
Pembangunan Royal Unity hampir selesai, pusat pelatihan sudah di bangun beserta pelengkapan perangnya. Dan istana Royal Unity sudah di bangun dengan sangat besar dan megah.
Hanya saja, beberapa fasilitas di dalamnya masih belum terisi. Pembangunannya sendiri masih di kerjakan dalam tahap akhir pemolesan dindin.
Lalu, pembangunan Mansion di dekat air terjun, sudah di bangun dengan megah disana, dan lengkap dengan fasilitasnya.
"Tidak kusangka, mereka bisa menyelesaikan pembangunan Mansion hanya 3 bulan saja." kata Rudy yang melihat Mansion dari depan.
"Mereka menggunakan sihir untuk membangunnya Rudy, jadi itu lebih cepat di lakukan. Tapi halaman Mansion masih belum di kerjakan." kata Emma.
"Tidak masalah, asalkan Mansionnya sudah berdiri, kita bisa menempatinya." saut Rudy.
"Kita masuk Rudy, aku ingin melihat rumah kita." saut Emma dengan tersenyum gembira.
"Kau terlihat sangat bahagia Emma. Apa kau menyukai Mansion itu.?" tanya Rudy.
"Aku bahagia karena bisa tinggal bersamamu disini." jawab Emma.
"Bahkan setiap hari kita selalu bersama. Apa kau tidak bahagia.?" saut Rudy.
"Bukan itu maksudku Rudy, jika kita tinggal di dalam tenda setiap hari, itu masih di anggap menumpang. Sekarang kita punya tempat tinggal sendiri, aku bisa bebas melakukan apapun di dalam sana." kata Emma.
"Apa yang ingin kau lakukan.?" tanya Rudy dengan curiga.
"Aku ingin mempunyai tempat pribadi untuk berdandan. Bahkan aku punya dapur yang layak disana, aku benar-benar sangat bahagia." jawab Emma dengan tersenyum sambil memegang tangan Rudy.
"Huh, sudah ku duga." saut Rudy.
"Ada apa dengan ekspresimu itu.?" tanya Emma.
"Kau bahagia karena punya tempat pribadi kan.? Bukan karena tinggal bersamaku.?" saut Rudy.
"Hihi, apa kau cemburu.? Kenapa kau cemburu dengan benda mati.? Apapun itu, aku tetap mencintaimu." kata Emma sambil mecium Rudy. Cup.
"He.?" saut Rudy dengan terkejut.
"Hihi, ini pertama kalianya aku mencium seseorang tanpa di minta. Kau sangat beruntung." kata Emma.
"Aku hanya terkejut saja." saut Rudy dengan wajah memerah.
"Baiklah, kita kesana Rudy, aku sudah tidak sabar ingin melihat-lihat di dalamnya." kata Emma sambil mengandeng tangan Rudy.
"Hm." saut Rudy.
...
1 Bulan pun berlalu.
Tim 2 kembali ke kota Ferland. Kota yang awalnya mati, sekarang sudah terlihat hidup kembali, banyak orang-orang yang menetap tinggal disana.
Lalu, di depan gerbang masuk dungeon, di jaga oleh beberapa prajurit kerajaan disana.
"Selamat datang kembali Lilia." saut Alicia.
"He.? Alicia.? Kenapa kau disini.?" saut Lilia.
__ADS_1
"Ah, sangat kebetulan sekali, aku memang sedang berkunjung kesini. Yaah, mungkin itu sudah sekitar 2 minggu yang lalu." kata Alicia.
"Jadi kau sudah disini selama itu.?" tanya Lilia.
"Iya. Sangat kebetulan sekali, kalian juga keluar hari ini." jawab Alicia.
"Hm, baiklah." kata Lilia sambil duduk di depan dungeon.
"Ellena. Bagaimana kabarmu.?" tanya Alicia.
"Kak Alicia, aku baik-baik saja." jawab Ellena.
"Tidak kusangka, anak manja sepertimu mau masuk kedalam dungeon, aku sangat terkejut." kata Alicia dengan tersenyum.
"Tentu saja, aku kan kuat." saut Ellena.
"Benarkah.? Seberapa kuat kau sekarang.?" tanya Alicia.
"Aku lebih kuat dari kakak sekarang." jawab Ellena dengan tersenyum.
"Hee, benarkah. Kalau begitu, tunjukan padaku." saut Alicia.
"Baiklah, aku akan mengeluarkan api sekarang, sebaiknya kakak tahan." kata Ellena sambil mengarahkan tangannya ke arah Alicia.
"Oke, tunjukan padaku." kata Alicia dengan tersenyum.
"Hm." saut Rin sambil berjalan melewati Alicia.
