
Terlihat, Marco sedang di sudutkan dengan perkataan Leo di tempat pelatihan.
"Itu bohong kan Marco.?" Tanya Luciana.
"Sudah aku bilang, aku tidak berbohong padamu." Jawab Marco.
"Ini tidak mungkin Marco. Lalu siapa yang menyembuhkanku tadi.?" Tanya Luciana.
"Apa yang memiliki kekuatan hanyalah orang bangsawan saja.? Sepertinya kalian salah persepsi." Jawab Marco.
"Kau bahkan tidak memberikap sikap hormatmu pada Tuan Putri. Santai sekali kau." Kata Leo sambil menghampiri Marco.
Lalu. Glep. Suara tangan Leo yang memegang leher Marco.
"Apa kau menghukumku.?" Tanya Marco.
"Tentu saja, aku akan mengeksekusimu disini. Aku tidak butuh sebuah bukti, kau sendiri sudah mengakuinya." Jawab Leo sambil melemparkan tubuh Marco.
"Eh.?" Saut Marco WOOSH, BREDOM. Tubuh Marco pun terlempar sampai menghantam tembok.
"Leo.?" Saut Luciana.
"Anda tenang saja Tuan Putri, aku akan membereskannya." Kata Leo sambil menghampiri Marco.
"Ini bohong kan.? Aku bahkan sudah menundukkan badan padanya, apa aku sudah di tipu olehnya.?" Kata Luciana.
...
Di tempat Marco
"Hehe, sifat asli mereka akhirnya keluar. Jadi sekarang, aku punya alasan untuk menghajar mereka." Kata Marco dengan tersenyum.
"Bajingan, berdiri kau." Kata Leo. SWOOSH Leo pun mengarahkan tangannya kepada Marco. Lalu, PEG. Tangannya pun di tahan oleh Marco.
"Aku punya alasan untuk membela diri kan.?" Saut Marco.
"He.? Tidak mungkin. Bajingan." Kata Leo sambil mengerakkan tangan satunya untuk menyerang Marco menggunakan sihir.
WOSSH. Aura sihir yang keluar dari tangan Leo. Tiba-tiba. BUOKK. Marco pun memukul perut Leo dengan sangat keras, bahkan perutnya sampai condong ke belakang, dan mulutnya mengeluarkan darah.
"Arrgh." Teriak Leo. WOOSH. Tubuhnya pun terlempar dengan sangat cepat, sampai melewati Luciana yang berdiri disana.
"He.?" Saut Luciana dengan sangat terkejut.
BREDOM. Tubuh Leo pun membentur dinding dengan sangat keras.
"Aku dengar, kau adalah Panglima tertinggi kerajaan. Aku pikir seorang Panglima adalah orang yang bisa menghargai sesama manusia. Tapi ternyata tidak. Sifat kalian tetap sama, sama-sama merendahkan Rakyat jelata." Kata Marco.
"Uuhh, Pukulannya keras sekali." Kata Leo.
"Siapa kau sebenarnya.?" Tanya Luciana.
"Sudah aku katakan, aku hanya Rakyat Jelata biasa, tidak ada yang penting dari identitasku." Jawab Marco sambil berjalan menghampiri Leo.
"Tunggu Marco, ini pasti salah paham." Kata Luciana.
"Salah paham.? Bahkan kau hanya terdiam saja melihatku di pukul olehnya. Apa mungkin dia benar, ada hukuman bagi rakyat jelata yang menginjakkan kaki ke dalam istana.?" Saut Marco dengan kesal.
"Marco, bukan seperti itu." Saut Luciana.
"Hm, sampah. Kau sendiri yang bilang perduli dengan rakyat jelata, tapi kenyataannya tidak. Sepertinya aku salah menilai." Kata Marco sambil melewati Luciana.
__ADS_1
"Argh, Uhuk, uhuk." Suara Leo yang kesakitan.
"Kalian benar-benar melakukan penindasan. Bahkan aku sendiri tidak tau ada aturan seperti itu, apa jadinya jika rakyat jelata menginjakkan kakinya disini tanpa di sengaja.? Apa kau juga akan membunuhnya.?" Kata Marco dengan kesal.
