
Di kantin kelas rendah. Terlihat Rudy sedang duduk sendirian disana.
"Kemana mereka semua, aku jadi kesepian setelah datang ke Akademi." Kata Rudy dengan merenung.
"Jika seperti ini, lebih baik kita tinggal saja di luar sana." Kata Rudy.
Lalu, tiba-tiba Piaar. Terdengar suara piring yang terjatuh ke lantai.
"Apa kau tidak melihat bocah.?" Teriak salah satu Murid disana (Murid 1).
"Lihat, apa yang terjadi disana." Kata murid lainnya.
"Kita lihat saja kesana." Kata murid lainnya
Semua murid disana pun berkumpul di tempat kejadian.
"Heh.? Ada apa disana.?" Kata Rudy yang melihat kerumunan masa di depannya.
...
"Hem, kelas 3 ya. Pantas saja tidak punya sopan santun." Kata Murid 2.
"Dari keluarga mana kau bocah.?" Tanya Murid 1.
"Ah, maafkan aku kak." Kata Rin yang sedang terpojok disana.
"Lalu, bagaimana dengan pakaianku ini.? Apa kau mau menjilatinya.?" Kata Murid 1.
"Aku akan mengantinya dengan yang baru kak." Kata Rin.
"Hoo, jadi kau dari keluarga yang cukup kaya.?" Tanya Murid 1.
"Ah, ituu." Saut Rin yang kebingunggan.
"Siapa nama keluargamu Bocah.?" Tanya Murid 2.
"Aku hanya rakyat jelata kak. Aku bukan dari keturunan bangsawan." Jawab Rin dengan jujur.
"Apaaa.?" Teriak Murid 1 dengan terkejut.
"Bagiaman bisa rakyat jelata berada disini.?" Kata Murid 2.
"Sudah pasti dia penyusup disini." Kata Murid lain disana.
"Pasti dia menggunakan nama keluarga lain dengan sembarangan." Kata Murid lainnya.
"Maafkan aku kak. Aku berada disini karena di ajak oleh kakakku sendiri." Kata Rin.
"Dimana kakakmu, berani sekali membawa orang jelata ke Akademi ini." Kata Murid 1.
"Aku tidak tau dia ada dimana." Saut Rin.
"Heee.?" BUOK. Rin pun di tendang perutnya. "Arrgh." Suara Rin kesakitan.
"Lalu, apa kau makan disini mengunakan uang curian.?" Tanya Murid 1.
"Maafkan aku kak." Kata Rin dengan memohon.
"Kurang ajar." Kata Murid 2. BUK BUK BUK. Rin pun di tendang oleh kedua murid itu. "Arrgh, Uh." Suara Rin yang kesakitan
"Dia pantas mendapatkan pelajaran." Kata Murid lainnya.
"Memang tidak pantas, seorang penyusup datang kesini." Kata Murid lainnya.
Buook "Rasakan ini bajingan." Kata Murid 2 yang menendang tubuh Rin. "Uuh. Hiks." Suara Rin yang kesakitan, lalu ia meneteskan air mata. Tubuhnya pun sampai terpental cukup jauh, dan Rudy pun melihat tubuh Rin yang terpental.
"Rin.? Sialan." Kata Rudy sambil berdiri dari kursinya.
"Aku akan membawamu ke Lema Akademi." Kata Murid 1 sambil menghampiri tubuh Rin.
Note : LEMA (Lembaga Murid Akademi) Seperti OSIS, yang di pimpin oleh para Murid Senior.
"Apa yang kau lakukan.?" Kata Rudy sambil berjalan menghampiri Rin.
"Siapa kau.?" Tanya Murid 1.
"Aku adalah kakaknya." Kata Rudy sambil memegang tubuh Rin.
"Hiks, kak Rudy." Kata Rin sambil menangis.
__ADS_1
"Ho, jadi kau kakaknya.? Kebetulan sekali, aku tidak perlu repot-repot mencarimu." Kata Murid 1.
