Leveling System Reincarnation

Leveling System Reincarnation
CH 128 - Rencana Invasi.


__ADS_3

Beberapa jam pun berlalu, Rudy sampai di istana Royal Unity. Semua prajurit memberikan salam hormat kepada mereka.


"Hormaaat Grak." teriak Rin kepada pasukannya disana.


"Aku kembali Rin." saut Rudy.


"Selamat datang kak Rudy." kata Rin.


"Ah, kami akan masuk dulu, ada sesuatu yang sangat penting." kata Rudy sambil berjalan masuk ke istana.


"Tempat ini.? Aku tidak pernah mendengar ada istana lain di tempat ini. Apa dia seorang Raja.?" saut Teo.


Didepan istana. Emma dan lainnya sedang menunggu disana.


"Sayaang." teriak Luciana kepada Marco.


"Memalukan sekali." saut Teo.


Buok. "Diam kau bajingan." saut Marco sambil memukul Teo.


Luciana pun langsung memeluk Marco dengan mesra.


"Apa kau terluka.?" tanya Luciana.


"Aku baik-baik saja." jawab Marco dengan tersenyum.


"Benar-benar memalukan." saut Teo.


Buok buk buk. "Aku bilang diam." teriak Marco sambil memukul Teo.


"Siapa dia.?" tanya Luciana.


"Dia pemimpin pasukan militer Neverland. Statusnya sekarang adalah tawanan, tapi Rudy membawanya kesini karena sesuatu akan terjadi." jawab Marco sambil melihat Rudy yang berhadapan dengan Emma.


...


"Apa kau tidak apa-apa Rudy.? Aku akan menyembuhkanmu jika kau terluka." kata Emma.


"Aku baik-baik saja." saut Rudy sambil menegelus kepala Emma.


"Wah, cantik sekali dia." saut Teo dalam hati yang melihat Emma.


"Baiklah, kita masuk kedalam." kata Emma


Mereka semua pun berjalan ke ruang rapat di dalam istana. Bahkan Teo pun di ajak kesana.


"Apa kau sudah membaca pesanku.?" tanya Rudy.


"Kenapa kau tidak menelponku.? Kenapa kau harus mengirimkan surat.? Apa aku tidak penting bagimu.?" saut Emma dengan kesal.


"Eh, itu. Aku kan sedang terbang Emma." jawab Rudy dengan gugup.


"Lain kali aku tidak akan membuka pesanmu itu." saut Emma dengan kesal.

__ADS_1


"Baiklah, lalu bagaimana menurutmu.? Tentang isi pesan itu." tanya Rudy.


"Aku sangat terkejut membacanya. Jika itu benar, maka aku harus turun tangan." jawab Emma dengan serius.


"Aku ada rencana." kata Rudy.


"Apa kau akan membantuku.? Ini kan masalahku Rudy." tanya Emma.


"Tentu saja aku akan membantu calon istriku, aku tidak bisa diam saja bukan.?" saut Rudy dengan tersenyum.


"He.?" saut Emma dengan wajah memerah.


"Mendengar kenyataan itu, aku jadi kesal sendiri. Apa lagi masalah ini adalah masa lalu yang ada hubungannya denganmu." kata Rudy.


"Aku sekarang tidak sendiri bukan.?" tanya Emma.


"Tentu saja aku akan menemanimu. Aku tidak ingin kau merasakan kehampaan itu lagi, penderitaan, ketakutan, kesepian, aku tidak akan membiarkannya." saut Rudy dengan tersenyum.


Emma pun hanya menundukkan kepalannya.


"Hm.?" saut Rudy dengan bingung melihat Emma.


"Terimakasih." saut Emma sambil menundukkan kepalanya.


"Ada apa Emma.?" tanya Rudy.


"Tidak apa-apa." jawab Emma sambil meneteskan air mata.


"Emma.??" saut Rudy dengan panik.


"Hm.? Ada apa tiba-tiba begitu.?" tanya Marco.


Luciana pun melihat Emma dengan sedih. "Emma?"


"Baiklah, kita tunggu kesana. Kita pergi kesana dulu Marco, jangan menganggu mereka." kata Luciana sambil menyeret Marco.


"Ah, baiklah." saut Marco.


"Ada apa dengan wanita cantik itu.? Sepertinya dia bertengkar dengannya." saut Teo.


Glep. "Kau juga ikutlah bersama kami." saut Marco sambil menyeret Teo.


"Hm." saut Teo.


...


