Leveling System Reincarnation

Leveling System Reincarnation
CH 41 - Legenda.


__ADS_3

"Jika Marco dan Lilia yang pergi ke Ferland, mungkin itu sudah cukup untuk menyelesaikan dungeon itu. Tapi mereka akan menghabiskan banyak waktu." Kata Rudy.


"Lalu, berada di tingkatan mana kekuatanmu Rudy.?" Tanya Alicia sangat penasaran.


"Pertanyaanku adalah, apakah kau bisa menjaminnya jika aku memberitahukannya padamu, informasi ini tidak boleh bocor." Kata Rudy.


"Aku janji tidak akan membocorkannya Rudy." Saut Alicia dengan serius.


"Kau bisa membocorkan informasi tentang kekuatan Marco dan Lilia. Dan bilang saja kepada mereka, kalau aku dan Emma berada di level yang sama." Kata Rudy.


"Ah, aku rasa itu sudah cukup." Saut Marco.


"Empat orang dengan kekuatan di atas rata-rata, sangat di cari oleh semua kerajaan, jadi itulah kenapa aku tidak ingin membocorkan identitas kami." Kata Rudy.


"Aku akan menjaga rahasia itu. Tapi apa kah masih ada kekuatan di atas Rank MM.?" Tanya Alicia dengan penasaran.


"Tentu saja ada." Jawab Rudy.


"Apa kau diatas Rank itu Rudy.?" Tanya Alicia.


"Kau memaksaku untuk menjawabnya." Saut Rudy.


"Huh. Diatas Rank MM adalah Legendary dengan Simbol L tingkat bawah. L+ menengah, Dan I tingkat Tinggi." Jawab Emma.


"Kau menjawabnya Emma." Kata Rudy.


"Jadi kau ada di level itu Rudy.?" Tanya Alicia.


"Hm. Kau benar-benar memaksaku untuk menjawabnya." Saut Rudy.


"Aku sangat penasaran." Jawab Alicia.


"Aku dan Emma berada di atasnya lagi. Kekuatan tanpa batas, Immortal, Simbol Rank IMR. Puncak keabadian." Kata Rudy dengan serius.


Alicia pun hanya tercengang mendengarkannya. Bahkan tubuhnya gemetar cukup kencang.


"Jadi, kau adalah Dewa yang sebenarnya." Kata Alicia dengan tercengang.


"Huh, kau lihat Emma, itulah alasanku tidak ingin memberitahukan identitasku." Kata Rudy.


"Sudah tentu dia sangat terkejut Rudy, bahkan tubuhnya sampai gemetar ketakutan." Saut Emma.


"Aku tidak menyangka, aku bisa bertemu dengan Sang Dewa." Kata Alicia.


"Alicia, dengarkan baik-baik. Aku dan Emma bukanlah Dewa. Kami hanyalah manusia biasa, jangan salah paham dengan pernyataan itu, bahkan kau sendiri bisa mencapai level itu. Hanya saja kalian semua terlalu menikmati kehidupan di istana." Kata Rudy.


"Jika kalian memanfaatkan waktu untuk berburu, mungkin kerajaan ini tidak kekurangan orang-orang kuat." Kata Emma.


"Ba, baik Nona. Aku sangat shock mendengarnya." Kata Alicia.


"Lalu, apa keputusanmu Rudy.?" Tanya Emma.


"Kita akan membantu mereka Emma. Tapi dengan syarat." Jawab Rudy.


"Apapun syaratnya, kami akan menerimanya Rudy. Kami juga sudah menyiapkan imbalan yang sangat banyak." Saut Alicia.


"Huh, aku tidak butuh imbalan. Syarat pertama, jangan sebarkan identitas kami, cukup gunakan identitas Marco dengan kekuatan S+ sebagai legenda. Kedua, jangan gunakan pasukanmu untuk bertarung, bawalah pasukan dengan sedikit mungkin, karena mereka tidak akan ikut bertarung, aku hanya perlu mereka untuk menyiapkan camp dan makanan saja. Selebihnya, serahkan pada kami." Kata Rudy.

__ADS_1


"Itu bukan lagi syarat. Terlalu mudah untuk di penuhi." Saut Alicia.


"Tentu saja, yang akan memimpin pasukan nanti adalah kau. Tapi yang memimpin pertarungan adalah aku sendiri." Kata Rudy.


"Lalu, apa saja yang kalian butuhkan.? Aku akan menyiapkannya." Kata Alicia.


"Kami tidak perlu persiapan apapun. Hanya kendaraan untuk berangkat kesana." Jawab Rudy.


"Baiklah Rudy, aku benar-benar sangat berterimakasih pada kalian semua. Bahkan nyawaku sekalipun tidak akan bisa memenuhi imbalan kalian." Kata Alicia sambil bersujud di depan Rudy.


"Hentikan itu, jangan menyembahku, aku juga seorang manusia." Saut Rudy.


"Aku punya permintaan terakhir." Kata Alicia.


"Apa itu.?" Saut Rudy.


"Bisakah kalian bertemu dengan sang Raja.? Kalian harus mendiskusikan semua ini dengan Raja." Kata Alicia.


"Huh, sangat merepotkan." Kata Rudy.


"Baiklah, kapan kita bertemu.?" Tanya Emma.


"Emma.?" Saut Rudy dengan terkejut.


"Kita harus memberikan informasi kepada mereka Rudy. Anggap saja kekuatan kita berempat setara dengan Marco. Kekuatan sihir Simbol S+. Dengan begitu, mereka akan percaya pada kita." Kata Emma.


