
Di tempat kota Ferland, Rudy dan lainnya masih menyiapkan perlengkapan untuk Luciana dan Ellena.
"Ini adalah cincin penyimpanan, pakailah, di dalamnya ada kebutuhan untuk bertahan hidup. Termasuk potion dan makanan." kata Emma.
"Terimakasih Emma." kata Luciana.
Tiba-tiba Marco pun mendekati Luciana. Dan Luciana pun terkejut melihat Marco.
"Senjata itu sangat berbahaya, sebaiknya aku ganti dengan grade di bawahnya, kau simpan saja itu. Senjata itu bisa melukaimu." kata Marco sambil memberikan Sword Rank SS.
"Ah, begitu ya.?" saut Luciana.
"Kau banar Marco, sebaiknya senjata Ellena juga di ganti." kata Rudy.
"Baiklah, untuk latihan, kalian gunakan set perlengkapan ini saja." kata Emma sambil mengeluarkan set perlengkapan Rank S+.
"Baik kak." kata Ellena sambil menyimpan set perlengkapan dan mengantinya.
Lalu, Marco pun tiba-tiba memegang pundak Luciana. "He.?" saut Luciana dengan wajah memerah.
"Kami pergi dulu Rudy." kata Marco.
"Ah, hati-hati." saut Rudy.
DEEP. Marco dan Luciana pun berteleport dari sana.
"He.? Kemana kakak.?" tanya Ellena.
"Tenang saja, dia sedang berlatih bersama Kakak Marco, sekarang kalian ikut kakak dan Pegang tangan kakak." kata Emma.
"Baiklah." kata Ellena sambil memegang tangan Emma. Lalu DEEP. Mereka pun berteleport keluar benteng.
"Ah, mereka semua sudah pergi." kata Rudy.
"Aku juga akan pergi Rudy, aku akan mengawasi sekitar." kata Lilia.
"Jika kau bosan, pergilah menemui Emma. Jangan datang ke tempat Marco, kau sendiri sudah tau kan.?" saut Rudy.
"Baiklah." saut Lilia. Lalu DEEP.
"Sekarang giliranku mencari tempat yang cocok untuk Royal Unity." kata Rudy. Lalu DEEP.
...
Di tempat Marco dan Luciana berada. Mereka berteleport di atas udara.
"He.? Diaman kita.?" saut Luciana dengan terkejut.
"Sebaiknya kau turun kesana." kata Marco sambil menendang tubuh Luciana.
"Eh.?" SWOOSH. Bredom. Tubuhnya pun menghantam tanah.
"Hiks, jahat sekali kau Marco." kata Luciana dengan berkaca-kaca.
Lalu. GROAAR. GRRR. Suara hewan iblis Rank A yang berlari ke arah Luciana.
"Apa itu yang namanya hewan iblis.?" kata Luciana dengan tercengang.
SEEP. Marco pun mendarat di atas pohon. "Kita lihat, seberapa hebat tuan putri itu. Sepertinya pengetahuan umum tentang hewan iblis sudah ia kuasai." kata Marco.
...
"Bagaimana ini, aku belum pernah bertarung sebelumnya. Apa yang harus aku lakukan.?" saut Luciana dengan kebingungan.
__ADS_1
Lalu, SRAK. Hewan iblis itu pun mencakar tubuh Luciana."Ergh" suara Luciana, bahkan tubuhnya sampai terpental jauh ke belakang. JRAS JRAS BREDOM.
"Aah, Ergh. Ini pertama kalinya aku terkena pukulan. Hiks, sakit sekali." kata Luciana.
GROAR. SRAK. SRAK SRAK. Suara cakaran hewan iblis yang mencakar cakar Luciana disana.
"Arh, tolong, argh Mar, uun. Marco Tolong." Kata Luciana.
"Huh." suara Marco menghela nafas. Lalu. SUING WOSSH.
JLEB JLEB JLEB STAK. Suara dagger Marco yang membunuh hewan iblis disana.
"Bangunlah, kau akan mati jika berdiam diri sana. Angkat pedang itu dasar bodoh." Teriak Marco.
"Hiks, aku, aku. Aku harus berjuang dengan keras jika ingin tetap bersama mereka." kata Luciana sambil berdiri dan memegang pedangnya dengan gemetar.
"Serang hewan iblis itu." Teriak Marco.
DRAP DRAP DRAP. GROAAR. Suara langkah kaki hewan iblis yang berlari ke arah Luciana.
"HIIII" Suara Luciana sambil memutup matanya dan mengarahkan pedangnya kedepan.
"Ah bodoh sekali." kata Marco.
SRAK. Luciana pun terkena serangan sekali lagi. "Arrgh." Ia pun terpental kebelakang dengan luka yang cukup parah, bahkan darah sudah memenuhi kepalanya.
"Aah, Uhuk, Kenapa aku tidak bisa bergerak, apa aku ketakutan.?" kata Luciana sambil bangkit lagi.
DRAP DRAP. Hewan iblis itu pun berlari lagi kearah Luciana.
"Aku harus bisa bertahan hidup. Aku masih ingat dengan pelajaran Tuan Rewin." kata Luciana sambil mengarahkan pedangnya ke depan.
Lalu. "HIAAA." SRAK. Ia pun berhasil membunuh hewan iblis dengan sekali serang. TRING. Suara pedang yang di angkat oleh Luciana.
