencari gara-gara dengan kami.?" Saut orang 3.
"Berhentilah menyiksanya. Bahkan dia sudah tidak bisa berbicara lagi." Kata Rudy.
"Berani sekali kau memperintah kami." Kata orang 2.
"Hem, sepertinya mereka berdua butuh di hajar supaya mengerti." Kata orang 1.
"Bahkan kalian tidak mengenali lambang ini.?" Kata orang 3 sambil menunjukkan lambang bangsawan di dadanya.
"Apa itu penting.?" Saut Rudy.
"Sombong sekali kau, bahkan para bangsawan kelas rendah saja sangat menghormati kami." Kata Orang 1.
"Aku tidak mau basa-basi lagi." Kata Marco sambil mengeluarkan auranya.
"Jangan gunakan kekuatanmu Marco. cukup pukul saja mereka." Kata Rudy.
"Apaa.? Apa aku tidak salah dengar.? Hahaha." Kata orang 2 dengan tertawa lepas.
"Berani sekali kau mengancam kami." Kata orang 3.
"Hajar mereka." Kata Orang 1.
"Hem, aku tidak akan kasar dengan kalian, jadi terima saja sihir ini." Kata Orang 3 sambil mengeluarkan api dari tangannya.
WOSH. Api itu pun menybar ke arah Rudy dan Marco. BREDOM. Suara hantaman api. Asap tebal pun keluar dari tempat Rudy dan Marco.
"Apa hanya segini kekuatan yang kau sombongkan.?" Kata Rudy.
__ADS_1
"Apa.?" Saut Orang 3.
Rudy pun menghempaskan asap tebal itu dengan gerakan tangan. Dengan sekejap, asap tebal itu pun menghilang.
"Tidak mungkin, mereka tidak tergores sedikit pun, bahkan serangan itu bisa melukai hewan iblis Rank C+." Kata Orang 1 dengan terkejut.
"Sekarang giliran kami. Pukul mereka Marco." Kata Rudy. Lalu tubuhnya pun menghilang, dan tiba-tiba berada di depan anak kecil disana.
"Mustahil." Kata Orang 1 dengan sangat terkecut melihat Rudy yang tiba-tiba berada di belakangnya.
"Lihat kana kau.?" Kata Marco sambil mengarahkan tangannya ke Orang 1.
BUOK. Suara pukulan tangan Marco. Orang 1 pun langsung pinsan di tempat.
"Hee.?" Kata Orang 2 dan 3 dengan sangat ketakutan.
"Aku sebenarnya ingin menghajar kalian habis-habisan." Kata Marco sambil berjalan ke arah mereka berdua.
"A, apa yang kau lakukan.? Kau sudah memukul bangsawan kelas tinggi, kau akan di tangkap oleh aparat kerajaan." Kata Orang 3.
"Bahkan Raja kalian sekalipun tidak akan sanggup menangkapku." Kata Marco.
Orang 2 dan 3 pun hanya menelan ludah dengan ketakutan. Lalu. DEEP. Buk Buk Marco pun menghajar mereka habis-habisan.
"Berhentilah Marco." Kata Rudy.
Tapi, Buk. Buk. Marco masih memukul mereka dengan kesal. Bahkan tengkorak kepala mereka hampir retak.
"MARCOOO." Teriak Rudy.
"He.?" Suara Marco dengan terkejut sambil berhenti memukul.
"Kau seperti mereka, menyerang yang lemah." Kata Rudy sambil mengeluarkan potion merah.
"Ah, aku bahkan tidak sadar." Kata Marco dengan tercengang.
"Biarkan mereka, kita pergi sekarang." Kata Rudy sambil mengendong anak kecil di punggungnya.
"Baik Rudy." Saut Marco sambil mengikuti Rudy.
...
Beberapa saat kemudian.
"Semoga orang-orang tidak melihat kejadian itu." Kata Rudy.
"Para bangsawan disini tidak akan tinggal diam Rudy." Kata Marco.
"Biarkan saja mereka. Yang terpenting sekarang, kemana kita akan pergi.? Sepertinya kita tersesat." Saut Rudy.
"Aku sendiri belum pernah datang ke tempat ini." Kata Marco.
"Kita berhenti disini." Kata Rudy sambil berjalan ke arah pojok benteng.
"Bagaimana dengan anak itu.?" Tanya Marco.
"Tangannya patah tulang, perut dan kepalanya memar sangat parah. Bahkan organ dalamnya terluka cukup dalam." Jawab Rudy sambil membaringkan anak kecil itu.
"Apa bisa di sembuhkan.?" Tanya Marco.
"Bisa, dia hanya perlu mencerna potion ini. Tapi kenapa potion ini tidak bisa masuk kedalam mulutnya. Dia selalu memuntahkan potion ini." Jawab Rudy.
"Biar aku coba." Kata Marco sambil meminumkan potion kedalam mulut anak kecil itu.
"Kita harus cepat Marco, denyut nadinya sangat lemah. Jika tidak cepat di sembuhkan, anak ini akan mati." Kata Rudy.
"Tunggu sebentar Rudy, sepertinya tengorokannya rusak. Bagaimana ini.?" Kata Marco dengan panik.
"Heh.?" Saut Rudy yang terkejut.
"Sedang apa kalian disana.?" Tanya Emma yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
"Emma.?" Saut Rudy.