BRARSS. WUIING. "Api itu sepertinya sangat kuat. Aku terlalu meremehkannya." saut Alicia dalam hati.
TRANK. Suara benturan bola api dan pedang milik Alicia. WUING WUNG WUNG. "Errgh, dia benar-benar sangat kuat sekarang." saut Alicia.
"Bagaimana.? Aku kuat kan, HAHAHAHA." kata Alicia dengan tertawa.
"Aku tidak bisa menahannya." saut Alicia.
Lalu. PAK, suiing. Bola api itu pun di pantulkan kebelakang Alicia. "Tidak kusangka, aku sampai tidak bisa menahannya." saut Alicia.
BREDOMM. Bola api itu pun meledak di belakang Alicia. "Hehe, bahkan kakak tidak bisa menahan bola kecil itu." kata Ellena dengan sombong.
"Aku akui, sekarang kau lebih kuat Ellena." kata Alicia dengan tersenyum.
Lalu. "ITEEEEEEH." Teriak Rin di sana, bahkan rambut dan bajunya sampai berantakan.
"He.?" saut Alicia dan Ellena yang terkejut.
"Seperti biasa, kau memang jadi sasaran empuk." kata Lilia sambil meminum segelas kopi.
"Kenapa kau selalu menyerangku.? Aku hanya ingin bersantai." teriak Rin dengan sangat marah.
"Eeh, itu itu." saut Ellena dengan panik.
"Ah, maaf Rin. Aku yang salah, aku memantulkannya kebelakang. Aku tidak tau kalau bola api itu akan mengenaimu." kata Alicia sambil menghampiri Rin.
"Hm." saut Rin dengan kesal sambil menjauh dari sana.
__ADS_1
"Rin.?" saut Ellena dengan sedih.
"Huh, dia sangat sensitif sekarang." kata Lilia sambil minum kopi.
"Apa dia marah.?" tanya Alicia. "Sudah tentu." saut Lilia dengan santai.
"Aku yang salah, aku tidak berhati-hati." teriak Ellena dengan sedih.
"Eh.?" saut Alicia dengan terkejut.
"Aku akan menyusulnya. Hm, dasar bocah." saut Ellena sambil mengikuti Rin.
"Kenapa dia jadi seperti itu.?" tanya Alicia dengan kebingungan.
"Dia sering menyerang Rin di dalam dungeon. Mereka juga sempat bertengkar di dalam sana, bahkan Rin sampai bilang ke Ellena, kalau dia seorang bajingan yang ingin menindas rakyat jelata." saut Lilia.
"Sampai seperti itu.?" saut Alicia dengan terkejut.
"Huh, birkan saja mereka. Anggap saja mereka sedang bermain." kata Lilia sambil minum kopi.
"Tapi kata-katanya pasti menyakiti hati Ellena." kata Alicia.
"Sudah tentu, dia murung di dalam sana dengan sangat lama, bahkan dia sangat membenci Rin. Tapi tetap saja, yang namanya satu Tim, pasti saling membantu. Mungkin Ellena sering menyerang Rin, tapi Rin sering menyelamatkan Ellena. Yaah, kehidupan seorang bocah sangat rumit." kata Lilia dengan santai.
"Apa itu tidak apa-apa.? Mereka kan masih kecil." kata Alicia.
"Aku sendiri tidak tau. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar." kata Lilia sambil minum kopi.
"Bagaimana kalau mereka bertengkar disini.?" tanya Alicia yang khawatir.
"Biarkan saja. Aku sendiri tidak bisa memisahkan mereka. Cukup lindungi saja tempat sekitarnya jika terjadi pertengkaran." jawab Lilia.
"Hm." saut Alicia sambil melihat Ellena yang sedang menyusul Rin.
...
Di dalam Mansion.
Rudy sedang duduk santai di halaman belakang, sambil melihat air terjun. Lalu, Emma pun tiba-tiba menghampirinya.
"Rudy, sampai kapan kau melihat air terjun itu.?" tanya Emma.
"Huh, disini sangat bosan sekali, bahkan tidak ada TV atau hiburan lainnya." jawab Rudy.
"Apa itu.?" tanya Emma.
"Itu seperti layar komputer yang bisa menampilkan video bergerak." jawab Rudy.
"Ho, apa itu seperti bola cystal.?" tanya Emma.
"Benar, tapi bukan untuk memata-matai orang lain. Harusnya bola cistal itu di buat untuk memberikan informasi atau hiburan seperti film." jawab Rudy.
"Apa kita bisa membuatnya.?" tanya Emma dengan tersenyum.
"Hm." saut Rudy sambil berfikir.
__ADS_1