Leveling System Reincarnation

Leveling System Reincarnation
CH 20 - Kamar


__ADS_3

Terlihat Rudy dan lainnya sedang berjalan menuju kedalam kota.


"Emma, kenapa kau tau alasan kita menjadi murid Akademi.?" Tanya Rudy.


"Mereka sangat menghormati murid Akademi Rudy, apalagi seorang guru. Karena status hunter hanya bisa di dapatkan di dalam Akademi." Jawab Emma.


"Apa disini ada akademi.?" Tanya Rudy.


"Tentu saja ada." Jawab Emma.


"Apa kau ingin mendaftar sebagai murid Rudy.?" Tanya Marco.


"Ah, aku hanya ingin menambah teman." jawab Rudy.


"Sebaiknya kita lihat dulu, seorang Raja disana." Kata Emma.


...


Di tempat lain. Alun-alun kota. Sudah banyak orang-orang yang berkumpul disana. Bahkan kerumunan orang disana sampai memenuhi satu kota.


"Apa Yang Mulia Raja sudah siap.?" Tanya Smith kepada ajudannya.


"Kami belum tau pasti Yang Mulia." Jawab Ajudannya.


"Tidak habis pikir, Yang Mulia Raja datang dari pintu belakang bersama para panglimanya." Kata Smith.


"Mereka juga akan memperkenalkan calon kesatria perang yang baru." Kata Smith.


"Yang Mulia, mereka juga akan memperkuat benteng ini, bahkan tim ekspedisi yang baru sudah di bentuk." Kata Ajudan.


"Ah, aku sudah tau itu. Sepertinya laporan keuangan kita tidak bisa di percaya oleh istana." Saut Smith.


...


Beberapa saat kemudian


"BERIKAN HORMAT, YANG MULIA RAJA DATANG." Teriak panglima disana.


"Akhirnya dia keluar." Kata Smith.


"SELAMAT DATANG DI BENTENG SELATAN YANG MULIA RAJA." Kata semua orang disana sambil menundukkan kepala.


...


Di tempat Rudy berada.


"Mana, mana, aku tidak bisa melihatnya, ini terlalu jauh." Kata Rudy.


"Kita tidak bisa menerobos lagi Rudy." Saut Emma.


"Lalu, bagaimana kita melihat Sang Raja.?" Tanya Rudy.


"Sepertinya tidak ada kesempatan. Mereka juga membawa 6 panglima perang kesini." Kata Marco.


"Aura mereka lumayan juga." Kata Lilia.


"Tapi tetap saja, itu tidak sebanding denganmu Lilia. Bahkan Raja mereka sekalipun." Kata Emma.


"Eh, benarkah.?" Tanya Lilia.


"Yup, itu benar." Jawab Emma dengan tersenyum.


...


Sang Raja pun memberikan sambutan dengan singkat. Hanya dengan ucapan "Berjuanglah." yang keluar dari mulut Sang Raja. Lalu, ia pun pergi meninggalkan alun-alun.


"Heh.? Sambutan macam apa itu.?" Kata Marco.


"Dia sudah pergi." Kata Lilia.


"Aah, aku belum melihatnya." Saut Rudy dengan kesal.

__ADS_1


"Acaranya masih belum selesai Rudy." Kata Emma.


"Sepetinya mereka memperkenalkan para panglima dan calon kesatria." Kata Lilia.


...


"Hadirin sekalian. Sosok yang menompang kerajaan Alden, panglima perang yang terkenal sangat kuat, dan menjadi tangan kanan dari Sang Raja, perkenalkan." Kata MC.


[Panglima perang : Rocky Ken. Laki-laki, Umur sekitar 33. Rank AA.]


[Panglima perang : Stevani. Perempuan, Umur sekitar 28. Rank AA.]


[Panglima perang : Viona. Perempuan, Umur sekitar 35. Rank AA.]


[Panglima perang : Joseph. Laki-laki, Umur sekitar 42. Rank A+.]


[Panglima perang : Gilbert. Laki-laki, Umur sekitar 34. Rank A+.]


[Panglima perang : Kevin Dom. Laki-laki, Umur sekitar 26. Rank A+.]


"WOOOOO." Teriakan semua orang di dalam sana.


"Mereka cukup kuat untuk melawan hewan iblis di luar sana." Kata Rudy.


"Apa mereka juga lulusan dari Akademi.? ada juga yang masih muda." Tanya Marco.


"Mereka adalah lulusan Akademi, lalu mereka mengembangkan kekuatannya di luar sana." Jawab Emma.


"Lihatlah dirimu sendiri Marco, Bahkan kau masih umur 18 tahun sudah mencapai Rank M (Mythic), itu jauh dari kekuatan kerajaan ini." Kata Lilia.


"Ahaha. Kau benar, tapi aku tidak boleh sombong." Kata Marco yang malu-malu.


...


"Selanjutnya, calon kesatria perang kerajaan Alden. Yang sekarang masih menempuh pelajaran di Akademi Rousen." Kata MC.


"Ah, mereka masih pelajar. Kita lihat seberapa hebat mereka." Kata Rudy.


