Leveling System Reincarnation

Leveling System Reincarnation
CH 67 - Pembalasan


__ADS_3

"Bajingan. SERAAAAANG." Teriak Raja Eden.


SWOSH SWOSH. Suara Carlin dan Sean yang menyerang Rudy. BREDOM. "Uhuk."."ARrgh" Mereka berdua pun langsung terkena serangan dari Lilia.


Carlin dan Sean pun langsung pinsang ditempat. "Ha.?" Saut Raja Eden dengan tercengang.


"Kalian bahkan seperti semut yang mudah di injak." Kata Rudy.


"Majulah kesini, aku akan melawan kalian semua." Kata Lilia sambil melambaikan tangannya.


"*Tidak bisa di percaya, mer*eka bukan manusia." Kata Anna.


"Apa kau tidak ingin maju Yang Mulia.? Aku rasa kau sudah siap dengan perlengkapan perang itu." Kata Lilia.


...


Lalu di barisan belakang. TRANG TRANG SLASH SWOSSH. BUOK. Suara pertarungan Rin yang melawan 30 prajurit elit seorang diri.


"Siapa bocah ini, kenapa sangat kuat sekali." Kata Prajurit disana dengan terkejut.


"HOaaa." Slash.


...


Di tempat Marco.


BUK BUK BUK. Suara Marco yang memukul wajah Marcus dengan sekuat tenaga. Bahkan Marcus sampai pinsan disana, Tapi Marco masih memukulnya dengan penuh kebencian.


"Tidak mungkin. Ini baru saja dimulai, mereka sudah tumbang begitu saja." kata Raja Eden.


Lalu. SWOSH. Suara Rewin dan Anna yang menyerang Rudy. "HIAAA."."HOAA." TRANG. "Belum saatnya kalian melawan sang Dewa." Saut Lilia.


BUOK BUK. Lilia pun menendang perut Rewin dan Anna. "Arrgh." Ergh." Mereka pun langsung tergeletak di atas lantai.


"Apa hanya segini kekuatannya.? Aku bahkan hanya menendangnya. Kenapa sangat lemah sekali." Kata Lilia.


Rudy pun berjalan menghampiri Raja Eden. "Kau ingin melawanku kan.?" Tanya Rudy. Lalu, PAK. Suara Tangan Rudy yang memegang tangan Marco. "Dia sudah pinsan Marco, bahkan mungkin sudah mati. Berhentilah memukulnya." Kata Rudy.


"Ha.? Aku bahkan tidak sadar." Saut Marco.


"Lalu, apa yang ingin kau lakukan Raja Eden.? Bahkan kalian tidak bisa mengores kami sedikit pun." Kata Rudy.


"Hosh, hosh, kalian bajingan, bajingan, BAJINGAAAAN." Teriak Raja Eden. Lalu. TIING. Suara Artefak yang di pasang ke jantung Raja Eden.


"He.? Apa itu.?" Saut Rudy dengan terkejut.


"Aku tidak akan memaafkan kalian semua. Kalian harus mati di sini." Kata Eden. "HOAAAAA." Teriak Eden.


Aura yang sangat luar biasa keluar dari tubuhnya. "Arrgh. Uhuk." Suara Rin yang kesakitan sampai memuntahkan darah.


"Berikan barrier Emma, Rin bisa mati karena tenakan ini." Teriak Rudy.


"Ah, baik." SUING. Rin pun di berikan barrier oleh Emma. "Hosh, hosh. Aku selamat."


"Argh,"."Uhuk." Suara para prajurit elit yang tumbang karena tekanan aura dari Eden.


"Apa yang dia lakukan.? Bahkan aku merasa kekuatannya berlipat ganda." Kata Rudy


"Dia menggunakan Artefak Rudy." Saut Emma.

__ADS_1


"Artefak.?" Saut Rudy dengan terkejut.


"Hahahaha. Kekuatan ini benar-benar aku rasakan. Sekarang matilah kalian semua." Kata Eden. SWOSH. Suara pedang yang di angkat mengarah ke Rudy.


DEPP. "Bacot sekali mulutmu." Saut Marco. "He.?"


BUOOK. Marco pun memukul wajah Eden. "Mustahil dia bisa memukulku." Kata Raja Eden.


Sraaaak. Suara kaki yang terpental mundur. "Huh, huh, Duuh." Suara Raja Eden sambil meludahkan darah ke lantai.


"Dia tidak tumbang. Padahal aku sudah memukulnya dengan sekuat tenaga." Kata Marco.


"Sudah jelas, dia sekarang sudah setara dengan hunter Rank SS." Kata Emma.


"Eh.? Benarkah.?" Saut Marco dengan terkejut.


"Cukup basa basinya." Saut Raja Eden. SUING. Suara Skill tingkat tinggi. "Grade Sword. Lord Warrior."


"Ini bahaya, skill itu seperti punya Rudy." Kata Marco.


"HOAAA." DEEP. Tiba-tiba Eden berada di depan Rudy. SLASH. Rudy pun hanya melihatnya saja.


TEK. " Ha.? Tidak mungkin." Kata Raja Eden dengan sangat terkejut melihat pedangnya di pegang oleh Rudy dengan satu tangan.


"Apa yang kau lakukan.?" Saut Rudy. SWOOT. BUOOK. "A.AA.Arrggh." Suara Raja Eden yang di pukul perutnya dengan sangat keras oleh Rudy, bahkan perutnya sampai condong kebelakang, dan mulutnya terbuka lebar karena kesakitan.