"Tidak perlu memukul anak kecil seperti ini. Apa kau tau perasaanya.?" Kata Rudy.
"Omong kosong. Penyusup seperti kalian harus di hajar habis-habisan supaya paham." Kata Murid 1 sambil berjalan kearah Rudy.
Lalu. Buok. Kepala Rudy pun di pukul sampai terjatuh kelantai.
"Kak Rudy.?" Kata Rin yang terkejut.
"Status sosial sialan. Apa ini yang dikatakan Emma, kalau dunia ini sudah kotor." Kata Rudy dalam hati.
"Hajar dia." Kata Murid 1. "Baiklah." Kata Murid 2.
BUOK, BUK BUK BUK. Rudy pun di tendang habis-habisan sambil melindungi Rin dengan tubuhnya.
"Berdirilah bajingan." Kata Murid 1 sambil menarik kerah baju Rudy.
BUOK. Kepala Rudy pun di pukul mengunakan sihir dengan sangat keras. Bahkan darahnya sudah berceceran dimana-mana. Namun Rudy tetap diam tanpa perlawanan.
"Hosh, hosh." Suara Rudy yang terengah-engah.
"Bahkan dia mengunakan sihir untuk memukul sesama manusia." Kata Rudy dalam hati.
"Kak Rudy Hiks." Kata Rin yang melihat Rudy sudah babak belur dengan menangis.
"Dia masih bisa berdiri." Kata Murid 1.
"Serahkan padaku." Kata Murid 2. ZUING. Wosh. BRUOK. Tubuh Rudy pun terpental cukup jauh sampai menabrak meja dan kursi kantin.
Meja dan kursi kantin pun sampai berserakan dimana-mana.
"Huh, sepertinya sudah cukup. Biarkan saja dia, tidak perlu sampai LEMA turun tangan sendiri." Kata Murid 2 sambil membenarkan bajunya.
"Jangan buat gara-gara jika masih ingin hidup." Kata Murid 1.
"Ternyata mereka berdua hanya pengecut saja. Tontonan yang membosankan. Bubar bubar." Kata Murid lainnya disana.
Semua Murid pun mulai meninggalkan kantin satu persatu.
"Ingat itu baik-baik. Atau kau akan mati." Kata Murid 1 sambil berjalan menjauh dari sana.
"Kak." Kata Rin.
"Apa kau tidak apa-apa Rin.?" Tanya Rudy.
"Seharusnya kak Rudy yang bertanya pada dirinya sendiri." Jawab Rin.
"Aargh. Ternyata sakit juga jika tidak mengunakan sihir pelindung." Kata Rudy sambil duduk di lantai.
"Rakyat jelata sialan. Minggir dari sini." Kata Murid lainnya yang berjalan melewati Rudy.
Rudy pun hanya melihat mereka semua yang mencibirnya.
"Hm, sebaiknya kita pergi saja dari sini Rin." Kata Rudy sambil berdiri. "Em." Saut Rin.
Rudy dan Rin pun pergi kebelakang Akademi. Mereka berdua duduk di pinggir lapangan pelatihan sihir.
"Minumlah ini Rin." Kata Rudy sambil memberikan potion merah.
"Baik kak." Kata Rin.
"Kenapa kau tidak membalas mereka.?" Tanya Rudy.
"Aku hanya memegang perkataan kakak. Bahkan kak Rudy sendiri tidak membalas mereka." Jawab Rin.
"Ha.?" Rudy pun terkejut dengan perkataan Rin. "Apa ini gara-gara aku.?" Kata Rudy dalam hati sambil melihat Rin meminum potion.
"Rin, dengarkan baik-baik. Orang-orang disini hanya memandang status sosialnya. Mereka tidak melihat kemampuan yang dimiliki manusia. Jika kau tepojok, lakukan sesuatu untuk melindungi diri. Atau kau bisa kabur untuk menghindari mereka." Kata Rudy.
"Em, baik kak. Aku mengerti." Kata Rin.
"Kau anak yang baik Rin, lebih baik dari pada para bangsawan itu." Kata Rudy sambil mengusap kepala Rin.