"Huh, huh, huh," Saut Leo sambil berdiri.
BUOOOK, "Arrgh" Marco pun memukul kepala Leo. "Apa kau sudah tidak bisa bicara lagi.?" Saut Marco.
"Berdiri." Kata Marco dengan kesal.
Semua prajurit disana hanya terdiam ketakutan melihat Panglima Tertinggi mereka di hajar habis-habisan.
"Marco, cukup. Aku minta maaf." Kata Luciana.
"Chik, mungkin jika aku tidak menghajarnya, kata-kata itu tidak akan keluar dari mulutmu." Kata Marco sambil berjalan menjauh dari sana.
"Uhuk, huh huh." Suara Leo yang kesakitan, lalu ia pun pinsan di tempat.
"Marco. Aku benar-benar minta maaf." Kata Luciana.
Marco pun berhenti seketika. "Kau memang tidak perduli dengan rakyat jelata, berhentilah berpura-pura. Bahkan orang sepertiku sangat mudah kalian injak." Kata Marco. Lalu ia pun pergi dari sana.
Luciana pun hanya terdiam saja sambil melihat Marco berjalan.
...
Beberapa saat kemudian. Luciana pun duduk di kasurnya dengan merenung. Dan Marco masuk kedalam kamar Rudy.
"Kenapa kau kesini.?" Tanya Rudy dengan kesal.
"Aku hanya tidak enak badan, aku ikut tidur disini saja." Saut Marco sambil memeluk bantal dengan tengkurap.
"Hm, apa kau ada masalah.?" Tanya Rudy.
"Kenapa kau bisa di lempar.? Apa kau membuat keributan.?" Tanya Rudy dengan terkejut.
"Aku hanya bilang, identitasku sebagai rakyat jelata. Kau tau Rudy, bahkan mereka punya aturan untuk menghukum rakyat jelata." Jawab Marco.
"Hukuman.? Apa maksudmu.?" Saut Rudy.
"Mereka akan membunuh rakyat jelata, jika rakyat jelata menginjakkan kaki ke dalam istana. Apa kau pikir itu masuk akal.?" Jawab Marco.
"Apa itu benar Marco.?" Tanya Rudy dengan terkejut.
"Aku tidak bisa memberikanmu bukti, karena lukaku sudah sembuh. Tapi, apa jadinya jika ada rakyat jelata yang tidak sengaja masuk kedalam istana.?" Tanya Marco.
"Ah, aku sudah tau jawabanya. Itu akan terjadi seperti Rin dulu." Jawab Rudy.
"Kau benar, bahkan kau sendiri tidak tau ada aturan seperti itu, apalagi rakyat jelata di luar sana. Aku yakin mereka akan tersesat di dalam sini hanya untuk mencari makanan." Kata Marco.
"Hm. Aku harap aturan itu segera di hapus." Saut Rudy.
"Apa kau sudah membicarakannya dengan Raja bodoh itu.?" Tanya Marco.
"Semua aturan sudah di berikan oleh Emma. Tapi aturan masih perlu di edukasi kepada para bangsawan dan tentarannya. Mungkin akan membutuhkan waktu yang lama." Jawab Rudy.
"Meskipun mereka sudah merubah aturannya, tetap saja aku tidak percaya kepada mereka. Setelah sistem kerajaan di rubah, aku yakin sifat mereka masih tetap sama. Para bangsawan itu mungkin tidak bisa menghajar rakyat jelata, tapi mereka bisa merendahkannya." Kata Marco.
"Hm, kau benar Marco." Saut Rudy.
"Tujuanmu itu sangat besar Rudy, tidak hanya merubah sistem dunia, tapi kau juga harus memikirkan sifat manusiannya." Kata Marco.
__ADS_1
"Kita lihat saja kedepan. Jika mereka tidak bisa berubah sifat mereka, kitalah yang harus merubahnya. Tentu saja dengan kekuatan." Kata Rudy.
"Ah, itu ide yang bagus Rudy, mereka hanya bisa belajar dari kekerasan." Saut Marco.
