
Didalam Hutan, tempat Marco dan Luciana berada. Sudah beberapa jam sejak kejadian Marco mencium Luciana. Marco duduk bersandar di bawah dan di temani Lucina yang memeluk di sebelahnya.
"Aku sangat nyaman disini." kata Luciana.
"Dimana.? di hutan ini.?" tanya Marco.
"Di pelukanmu Marco." jawab Luciana.
"He.? Aku kira kau nyaman berada di tempat ini." Saut Marco.
"Kenapa kau membatasi hasratmu.? Aku kira semua laki-laki itu sama, mereka pasti akan melakukan sebuah hubungan di situasi seperti ini." tanya Luciana.
"Aku hanya tidak ingin menodaimu. Yang ku rasakan adalah cinta, bukan memilikimu seutuhnya." jawab Marco.
"Eh.? Sepertinya aku sangat beruntung mendapatkanmu." saut Luciana.
"Sudah pasti." saut Marco.
"Tapi Marco, sejujurnya kau sangat ganteng sekali. Aku curiga kau bukan rakyat jelata, kau keturunan bangsawan kan.?" tanya Marco.
"Sudah aku katakan berkali-kali, kenapa kau memaksaku menjawab pertanyaan yang sama." jawab Marco.
"Kau tidak bisa menipuku, bahkan Emma sekalipun sudah menyadarinya dari awal." kata Luciana.
"Apa yang dikatakan Emma.?" tanya Marco.
"Kau adalah keturunan bangsawan, mungkin juga kau seorang pangeran kan.?" saut Luciana.
"Jika kau menganggap aku adalah anaknya Anna, aku sudah menyobek surat itu. Aku hanya rakyat jelata biasa." kata Marco.
"Kenapa kau tidak mau jujur padaku.?" tanya Luciana.
"Aku sudah jujur padamu. Status sosial tidak penting bagiku." jawab Marco.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengali identitasmu, tapi beri tau aku yang sebenarnya." kata Luciana.
Marco pun hanya terdiam saja sambil melihat Luciana. Lalu, ia dibawa ke dalam ingatan masa lalunya.
...
"Ayah, ibu, dimana kalian.?" . "Dasar bocah berengsek. Buok" . "kenapa seorang bangsawan berada di tempat seperti ini." ."sepertinya dia tersesat, dari tadi banyak prajurit yang mondar mandir disini." ."maaf tuan, hiks, biarkan aku kembali." . Buok buk. "Bocah, aku sangat membenci bangawan, lihat sendiri kelakuan kalian."
Ingatan masa lalu Marco, saat dia masih berumur 5 tahun.
...
"Marco.?" saut Luciana. "Ha." saut Marco terkejut.
"Kau kenapa sayang.? Kau melamun cukup lama, bahkan kau meneteskan air mata. Ada apa denganmu.?" tanya Luciana
"Ah, sepertinya aku hanya lelah saja." jawab Marco dengan tersenyum sambil mencium kening Luciana.
"Hem.?" saut Luciana dengan curiga.
"Sebaiknya kau istirahat, aku akan membuatkan tenda kecil untukmu, aku akan berjaga di luar." kata Marco sambil berdiri.
"Jika kau lelah, tidurlah di dalam bersamaku." kata Luciana.
"Tidak, aku akan berjaga di luar. Yang terpenting sekarang adalah keselamatanmu." saut Marco.
"Baiklah, panggil aku jika kau membutuhkanku." kata Luciana.
Marco pun mengeluarkan sebuah tenda dan membangunnya.
"Tenda sudah berdiri, masuklah." kata Marco.
__ADS_1
"Kau ada di luar kan.? Jangan tinggalkan aku sendirian." kata Luciana.
"Aku ada di luar, kau tidak perlu khawatir." saut Marco.
"Baiklah, aku istirahat dulu. Selamat malam." kata Luciana sambil mencium Marco. Cup.
"Selamat malam." saut Marco.
Luciana pun masuk kedalam tenda, dan Marco naik ke atas pohon di sebelahnya. Marco merenung sambil melihat alam liar yang ada di depannya.
"Aku sudah membuang ingatan itu, kenapa aku mengingatnya lagi.? Apa karena perasaanku." kata Marco dalam hati.
...
Pagi hari pun tiba. Luciana keluar dari tendanya, tapi ia tidak melihat Marco disana.
"Dimana Marco.?" saut Luciana. "Sayang.? Sayang.?" teriak Luciana.
"Hm, dia bilang tidak akan meninggalkanku." kata Luciana sambil mengeluarkan beberapa bahan makanan dari cincinnya.
Lalu TAK. Marco pun turun dari atas pohon.
"Eh. Marco.? Dari mana saja kau.?" tanya Luciana sambil memasak.
"Aku ada di atas pohon, tentu saja aku juga tidur disana." jawab Marco sambil melihat Luciana memasak.
"Hm, sudahlah." saut Luciana.
"Apa kau bisa memasak.? Aku kira seorang Tuan Putri tidak bisa apa-apa." kata Marco sambil duduk.
"Tentu saja aku bisa memasak. Aku akan memasak untukmu. Tunggulah disitu." saut Luciana.
"Baiklah." saut Marco sambil melihat Luciana memasak. Lalu wajahnya pun memerah.
"Cantik sekali." saut Marco dengan tersenyum.