"Benarkah.?" Tanya Rin.
"Tentu saja Rin. Hahaha." Kata Rudy dengan tertawa.
Lalu, Tiba-tiba Marco dan Lainnya sedang berjalan melewati lapangan, dab tidak sengaja melihat Rudy disana.
__ADS_1
"Rudy.?" Kata Marco dengan terkejut.
"Ah, itu temanmu Marco." Kata Eva.
Marco pun hanya diam saja dan berjalan manghampiri Rudy.
"Apa yang sudah terjadi padanya.? Bahkan kepalanya berlumuran darah." Kata Alicia dengan terkejut melihat Rudy sambil mengikuti Marco.
"Aku juga ingin tau." Kata Herry.
...
"Kak, apa kau tidak membersihkan darah itu.?" Tanya Rin sambil menunjuk kepala Rudy.
"Aku tidak ingin mengotori seragam ini." Kata Rudy.
"Gunakan ini kak." Kata Rin sambil mengeluarkan kain dari cincin penyimpanan.
"Apa ini pakaianmu.?" Tanya Rudy.
"Pakai saja kak. Aku sudah mendapatkan baju yang lebih layak dari kak Marco." Kata Rin dengan tersenyum.
"Ho, baiklah, terimakasih Rin." Kata Rudy sambil mengambil kain dari Rin.
Lalu. "Rudy.?" Kata Marco yang tiba-tiba datang.
"Kak Marco.?" Saut Rin.
"Rin, apa yang terjadi padamu.?" Kata Marco sambil mendekat kearah Rin.
"Dia terjatuh dari gedung saat latihan." Kata Rudy.
"Kau tidak bisa berbohong padaku Rudy. Bahkan wajahmu sudah cukup menjadi bukti." Kata Marco dengan kesal.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan.?" Tanya Rudy.
"Siapa yang melakukannya.?" Tanya Marco balik.
"Sudah tentu manusia. Apa kau akan memukul semua manusia yang ada disini.?" Saut Rudy.
Alicia pun terkejut mendengarnya.
"Siapa yang melakukan itu.? Katakan padaku, aku adalah Ketua LEMU." Kata Alicia.
"Putri, kenapa kau membelanya, bahkan kita masih belum mendapatkan informasi yang jelas." Kata Herry.
"Diamlah Herry." Kata Alicia dengan tatapan tajam.
"Katakan padaku Rudy. Siapa yang melakukannya." Kata Marco dengan kesal.
"Kak Rudy hanya melindungiku dari para bangsawan disana kak. Akulah yang membuat keributan." Kata Rin.
"Apa kau juga di pukul Rin.?" Tanya Marco.
"Lalu, jika sudah tau seperti ini, apa yang akan kau lakukan.?" Tanya Rudy dengans serius.
"Bajingan, berani sekali mereka." Kata Marco dengan kesal.
"Apa kau akan menggunakan nama bangsawanmu untuk menghajar mereka.?" Saut Rudy.
"Oe Kau. Bersikaplah yang sopan dengan Tuan Marco." Kata Herry dengan serius.
"Sudah aku katakan, Diamlah Herry." Kata Alicia dengan kesal. Herry pun terkejut melihat tatapan Alicia.
"Aku akan mencarinya sekarang." Kata Marco sambil berjalan menjauh dari sana.
"Sialan. Kau membuatku bergerak sekarang." Kata Rudy dengan serius.
"Aku tidak terima." Kata Marco.
"Berhentilah disitu Marco." Kata Rudy.
"Kau diam saja disitu." Kata Marco sambil berjalan.
"MARCOOOO." Teriak Rudy dengan kesal. Marco pun tiba-tiba berhenti. "Aku tidak bisa membiarkannya." Kata Marco sambil mengepalkan tangannya.
"Sudah aku katakan, jangan lakukan apapun disini." Kata Rudy sambil berdiri.
"Bajingan. Mereka semua membuat situasi jadi kacau." Kata Marco sambil mengeluarkan daggernya.
__ADS_1
...