Rudy pun mengajak Emma ke tempat favoritnya. Di sebuah tebing sebelah samping air terjun yang ada di belakang Mansion.


"Apa kau lebih baik sekarang.?" tanya Rudy sambil memeluk Emma sambil duduk.


"Maaf Rudy, aku jadi mengingat sesuatu yang mengerikan." jawab Emma.


"Tidak masalah. Sekarang kau tidak sendian, aku ada bersamamu. Jika kau ingin membasmi iblis itu lagi, aku akan membantumu." kata Rudy.

__ADS_1


Emma pun memeluk Rudy dengan semakin erat.


"Aku sudah tidak ingin memburu mereka, tujuanku sudah tercapai, dan sekarang aku sudah berada di pelukanmu. Tidak ada lagi yang aku inginkan." kata Emma.


"Emma, mereka sudah menguasai manusia dengan cara berpolitik. Mereka akan melakukan pembasmian kembali. Jika kita tidak bergerak sekarang, mungkin suatu saat mereka akan bergerak." kata Rudy.


"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin disini saja." saut Emma.


"Huh." saut Rudy yang mengehal nafas.


"Aku tidak peduli Rudy. Jangan memaksaku untuk memburu mereka, aku sudah tidak punya dendam lagi. Justru kau sendirilah yang ingin membasmi mereka." kata Emma.


"Emma, dengarkan aku." saut Rudy sambil memegang kedua pundak Emma.


"Aku ingin hidup bersamamu dengan tenang. Aku tidak ingin sesuatu terjadi kepada kita suatu hari nanti. Jika iblis mulai bergerak, tempat tinggal kita akan di hancurkan, masa depan manusia akan terancam. Perjuangan kita akan sia-sia." kata Rudy.


"Aku tau Rudy. Tapi akan sangat berbahaya jika kita melakukan pergerakan sekarang. Kita masih belum mendapatkan informasi apapun tentang mereka." saut Emma.


"Aku sudah membawa informan kesini, dialah yang memberi tahuku." kata Rudy.


"Firasatku sangat buruk." saut Emma.


"Tidak apa-apa, kita akan melakukannya bersama. Percayalah padaku." kata Rudy.


"Aku selalu percaya padamu Rudy, tapi firasatku sangat buruk. Iblis itu sangat kuat Rudy, berbeda dengan hewan iblis yang ada di luar sana. Aku sendiri sangat kesulitan saat memburu mereka, dan aku masih belum tau, siapa Raja iblis mereka yang sebenarnya." kata Emma dengan sedih.


"Aku tau kau masih belum membasmi mereka semua saat itu, mungkin kepala desa yang kau hidupkan juga tidak bisa membasmi mereka semua." saut Rudy.


"Itulah kenapa firasatku sangat buruk. Mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Bahkan ingatanku sendiri tidak bisa mencari tau tentang kebenaran mereka, yang aku khawatirkan adalah, ada seorang Dewa yang berpihak pada mereka. Dewa yang sebenarnya." kata Emma.


"Bukankah kita juga seorang Dewa.?" tanya Rudy.


"Bukan itu maksudku. Aku sering mendengar para iblis menyebut nama dewa mereka saat itu. Lalu aku mencarinya sampai kepelosok dunia, dan aku tidak pernah menemukannya." jawab Emma.


"Itu sudah puluhan ribu tahun Emma, kita juga tidak tau kebenarannya. Cara satu-satunya adalah menginvasi mereka lebih dulu." kata Rudy.


"Tapi aku kehilangan minat untuk memburu mereka sekarang." saut Emma.


"Baiklah, serahkan padaku. Aku akan mencari informasi lebih dulu. Sepertinya kerajaan Aldebaren adalah tempatnya." kaya Rudy.


"Apa kau akan pergi kesana.?" tanya Emma.


"Tentu saja, aku ingin memastikannya sendiri." jawab Rudy.


"Aku ikut." saut Emma.


"Ah, kau boleh ikut. Kita ajak semua anggota kita." kata Rudy.


"Lalu bagaimana dengan Royal Unity.?" tanya Emma.


"Bukankah kita sudah memiliki teknologi.? Kita manfaatkan chip ini untuk berkomunikasi dengan petinggi lainnya disini." jawab Rudy.


"Baiklah, apapun itu, aku tidak ingin kau pergi dari hadapanku lagi. Tetaplah bersamaku kemana pun kau pergi." saut Emma.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita harus menyusun rencana kita dulu." kata Rudy.


...


__ADS_2