Leveling System Reincarnation

Leveling System Reincarnation
CH 68 - Alasan


__ADS_3

Di dalam istana kerajaan. Rudy dan lainnya masih menunggu sang Raja untuk sadarkan diri. Namun, di luar ruangan itu, banyak bangsawan dan menteri yang datang kesana. Bahkan ada juga perwakilan diplomatik dari kerajaan lain.


"Apa yang terjadi di dalam.?" Kata Menteri kerajaan.


"Aku yakin, di dalam sana ada pertarungan, apa Yang Mulia sedang bertengkar dengan para petinggi lainnya.?" Saut salah satu bangsawan disana.


"Hm, lalu bagaimana dengan kunjunganku kali ini.? Apa dibatalkan.?" Kata deplomatik kerajaan Konggo.


"Sebaiknya Anda menunggu di ruangan lain. Kita tidak bisa masuk kedalam tanpa seijin Yang Mulia." Saut Menteri.


"Tapi saya membawa informasi yang sangat penting. Dan ini harus segera saya sampaikan kepada Yang Mulia Eden." Kata Diplomatik.


"Mau bagaimana lagi, kita sudah mengetuk pintu berulang kali, tapi masih belum ada jawaban." Saut Menteri.


"Hm, baiklah, saya akan menunggu disana." Kata Diplomatik itu.


"Baik, mari silahkan." Saut Menteri.


...


Di dalam ruang Rapat.


"Untung saja kita memasukkan para prajurit elit itu masuk kedalam sini." Kata Marco.


"Jika tidak seperti itu, seluruh orang yang ada kerajaan akan menghukum kita." Kata Emma.


"Mereka sangat berisik sekali." Saut Rudy sambil rebahan di lantai. Bahkan Lilia dan Rin juga tertidur disana.


"Apa rencanamu selanjutnya Rudy.?" Tanya Emma.


"Hm, aku ingin mendengarkan alasan mereka dulu, kenapa mereka menghianati kita." Jawab Rudy.


"Lalu, setelah kau mendapatkan jawabanya, apa yang akan kau lakukan.?" Tanya Marco.


"Tergantung dari jawaban mereka. Aku tidak bisa memutuskannya. Yang lebih penting saat ini adalah, kau harus beristirahat Marco, tubuhmu sudah mencapai batas, bahkan kantung matamu sudah menghitam. Tidulah, aku dan Emma akan berjaga disini." Kata Rudy.


"Aku memang butuh istirahat, sudah sangat membosankan disini. Aku tidur dulu." Saut Marco sambil tidur di lantai.


"Hm, ini sudah siang. Pasti mereka akan bangun besok pagi." Kata Emma.


"Tubuh mereka sangat kelelahan Emma, bahkan mereka sudah berperang dua kali berturut-turut, biarkan saja mereka beristirahat." Saut Rudy.


"Apa kau juga akan tidur.?" Tanya Emma.


"Aku sudah cukup beristirahat." Jawab Rudy.


"Hm, baiklah, jalau begitu aku akan tidur sebentar." Saut Emma.


"Tunggu Emma. Aku ingin bertanya padamu, apa kau tidak bisa mendeteksi racun.?" Tanya Rudy.


"Aku tidak mendeteksi benda mati, racun termasuk benda mati, yang bisa aku rasakan hanyalah makhluk hidup dan jiwanya. Ada apa dengan pertanyaanmu itu Rudy.?" Saut Emma.


"Semalam kan kau yang memasak untukku, apa racun itu tidak bisa hilang jika di bakar.?" Tanya Rudy.


"Aku tidak tau soal itu, aku hanya memasak dengan bahan makanan yang sudah ada disana. Dan hanya nasi makanan yang sudah jadi di sana. Aku kira tidak akan terjadi apa-apa." Jawab Emma.


"Hm, baiklah kalau begitu. Tidurlah." Saut Rudy.

__ADS_1


Emma pun menghampiri Rudy dan duduk di sebelahnya.


"Apa kau mencurigaiku.?" Tanya Emma.


"Bukan begitu Emma, aku hanya memastikannya saja." Saut Rudy.


"Memastikan untuk apa.? kau ingin memastikan jawabanku saja kan.? Kalau jawabanku tidak sesuai dengan yang kau inginkan, apa kau akan melawanku.?" Saut Emma.


"Emma, bukan seperti itu." Kata Rudy.


"Kau mencurigaiku kan Rudy.? Bahkan aku tidak ikut makan bersamamu semalam. Sudah pasti pertanyaanmu itu menjebakku." Saut Emma.


Rudy pun hanya terdiam saja dengan ocehan Emma. "Kenapa aku bertanya seperti itu padanya. Hm jadi semakin merepotkan."


"Kenapa kau diam saja, jawab. Kau mencurigaiku kan.? Iya kan.? Jawab Rudy." Kata Emma dengan kesal sambil mengoceh pada Rudy.


"Sialan, kenapa dia yang marah.? Apa semua perempuan seperti ini."


"Jawab aku Rudy, jawab aku. Kau curiga padaku kan.? Iya kan.?" Kata Emma sambil mengoyangkan tubuh Rudy.


"Ah, aku minta maaf." Saut Rudy.


"He.? Kenapa kau minta maaf.? Berarti dugaanku benar, kau sudah mencurigaiku kan.?. Iya kan.?" Kata Emma.