"hm, kita bahkan bisa menaklukan dungeon rank Expert sendirian, tanpa harus bertemu dengan Raja mereka." Kata Rudy.


"Rudy, kau harus menghargainya. Apa kau lupa, apa yang sebenarnya kau inginkan.? Hidup bermasyarakat dan bersosialisasi sesama manusia. Inilah kesempatanmu." Kata Emma.


"Eh.? Aku lupa dengan itu." saut Rudy.


"Dasar maniak pertarungan. Ingat pesanku, jangan membunuh Boss didalam sana." Kata Rudy.


"Kau tidak perlu memberitahukan itu padaku Rudy. Hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan kami saat kita berada di dalam dungeon." Saut Marco.


"Hm, baiklah kalau begitu." Kata Rudy.


"Jadi kapan kita akan berangkat ke istana.?" Tanya Emma.


"Sekarang atau besok. Keputusan ada pada kalian. Aku hanya ikut saja." Jawab Alicia.


"Bagaimana Rudy.?" Tanya Emma.


"Aku bahkan belum mendapatkan pelajaran dari seorang guru di Akademi. Kita berangkat besok saja." Jawab Rudy.


"Baiklah, aku akan menyiapkan ruangan rapat untuk kalian besok." Kata Alicia.


"Apa harus seperti itu.?" Saut Rudy.


"Tentu saja harus disiapkan. Ini adalah momen pertama kalinya bagi kerajaan Alden menyambut sang legenda. Bahkan ada empat orang legenda disini." Kata Alicia.


"Hm, Oke. Terserah kau saja." Saut Rudy.


"Kau sudah mulai terbiasa Alicia." Kata Marco.


"Apa maksudnya Marco.?" Tanya Alicia.

__ADS_1


"Kau bahkan sudah berhenti gemetar, seseorang dengan kekuatan puncak sedang berada di depanmu, bahkan ada 2 orang." Jawab Marco.


"Jantungku masih berdetak cukup kencang Marco. Tapi aku berusaha untuk tenang, seperti yang di katakan Rudy, aku tidak boleh memandang status sosial saja. Aku juga ingin berteman dengan kalian semua." Kata Alicia.


"Ah, itu yang kami inginkan. Tetaplah bersikap biasa saja di depan kami. Tidak ada yang istimewa disini. Jika kami bisa bantu, kami akan bantu sebisanya." Kata Rudy.


"Terimakasih banyak Rudy." Saut Alicia.


...


Waktu pun berlalu. Sore hari pun tiba. Namun Lilia dan lainnya masih belum kembali.


"Kemana mereka semua. Sampai sore hari belum kembali juga." Kata Rudy.


"Aku sudah bosan disini." Kata Marco.


"Kenapa kau tidak memeriksanya saja Marco." Kata Rudy.


"Tidak perlu Rudy, mereka pasti sedang bersenang-senang disana." Saut Marco.


"Hm, bahkan Emma sudah kembali ke Akademi bersama Alicia dari tadi." Kata Rudy.


"Apa kau tidak ingin pergi juga dari sini.?" Tanya Marco.


"Aku masih nyaman disini dari pada di dalam Akademi." Jawab Rudy.


"Memang seharusnya hidup kita berada di tempat seperti ini. Manusia di dalam sana sangat mengesalkan." Saut Marco.


"Kenapa kau tadi bisa marah seperti itu.?" Tanya Rudy


"Kau tau sendiri Rudy. Hidupku sepenuhnya hanya mengabdi padamu, sudah tentu aku sangat marah jika kau di perlakukan seperti itu." Jawab Marco.


"Kau harus belajar tentang maksud dan tujuan Marco. Aku punya tujuan lain, kenapa aku tidak membalas mereka, dan aku punya maksud lain, kenapa aku diam saja saat di pukuli." Kata Rudy.


"Apa maksudmu Rudy.?" Tanya Marco.


"Hm, ibaratnya jika kau sudah tau kalau mereka semua gila, tidak perlu di hiraukan. Jika kau menangapi mereka, sama saja kau sama dengan mereka, sama-sama orang gila. Yang perlu kau lakukan adalah, memperhatikannya, dan mencari kekurangannya, setelah itu lakukan sesuatu untuk merubahnya. Bukan membalasnya." Jawab Rudy.


"Aku tidak tau kau punya maksud dan tujuan. Tapi perasaanku sangat marah melihat wajahmu berlumuran darah. Yang ada dipikiranku hanyalah membalas semua perbuatan mereka." Kata Marco.


"Em, kau harus bisa mengendalikan emosimu Marco. Aku tidak akan mati jika mereka memukuliku sampai mereka tua. Kau sendiri sudah tau itu." Kata Rudy.


"Tapi tetap saja, perasaanku sangat marah." Saut Marco.


Lalu, Lilia dan lainnya pun datang kembali.


"Kak Rudy, Kak Marco." Teriak Rin sambil berlari menghampiri mereka.


"Ah, kalian sudah kembali." Kata Rudy.


"Mereka sangat lambat sekali memburu hewan iblis." Kata Lilia.


"Apa mereka baik-baik saja.?" Tanya Rudy yang melihat Herry dan Eva berjalan dengan lemas.


"Sepertinya mereka harus berlatih lebih giat lagi." Jawab Lilia.


"Ah, aku bisa mati jika latihannya seperti ini terus." Kata Herry dengan lemas.

__ADS_1


"Kau benar Herry." Saut Eva dengan lemas.


...


__ADS_2