SWOOOSH. BREDOM. Tubuh Raja Eden pun terpental dengan sangat cepat sampai membentur dinding.


"Hm." Saut Rudy. Bahkan, tangannya sampai berasap.


"Kau memukulnya sangat keras Rudy." Kata Marco


...


"Hosh, hosh. Tidak mungkin, harusnya aku bisa menang dengan artefak. Kenapa aku bisa hajar seperti ini." Kata Raja Eden dengan tidak berdaya. Bahkan mulutnya sampai berlumuran darah.


DEEP. "Karena aku lebih kuat dari mu." Jawab Rudy yang tiba-tiba berada di depan Raja Eden.


SWOSH, BREDOM. Rudy pun memukul wajah Raja Eden dengan sekuat tegana, bahkan lantai istana hampir runtuh.


SEP. Suara Rudy yang me jauh dari sana. "Sepertinya sudah selesai."


Raja Eden pun pinsan disana dengan luka yang sangat parah di wajah dan tubuhnya.


"Yang Mulia, tidak mungkin. HOAAAA." Teriak Carlin dengan sangat marah. DEEP. Carlin pun menghempaskan pedangnya ke arah Rudy.


"Mati kau bajingan." Saut Carlin yang tiba-tiba nerada di belakang Rudy.


Lalu. BUOK. "A, Arrgh." Carlin di tendang perutnya oleh Emma. SWOSSH. BREDOM. "Urusan perempuan dengan perempuan." Kata Emma.


"Ah. Emma." Saut Rudy.


"Aku hanya ikut andil saja." Kata Emma sambil berjalan menjauh dari sana.


"A, padahal kepalaku sudah aku tundukkan untuk menghindarinya. Kenapa dia tiba-tiba datang." kata Rudy dalam hati.


...


Beberapa saat kemudian. Sang Raja dan petinggi lainnya pun di bariskan di depan tembok.

__ADS_1


"Apa prajurit disana juga di bariskan di sana kak.?" Tanya Rin.


"Tidak perlu Rin. Kita hanya punya urusan dengan mereka, biarkan para prajurit tidur disana." Jawab Rudy.


"Em, Baiklah." Kata Rin.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan pada mereka.?" Tanya Marco sambil duduk di atas meja sambil makan buah.


"Kita tunggu sampai mereka sadar. Aku sendiri tidak ingin mengurus kerajaan ini." Jawab Rudy.


"Huh, padahal aku ingin memukul mereka sekali lagi." Saut Marco.


"Tidak ada gunanya kau memukul mereka yang sudah pinsan. Kau hanya akan terbawa nafsu amarah yang tidak ada hentinya. Meskipun kau membunuh mereka, gairahmu untuk membunuh yang lainnya tidak akan terhentikan." Kata Rudy.


"Hm, baiklah kalau begitu." Saut Marco.


"Lalu, apa artefak yang di pakai oleh Raja ini adalah milikmu Emma.?" Tanya Rudy.


"Dulu aku punya dua artefak yang aku buat dari jiwa para iblis untuk memperkuat kekuatanku. Tapi aku sudah tidak ingat, kemana artefak yang satunya. Mungkin manusia sudah memburunya sampai sekarang." Jawab Emma.


"Mungkin artefak ini jadi harta turun temurun. Sampai di tangan si bodoh ini." Kata Rudy.


"Meskipun sudah pakai artefak sekalipun, dia tidak bisa menang melawanku." Kata Marco.


"Ah, apa kau ingin menyombongkan kekuatanmu.?" Tanya Rudy.


"Sudah tentu, aku ingin menyombongkannya pada Raja bodoh itu." Jawab Marco.


"Huh, sudahlah." Saut Rudy.


"Tapi artefak itu sudah di tingkatkan Rudy. Aku tidak tau siapa pengguna sebelumnya, aku merasa artefak itu berbeda dengan milikku dulu." Kata Emma.


"Jadi, dia masih belum bisa menggunakan artefak itu sepenuhnya.?" Tanya Rudy.


"Itu benar, jika Raja ini menggunakan kekuatan artefak yang sebenarnya, mungkin Marco akan kalah di pertarungan." Jawab Emma.


"He. Benarkah.?" Saut Marco dengan terkejut.


"Itu benar." Saut Emma.


"Lalu, apa artefak yang ada di jantungku juga bisa di tingkatkan.?" Tanya Marco.


"Sudah jelas bisa di tingkatkan. Apa kau tidak menyadarinya.?" Saut Emma.


Marco pun hanya terdiam sambil menelan ludah. "Kami tidak tau caranya Emma." Saut Lilia.


"Ah, mungkin kalian masih belum menyadarinya. Artefak itu seperti benda penampung energi alam. Jadi bisa di katakan, ada 2 penampung di dalam tubuh, tentu saja kekuatan kalian akan meningkat dua kali lipat." Jawab Emma.


"Aku baru tau itu Emma." Saut Marco.


"Kalian bahkan tidak pernah menggunakan artefak itu dengan benar." Kata Rudy.


"Eh.? Apa kau juga tau Rudy.?" Tanya Marco.


"Dia sendiri tidak tau, hanya saja baru-baru ini dia baru ingat." Saut Emma.


"Huh." Rudy pun hanya menghela nafas.


...

__ADS_1


__ADS_2