
Marco masih bercerita kebenaran kepada Luciana.
"Kau adalah bagian dari keluarga kami. Aku akan memberitahumu tentang kebenaran." kata Marco dengan serius.
"Kami sudah salah menilai kalian." kata Luciana.
"Kalian semua hanya takut dengan kekuatan kami. Dan kenyataan kenapa Lilia masih hidup sampai saat ini adalah kebenaran. Rudy sudah menghidupkan manusia." kata Marco.
"Siapa Rudy sebenarnya.?" tanya Luciana.
"Awalnya aku tidak tau kebenarannya, tapi saat Rudy kembali dari dungeon Expert bersama Emma, dia menjadi berbeda. Keseriusannya lebih tajam dari sebelumnya." saut Marco.
"Aku akan mengatakannya, tapi tolong jaga rahasia ini dengan nyawamu sendiri. Bahkan Lilia sendiri tidak tau siapa sebenarnya Rudy dan Emma itu." kata Marco.
"Aku sangat penasaran Marco, aku berjanji akan merahasiakannya." kata Luciana.
"Apa kau siap mengaku sebagai rakyat jelata.? Ini demi menjaga rahasia kami semua." tanya Marco.
"Aku akan melepas Mahkotaku. Jadi tolong, percayalah padaku." saut Luciana.
"Keputusan itu, kau harus membahasanya dengan Rudy." kata Marco.
"Kau terus berputar Marco, jadi siapa mereka sebenarnya.?" tanya Luciana.
"Hm, Mereka adalah...." "Ternyata kalian sedang bermesraan disini." saut Rudy yang tiba-tiba datang kesana.
"Rudy.?" saut Marco dan Luciana secara bersamaan, bahkan mereka masih berpelukan sambil duduk. Posisi Luciana menduduki Marco di atasnya.
"Apa aku menganggu.?" tanya Rudy.
"Sebaiknya kita pergi dari sini Rudy. Mereka sangat mesra sekali, aku jadi iri." saut Emma dengan tersenyum
"HAAAAAA." Teriak Marco dan Luciana dengan terkejut.
"Huh." saut Rudy sambil menghela nafas.
...
Beberapa menit kemudian. Rudy pun bermain api unggu disana, dan di temani Marco di sampingnya. Emma dan Luciana duduk di depan Rudy.
"Apa kau yakin mengajak kami bermalam disini.?" tanya Rudy.
"Aa, apa yang kau katakan, sudah pasti aku sangat yakin." jawab Marco dengan gugup.
"Aku minta maaf sudah menganggu kalian. Aku tidak tau." saut Rudy.
"Kami tidak melakukan apa-apa Rudy." kata Marco.
"Be be, benar Rudy." saut Luciana dengan gugup.
"Huh, kalian bahkan sangat gugup sekali." kata Rudy.
"Kau sudah mendapatkan hatinya kan Luci.?" tanya Emma.
"A, ah. Itu." kata Luciana dengan malu.
__ADS_1
"Apa kau sudah melakukannya dengan Luci Marco.?" tanya Rudy.
"Tentu saja aku tidak berani menodainya." jawab Marco. Rudy pun mendekati Marco.
"Bilang saja padaku, apa kau sudah menikmatinya.? Bilang Marco." kata Rudy yang berbisik.
"Apa yang kau katakan." teriak Marco.
"Huh, aku mendengarkan pembicaraan kalian tadi. Ternyata kau seorang Pangeran." kata Rudy sambil membakar kayu.
"Eh.? Apa kau sudah tau Rudy.?" tanya Marco.
"Aku tau kau adalah keturunan bangsawan, tapi aku tidak tau kalau kau seorang pangeran." jawab Rudy.
"Ah, itu. Maaf sudah menyembunyikannya padamu." kata Marco.
"Tidak perlu minta maaf. Kau pasti punya alasan yang kuat, aku memang sudah tidak punya orang tua, sama sepertimu. Jadi aku tau perasaanmu." kata Rudy.
"Aku menceritakannya pada Luci, karena dia harus tau asal usulku." saut Marco.
"Kenapa kau harus menceritakannya.? apa jangan-jangan kau sudah berpacaran dengannya.?" tanya Rudy sambil menoleh pada Marco.
"Ah, Benar." kata Marco dengan malu.
"Buahahahaha. Ternyata kau bisa jatuh cinta juga." kata Rudy dengan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha. Selamat ya Luci." saut Emma dengan tertawa.
"Kenapa kau tertawa begitu, bahkan kau sendiri sudah bertunangan dengan Emma, apa salahnya jika aku berpacaran dengan Luci.?" saut Marco dengan kesal.
"Aku dan Rudy tidak bisa terpisahkan, kau sendiri sudah tau Marco." kata Emma.
"Ah, aku tau itu." saut Marco.
"Jadi, dari mana kau berasal.? Kerajaan mana yang sudah membunuh orang tuamu.?" tanya Rudy dengan serius.
"Rudy.?" saut Marco dengan terkejut.
"Katakan padaku, dari mana kau berasal.?" tanya Rudy dengan serius. Marco pun menelan ludahnya.
"Ah, kerajaanku berasal adalah, Neverland." jawab Marco.
"Eh.? Neverland.?" saut Rudy dengan terkejut.
"Benar, itu adalah kerajaanku." kata Marco.
"Itu kan kerajaan terbesar dan terkuat saat ini." kata Luciana dengan terkejut.
"Hm, apa kau tidak apa-apa jika aku menghancurkan kerajaan itu.?" tanya Rudy.