[Calon Kesatria Perang : Eva Paracia Perempuan & seorang putri bangsawan, Umur sekitar 17. Rank A.]


[Calon Kesatria Perang : Herry Edward. Laki-laki & seorang putra bangsawan, Umur sekitar 18. Rank A.]


...


"Hem lumayan, tapi tidak ada yang special jika dibandingkan dengan Marco dan Lilia." Kata Rudy.


"Yang benar saja kau membandingkan kami dengan mereka. Kami sudah pernah pergi ke neraka." Saut Marco.


"Haha, itu benar. Mereka juga masih seumuran dengan kita. Tidak kusangka dia adalah putri Raja, dia juga terlihat cantik." Kata Rudy.


Emma yang mendengarnya tiba-tiba mengeluarkan aura.


"Sebaiknya kau hati-hati dengan ucapanmu." Kata Marco yang melihat Emma kesal.


"Eh.? Kenapa dia bisa kesal begitu.?" Saut Rudy yang melihat Emma.


"Hem" Saut Emma sambil memalingkan wajahnya dari Rudy.


"Hihi, mungkin dia cemburu." Saut Lilia.


"Apa urusannya denganku. Benarkan Marco.?" Kata Rudy.


"Ehehe, aku tidak berani menjawab." Saut Marco.


"Kau harus di pihakku Marco." Kata Rudy.


Emma pun pergi meninggalkan tempatnya


"Hem, sebaiknya kita pergi dari sini, acaranya sudah selesai." Kata Lilia sambil berjalan mengikuti Emma.


"Huh, baiklah." Saut Rudy.

__ADS_1


...


Acara penyambutan pun selesai, orang-orang mulai pergi meninggalkan tempat. Lalu Rudy dan lainnya pergi ke Bar sambil mengobrol disana.


"Kita harus mencari penginapan disini." Kata Rudy.


"Biar aku yang mencarinya." Saut Emma sambil berdiri dari kursinya.


"A, aah, baiklah." Kata Rudy yang melihat Emma tiba-tiba berdiri.


"Aah, akhirnya aku bisa tidur di atas kasur yang empuk." Kata Marco.


"Aku juga ingin tidur di kasur yang empuk." Saut Rudy.


"Kita harus pisah kamar Marco, kau tidak boleh sekamar denganku." Kata Lilia.


"Kita hanya perlu menyewa 2 kamar, atau 4 kamar sekaligus, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Sauy Marco.


"Kamar disini hanya ada 3. Lalu, bagaimana kita membaginya.?" Kata Emma yang tiba-tiba datang.


"Biarkan perempuan dulu yang memilih." Kata Lilia.


"Baiklah, Kau dan Emma bisa menempati kamar masing-masing. Aku dan Marco akan sekamar." Kata Rudy.


"He.? Apa maksudmu, biarkan aku sekamar sendirian. Aku tidak mau kau tendang keluar jendela." Saut Marco.


"He.? Lalu bagaimana.?" Tanya Rudy.


"Begini saja, aku akan sekamar dengan Rudy, dia tidak akan bisa menendangku. Kau dan Lilia bisa mengambil kamar masing-masing." Kata Emma dengan tersenyum.


"HEEEE.??" Teriak mereka bertiga.


"Yang benar saja Emma.? Apa kau tidak takut aku raba.?" Kata Rudy.


"Silahkan jika kau berani.?" Kata Emma penuh ancaman.


"A, ah. Sepertinya aku akan mati jika melakukannya." Kata Rudy.


"Baiklah. Kamar sudah di tentukan, mari kita pergi beres-beres." Kata Marco sambil berdiri.


"Aku duluan Rudy." Kata Lilia sambil berjalan menuju kamarnya.


"Baik. Nanti malam kita berkumpul disini." Kata Rudy.


"Siaap." Saut Marco.


...


"Lalu, kapan kita akan pergi ke kamar.?" Tanya Emma.


"Sebentar Emma. Bagaiman kau bisa memesan kamar-kamar itu, apa kau punya uang.?" Tanya Rudy yang curiga.


"Hihi. Apa kau tidak tau.?" Saut Emma.


"Jelaskan padaku." Kata Rudy.


"Tentu itu uang yang ada di inventorymu, aku bisa mengambilnya dan menghabiskannya. Aku juga tau jika uang itu berkurang. Jadi berhati-hatilah Rudy, jangan macam-macam dengan uang itu, aku bisa mengetahuinya." Kata Emma.


"Tidak mungkin." Kata Rudy yang terkejut.


"Kita sudah menjadi satu Rudy, apapun yang kau simpan di inventorymu, aku bisa melihat dan menggunakannya." Kata Emma dengan tersenyum.


"Sepertinya aku berada di dalam penjara." Saut Rudy.


"Hihihi. Baiklah, mari kita ke kamar. Aku juga ingin membersihkan tubuhku." Kata Emma sambil berdiri dan berjalan menuju kekamarnya.


Tapi Rudy masih berada di tempat duduknya.


"Apa kau akan menunggu di situ sampai besok.?" Tanya Emma.


"Huh," Kata Rudy yang menghela nafas.

__ADS_1


...


__ADS_2