"Baiklah kalau begitu, aku akan membicarakannya dengan Emma besok. Sekarang tidurlah." Kata Rudy sambil melompat ke atas kasur.
"Ah, Marco. Lalu, apa yang di lakukan Luciana setelah kau mengaku sebagai Rakyat Jelata.?" Tanya Rudy.
"Itu yang membuatku gelisah Rudy. Dia hanya diam saja saat aku di pukul oleh panglima itu. Bahkan dia membiarkan panglima disana menghajarku lagi. Dari kejadian itu, aku baru menyadarinya, selembut-lembutnya bangsawan, yang mengaku perduli dengan rakyat jelata, ternyata sama saja." Jawab Marco.
"Hm, jadi kau akhirnya tau sifatnya.? Baiklah, kau yang memutuskannya Marco, bukan aku. Pikirkan baik-baik." Saut Rudy.
Marco pun hanya terdiam sambil melihat keatas kamar.
...
Didalam kamar Luciana. Ia masih merenungi kejadian di tempat pelatihan.
"Apa aku salah.? Aku hanya terkejut saja saat itu." Kata Luciana.
Luciana pun berbaring di atas kasurnya sambil menutupi mata dengan tangannya.
"Sepertinya aku harus meminta maaf besok. Ini salah paham." Kata Luciana dengan gelisah.
"Ayah sudah bilang tadi, kalau Marco itu sangat kuat, bahkan Ayah sendiri tidak bisa menghentikannya, kenapa aku bisa lupa dengan itu."
Tiba-tiba sang Ratu datang ke kamar Luciana.
"Kau masih belum tidur anakku.?" Kata Rosalia.
"Ibu.?" Saut Luciana.
"Hm.? Ada apa dengan wajahmu itu.? Tanya Rosalia.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Jawab Luciana.
"Kau tidak bisa menyembunyikan ekspresimu itu. Ceritakan pada ibumu ini, ada apa.?" Tanya Rosalia.
"Aku sudah mengacaukan kencanku." Jawab Luciana.
"Eh.? Apa kau menyinggung perasaanya.?" Tanya Rosalia.
"Sepertinya begitu. Dia mengaku sebagai rakyat jelata di depan Leo, sudah pasti Leo akan menghajarnya." Jawab Luciana.
"He.? Jadi dia mengaku sebagai rakyat jelata.?" Tanya Rosalia dengan terkejut.
"Itu benar ibu, tapi anehnya, justru Leo yang di hajar habis-habisan sampai pinsan disana." Jawab Luciana.
"Apaa.? Apa kau yakin Luciana.?" Saut Rosalia dengan terkejut.
"Benar ibu, aku melihatnya dengan mataku sendiri. Bahkan Marco hanya memukul Leo 2x saja, dan itu tanpa mengunakan sihir." Jawab Luciana.
"Sepertinya dia bukan orang biasa. Mungkin dia menyembunyikan identitasnya untuk mengujimu. Lalu, apa yang kau lakukan disana.?" Saut Rosalia.
"Em, itu yang membuatku gelisah dari tadi ibu. Aku hanya terdiam saja melihat Marco di hajar duluan. Ia bahkan berkata padaku, kalau aku hanya berpura-pura perduli dengan rakyat jelata." Kata Luciana.
"Hm. Kau harus meminta maaf padanya besok. Sudah pasti dia adalah orang yang luar biasa, bahkan Ayahmu sendiri sampai menjodohkannya denganmu. Ibu yakin, dia sedang menyembunyikan identitasnya." Kata Rosalia.
"Tapi, bagaimana kalau dia benar-benar rakyat jelata.? Apa yang harus aku lakukan.? bahkan aturan kerajaan sekalipun, tidak memperbolehkan para bangsawan menikah dengan rakyat jelata." Kata Luciana.
"Itu akan sangat sulit. Jika dia benar-benar rakyat jelata, Ibu tidak bisa membantu. Dan jika pernikahan itu di paksa, nama keluarga kerajaan akan tercoreng." Kata Rosalia.
__ADS_1
Luciana pun hanya terdiam dengan gelisah.
...