"Baik, aku akan menyelesaikan pelatihanku." saut Luciana.
...
Di Tempat Rudy berada.
DRAP DRAP DRAP. Rudy berlari dengan cepat menyusuri hutan dan pegunungan.
"Tempat ini juga tidak cocok. Huh, dimana aku bisa memilih tempatnya." kata Rudy sambil berlari .
Tiba-tiba ia melihat kebulan asap dari kejauhan.
"Apa itu, apa ada yang berburu hewan iblis di sekitar sini.?" saut Rudy sambil berhenti berlari.
Ia melihat dengan seksama kebulan asap itu.
"Sepertinya itu bukan asap kebakaran, itu seperti asap pembakaran. Apa jangan-jangan ada sebuah desa di hutan ini.?" kata Rudy.
"Sebaiknya aku periksa kesana." kata Rudy sambil berlari menghampiri asap itu.
Tak berlangsung lama. Rudy pun sampai di tempat itu, dan ia melihat sebuah desa kecil disana, mungkin penduduknya sekitar 30 orang saja.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa mereka membangun desa disini. Bukankah tempat ini berada di perbatasan kerajaan Konggo." kata Rudy.
"Tempat ini kan sangat jauh sekali dengan kota, bagaimana mereka bisa hidup disini.?" saut Rudy sambil berjalan ke desa itu.
"Tidak ada gerbang, tidak ada penjagaan, lalu anak-anak bermain dengan tertawa, ibu-ibu rumah tangga yang menjemur pakaian, dan seorang ayah sedang memotong kayu. Terlalu sederhana, tapi mereka bisa bertahan hidup."
Tiba-tiba. "Hoi, siapa kau.?" teriak anak laki-laki berumur 7 tahun.
__ADS_1
"Eh.?" saut Rudy dengan terkejut. Bahkan para warga disana sampai menoleh kearah Rudy.
"Cepat masuk kedalam rumah." kata Ibu-ibu yang menyuruh anak-anaknya masuk kedalam rumah.
"Mama ada apa.?" tanya anak perempuan berumur 5 tahun. "Cepat masuk rumah, ada orang asing datang kesini.?" saut Mamanya.
"Eem.? Apa paman itu berbahaya Mama.?" tanya anak itu sambil menunjuk Rudy.
"Eh, jangan menunjuk sembarang sayang, kita masuk kedalam." kata Mamanya sambil mengendong anak itu.
"Ada apa.? sepertinya mereka menghindariku." kata Rudy.
"Oe kau, pergilah dari sini. Kau tidak di terima disini." teriak anak laki-laki sebelumnya.
"Bocah, diamlah. Cepat masuk kedalam." teriak bapak-bapak disana.
"Chik, aku juga ingin melindungi desa." kata anak laki-laki sambil berjalan masuk kedalam rumah Brak.
Lalu, seseorang datang menghampiri Rudy. Laki-laki yang sudah berumur 51 tahun bernama Solan.
"Ada urusan apa Anda datang kemari.?" tanya Solan dengan serius.
"Ah, anu. Aku hanya sedang berburu di sekitar sini, dan kebetulan aku sampai di tempat ini." jawab Rudy.
"Kau tidak perlu berbohong, kalian sedang mencari tempat kami kan.?" kata Solan dengan kesal.
"Kalian.? Aku datang sendiri Tuan." jawab Rudy.
"Omong kosong apa itu. Kami sudah tidak punya apa-apa, jika kau menyuruh kami pergi dari sini, kami akan pergi." kata Solan.
"Tuan Solan, apa yang Anda katakan.? kita sudah tinggal disini cukup lama." kata seorang laki-laki berumur 38 tahun bernama Argus.
"Diamlah, apa kau akan mengorbankan anak-anak kita lagi.?" saut Solan dengan marah.
"Tapi Tuan, kita sudah membangun rumah dan peradapan disini. Kita harus bernegosiasi dengan mereka." kata Argus.
"Rumah bisa di bangun kembali, tapi nyawa tidak akan bisa kembali." saut Solan dengan serius.
"Ah, maaf Tuan aku tidak mengerti apa yang sudah kalian bicarakan, tapi aku kesini tidak ada maksud apapun." kata Rudy.
"Kau terus bicara seperti itu, tidak perlu berbohong, kami sudah tau tujuanmu." saut Solan.
"Eh.?" saut Rudy kebingungan.
"Apa kau melihat desa ini dari asap itu.?" tanya Solan sambil menunjuk pembakaran.
"Ah, Anda benar." jawab Rudy.
"Huh, pada akhirnya kita ketahuan juga." saut Solan.
"Apa maksud Anda Tuan.?" tanya Rudy.
"Kami hanya memasak makanan, tapi tidak kusangka bisa ketahuan seperti ini." jawab Solan.
"Ketahuan siapa Tuan.?" tanya Rudy.
"Kau masih tidak mengaku.? Bahkan prajurit Neverland seperti kalian bisa berbohong dengan baik." jawab Solan.
"Neverland.? Saya dari kerajaan Alden Tuan." saut Rudy.
"He.? Apa ini wilayah teritori kerajaan Alden.?" tanya Solan.
"Benar." jawab Rudy.
"Huh, kita sudah sangat jauh berjalan. Bahkan sampai masuk ke wilayah orang lain." kata Solan sambil memegang kepalannya.
__ADS_1
...