"Benar, posisi kuda-kuda dan konsentrasi penuh, gunakan sihir untuk memperkuat senjata, lalu serang titik vital hewan iblis. Gunakan skill untuk mempercepat gerakan, dan gunakan ilmu pedang untuk membunuhnya." kata Luciana dengan posisi tempur.
..
...
DRAP DRAP DRAP. GROAR. "Ini saatnya." kata Luciana.
"HIAA." SRAK SRAK SLASH. WOOSH SLASH. Suara pertarungan Luciana disana.
"Ah, dia juga mempelari skill yang bagus." kata Marco.
...
Beberapa jam pun berlalu, Luciana bertarung dengan hewan iblis selama 5 jam tanpa henti. Fisik dan staminanya sangat kuat.
"Huh, huh, apa sudah selesai.?" saut Luciana yang terengah-engah.
DEEP. Marco pun muncul di belakang Luciana.
"Sudah cukup, kau sudah membunuh puluhan ribu hewan iblis, tidak kusangka kau juga bisa membunuh hewan iblis sekali serang." kata Marco sambil berjalan menghampiri Luciana.
"Marco, kurang ajar kau. Kau membiarkanku bertarung sendirian." kata Luciana. Lalu ia pun melompat ke arah Marco dan mengarahkan pedangnya ke lehernya.
SREK. Marco pun memegang pedang milik Luciana. "Kau bisa membunuhku dengan pedang ini." kata Marco sambil menyingkirkan pedang Luciana.
"Aku hanya ingin berlatih tanding denganmu." kata Luciana dengan kesal. Dia pun mendorong tubuh Marco dengan sekuat tenaga.
Lalu, SLEP. Suara kaki Marco yang tergelincir "Eh.?" saut Marco dan Luciana dengan terkejut.
__ADS_1
BRUK. Marco dan Luciana pun terjatuh di sana. Bahkan tanpa di sengaja, mereka sedang berciuman.
"Haaa.???" suara Luciana dalam hati.
"Apa ini, dia mencuri ciuman pertamaku." kata Marco dalam hati.
BUK. Marco pun menyingkirkan tubuh Luciana yang menindihi tubuhnya.
"Aah." suara Luciana.
"Apa yang kau lakukan.? Kau mencuri ciuman pertamaku." Kata Marco dengan kesal.
"Kau juga mencuri ciuman pertamaku." kata Luciana.
"Aa, aa." Suara Marco yang tidak bisa berkata-kata.
...
Malam pun tiba. Luciana duduk di depan api ungun untuk menghangatkan tubuh. Lalu marco menghampirinya dan memberikan potion padanya.
"Minumlah ini, lukamu akan sembuh." kata Marco sambil duduk di sebelah Luciana.
"Terimakasih." saut Luciana.
Mereka pun duduk disana beberapa menit tanpa berbicara sama sekali.
"Huh, suasana macam apa ini, sangat canggung sekali." kata Marco.
"Apa yang harus katakan padanya. Baru pertama kalinya aku menghadapi situasi seperti ini." kata Luciana.
Lalu, Marco pun memberanikan diri untuk berbicara. "Bagaimana dengan lukamu, apa kau masih kesakitan.?" tanya Marco.
"Ah, Aku baik-baik saja kok." jawab Luciana dengan malu.
"Maaf, sudah membahayakanmu disini, tapi seperti inilah metode pelatihan dengan cepat." kata Marco.
"Aku tau itu, aku hanya terkejut. Baru pertama kalinya aku melihat hewan iblis." kata Luciana.
"Besok dan seterusnya, kau akan memburu hewan iblis setiap hari. Aku tidak bisa ikut campur dalam pertarunganmu, jadi berhatilah-hatilah." kata Marco.
"A, apa dia mengkhawatirkanku.?" saut Luciana dengan terkejut
"Marco. Apa kau masih marah padaku.? Aku minta Maaf. Mungkin suasana disini sedikit canggung, tapi inilah kesempatanku untuk meminta maaf padamu." kata Luciana.
"Aku sudah memaafkanmu. Yang aku pikirkan adalah, kenapa kau terus mengejarku.?" saut Marco.
"Itu, itu karena aku merasa hanya kaulah satu-satunya orang yang bisa membebaskanku dari kegelapan itu. Aku sendiri tidak tau Marco, sejak saat itu aku merasa ingin di dekatmu, bahkan aku memaksakan diri untuk ikut bersama kalian, karena aku ingin di dekatmu." kata Luciana.
Marco pun hanya terdiam saja mendengar perkataan Luciana.
"Aku juga sudah tau, bagaimana hidup kalian selama ini, jadi aku memang sudah siap dengan kemungkinan yang terjadi." kata Luciana.
"Hm. Apa kau tidak takut disini.?" tanya Marco.
"Aku merasa baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan disini." jawab Luciana.
"Karena ada kamu disini Marco. Itu lah yang ingin aku ucapkan." kata Luciana.
"Baiklah, kalau begitu Istirahatlah. Aku akan berjaga di sekitar sini." kata Marco sambil berdiri.
"Kau mau pergi kemana.? Apa kau akan meninggalkanku sendiri disini.?" saut Luciana.
"Kau bilang tidak ada yang perlu di khawatirkan disini." kata Marco.
__ADS_1
"Aa, aa." saut Luciana dengan tercengang.
...