"Kau sendiri sudah menyiapkan pasukan untuk berperang melawan mereka." jawab Marco.
"Benar, sangat kebetulan sekali. Tapi itu adalah tugas kita sebagai Royal Unity. Yang aku tanyakan adalah, apa kau mengijinkanku untuk menghancurkan kerajaan itu.?" saut Rudy.
"Kau memiliki masalahmu sendiri dengan mereka Marco, masalah pribadimu. Apa kau akan membiarkan masalah itu di selesaikan oleh kami.?" saut Emma.
__ADS_1
Marco pun mengigit dengan marah. "Jika seperti itu, biarkan aku sendiri yang membereskannya." kata Marco.
"Keputusan yang bagus. Kalau begitu, kau aku anggat sebagai Pangliman Tertinggi Royal Unity. Pimpin pasukan militer untuk berperang melawan mereka." kata Rudy dengan serius.
"Sudah pasti aku akan melakukannya." kata Marco dengan serius.
"Bagus. Lalu, apa kau ingin tau jati diri kami Luciana.? Aku lihat kau sangat penasaran." tanya Rudy.
"Aku memang sangat penasaran dengan kalian. Tapi jika aku harus menjaga rahasia itu, aku siap menjaganya dengan nyawaku." kata Luciana.
"Hm, baiklah. Aku dan Emma sudah hidup selama ratusan tahun, dan kami memutuskan kembali ke dunia ini dengan satu tujuan. Merubah sistem dunia." kata Rudy.
"Eh ?" saut Luciana dengan terkejut.
"Hanya itu yang bisa aku katakan." kata Rudy.
"Ratusan tahun.?" saut Luciana dengan tercengang sambil menoleh kepada Emma.
"Benar Luciana, aku juga terjebak di dalam gegelapan dan kehampaan. Dan Rudy lah yang sudah membebaskanku dari kegelapan itu." jawab Emma.
"Jad, jadii." saut Luciana yang masih tercengang.
"Aku sama sepertimu, merasakan kehampaan yang panjang, rasa sakit dan kesepian. Jadi aku tau seperti apa rasanya." kata Emma.
"Emma.? Apa kalian seorang Dewa.?" tanya Luciana dengan tercengang.
"Hm, sudah kuduga." saut Marco sambil memejamkan matanya.
"Kami sendiri tidak tau Luci, meskipun aku mempunyai skill penciptaan, tapi aku tidak bisa menciptakan makhluk hidup yang memiliki jiwa." jawab Emma.
"Kami hanya manusia biasa seperti kalian, yang kebetulan memiliki kekuatan Dewa. Aku sendiri tidak tau, apakah Dewa itu benar-benar ada atau tidak." kata Rudy sambil melihat ke atas langit.
"A, Aku sangat terkejut." saut Luciana.
"Semua tengantung pada pilihanmu sendiri, kami tidak memaksakan takdirmu, jika kau masih ingin menjadi Putri Mahkota, silahkan saja. Lambat laun, semua orang juga pasti tau jati diri kami. Melihat Royal Unity sekarang sudah membawahi 3 kerajaan." Kata Rudy.
"Kau tidak perlu terbebani dengan rahasia kami Luci. Kami juga sebenarnya tidak ingin merahasiakannya. Tapi kami punya alasan untuk itu." kata Emma.
Luciana masih terkejut dengan pernyataan mereka berdua.
"Semua orang menilai kami dengan apa yang mereka lihat. Aku tidak pernah mengangkat Marco sebagai Panglima, tapi Eden menganggapnya sebagai Panglima Tertinggi. Aku juga tidak pernah mengangkat Emma sebagai wakil pimpinan sebelumnya, tapi Eden menganggapnya sebagai wakil pimpinan. Aku juga tidak pernah mengaku sebagai pimpinan, tapi orang di sekitarku menganggap aku sebagai pimpinan. Semua itu terjadi karena berjalannya waktu dan kepercayaan, dan akhirnya menjadi kenyataan." kata Rudy.
"Aku juga masih belum menata Royal Unity, strukturnya seperti apa, dan apa saja yang kami butuhkan. Tapi kami tau, apa yang harus kami lakukan." kata Rudy.
"Yang akan jadi pertanyaan kami adalah, jika kau sudah memutuskan bersama kami, dan kau masih menyandang Putri Mahkota. Siapa yang akan kau pilih.? Apa kau akan menilih untuk mengurusi kerajaanmu sendiri.? Atau kau memilih untuk menaungi seluruh kerajaan.? Itu juga akan menjadi pilihan Marco sekarang. Kami tidak bisa memaksa takdir kalian." kata Rudy.
"Rudy, apapun yang sudah terjadi dengan masa laluku, aku sudah memutuskannya dari awal. Seumur hidupku, aku hanya akan mengabdi padamu, tidak ada tujuan lain." saut Marco.
"Kau hanya terbawa perasaanmu sekarang, jika Neverland sudah hancur, dan rajanya sudah kalah, siapa yang akan mengantikannya.? sedangkan kau sendiri masih hidup disini." kata Rudy.
"Aku tidak perduli dengan itu." saut Marco.
"Ingatlah jati dirimu sendiri Marco. Kau mungkin tidak peduli saat ini, tapi jika kau sudah tau dampak yang terjadi setelah perang, kau akan memikirkannya kembali. Apa kau kan meninggalkan warisan orang tuamu.? Atau kau hanya terhanyut dalam perasaan bencimu.?" kata Rudy.
Marco pun hanya terdiam dengan penuh rasa gelisah.
__ADS_1
...