"kenapa aku selalu salah di matanya."


"Jawab aku Rudy. Jawaab aku...."


...


"Argh, sialan bocah-bocah itu." Kata Rewin sambil memegang kepalanya.


"Kau sudah sadar Rewin.?" Tanya Anna.


"Anna, apa mereka sudah pergi.?" Saut Rewin.


"Mereka ada di depan kita. Lalu, lihatlah sekitarmu, Yang Mulia Raja dan lainnya sudah babak belur di buat oleh mereka." Jawab Anna.


Rewin pun melirik ke kanan dan kekiri. "Ini benar-benar di luar dugaan, apa Yang Mulia tidak menggunakan Artefaknya.?"


"Situasi kita tidak menguntungan saat ini." Kata Anna.


"Aku tau itu Anna, tapi mereka semua sedang tidur. Justru situasi seperti ini yang menguntungkan kita." Saut Rewin.


"Apa yang akan kau lakukan.?" Tanya Anna.


"Kita harus menyerang mereka Anna." Jawab Rewin.


"He.?" Saut Anna yang terkejut sambil melihat Rudy dan lainnya yang sedang tertidur.


"Ini kesempatan bagus untuk membunuh mereka." Kata Rewin.


"Ah, kau benar, dari pada kita yang di bunuh oleh mereka." Saut Anna.


Anna pun mau berdiri dari tempatnya, tapi tiba-tiba. "Hentikan." Kata Raja Eden.


"Eh.? Yang Mulia." Saut Anna dan Rewin.

__ADS_1


"Aah, Uhuk, Uhuk. Hentikan perbuatan kalian jika ingin menyerang mereka." Kata Raja Eden.


"Ini kesempatan kita Yang Mulia. Situasi kita sangat menguntungkan." Kata Rewin.


"Percuma kalian melawan mereka meskipun mereka sedang tertidur. Kalian tidak akan bisa mengoresnya." Saut Raja Eden.


"Apa maksudnya Yang Mulia.?" Tanya Rewin.


"Aku kalah bertarung dengannya, bahkan aku sudah memakai Artefak ini, justru aku di buat mainan. Kita sudah tidak bisa apa-apa lagi disini." Jawab Raja Eden.


"Ha.? Mustahil." Saut Rewin dan Anna.


"Aku sendiri sangat terkejut. Tapi inilah kenyataannya." Kata Raja Eden.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan Yang Mulia.?" Tanya Anna.


"Aku juga tidak tau. Kita bergerak pun, mereka pasti menyadarinya, apa lagi kalau kita menyerang mereka." Jawab Raja Eden.


Tiba-tiba. "Kalian berbicara dari tadi, aku juga sudah menyadarinya." Saut Rudy sambil tidur.


"Ha.?" Saut Raja Eden dengan terkejut.


"Hm. Lama sekali kalian sadar. Aku sudah capek menunggu disini." Kata Rudy sambil duduk.


TAK TAK TAK. Langkah kaki Rudy yang menghampiri Raja Eden. SUUT. Rudy pun berjongkok di depan Raja.


"Apa alasan kalian menghianati kami.?" Tanya Rudy dengan tatapan yang serius.


"Tatapannya tajam sekali." Saut Raja Eden dalam hati.


"Apa kau bisa menjelaskannya.?" Tanya Rudy.


"Yang kami incar sebenarnya adalah harta warisan Dewa Albion. Harta itu terkubur di dalam reruntuhan istana kota. Sudah 5 tahun lamanya kami berusaha untuk mengambil harta itu, namun kami tidak mampu mengambilnya karena Ferland sudah di kuasai hewan iblis." Jawab Raja Eden.


"Aku tidak bertanya alasan kalian kesana. Yang aku tanyakan adalah, kenapa kalian menghianati kami.?" Saut Rudy.


"Ah, karena kalian sudah mengambil alih kekuasaan wilayah itu. Dungeon, militer, warga sipil, bahkan seluruh kota Ferland. Kami juga tidak ingin kehilangan harta warisan itu." Jawab Raja Eden.


"Siapa yang ingin mengambil wilayah itu.? Apa Marco.? Atau Lilia.? Jika kalian menggapnya seperti itu, bisa aku katakan kau sangat bodoh sekali." Kata Rudy dengan serius.


"Jaga bicaramu bocah." Saut Rewin.


"Dia memang sangat bodoh. Jika kalian bisa melakukan yang lebih baik dari Marco dan Lilia, Mereka tidak akan memerintah sesukanya." Jawab Rudy.


"Kau meremehkan sistem kerajaan Rudy." Saut Anna.


"Sistem kerajaan.? Apa kalian pernah mendengar ada penindasan di kota Ferland saat itu.?" Tanya Rudy.


Mereka bertiga hanya terdiam mendengarkan perkataan Rudy.


"Kalian tidak bisa menjawabnya kan.? Justru aku sering mendengar penindasan di kota lain, bahkan mungkin di ibu kota sendiri. Apa itu sistem kerajaan yang kalian banggakan.?" Kata Rudy.


"Apa maksudmu Rudy.?" Tanya Raja Eden.


"Kau masih bertanya.? Mungkin kau tidak pernah hidup susah sejak lahir, jadi kau tidak pernah merasakan hidup tanpa status sosial." Jawab Rudy.


...

__ADS_1


__ADS_2