
Pasukan Neverland pun melewati ribuan mayat yang tergeletak disana. Bau udara disana sangat menyengat, karena terkontaminasi dari bau darah dan asap kebakaran.
"Ini semua pasukan Kavaleri." kata Jill dengan tercengang.
"Sepertinya ada prajurit bantuan yang datang." kata Teo.
"Tidak kusangka mereka bisa menghabisi pasukan Kavaleri dengan waktu yang singkat Tuan. Lalu, bagaimana dengan Jack.?" saut Jill.
"Tetaplah waspada. Gunakan para tawanan itu untuk mengancam mereka." kata Teo sambil memacu kudannya lebih cepat.
"Laksanakan perintah." saut Jill.
Ia pun langsung bergerak ke barisan belakang dengan cepat.
"Tahan tawanan disini. Musuh sedang berada di depan." teriak Jill kepada pasukannya.
"Laksankan perintah Jendral." saut para prajurit disana.
"Apa ada sesuatu Jendral.?" tanya salah satu kapten disana.
"Kami masih belum memastikannya, gunakan tawanan itu sebagai ancaman, jika pasukan bantuan datang menyerang, bunuh mereka semua. Kita tunggu sinyal dari Tuan Teo." saut Jill.
"Laksanakan perintah." saut kapten itu.
...
Semua prajurit pun langsung mengerahkan pedangnya ke leher para tawanan.
"Aku ingin langsung membunuhnya saja." kata prajurit Neverland.
"Bersabarlah, ini juga termasuk strategi dalam perang." kata Prajurit lainnya.
Lalu, di tempat para Raja berada.
"Apa Rudy dan lainnya sudah sampai disini.? Jika melihat mayat-mayat ini, sudah pasti mereka yang melakukannya." saut Raja Eden.
"Mampus kalian, sepertinya Royal Unity sudah datang kesini." saut Leo.
"Kondisi ini sangat mengerikan, apa Royal Unity sekuat itu.?" saut Silvi.
"Berhentilah memberontak. Diam, dan tetaplah berdiri disini." teriak prajurit disana sambil menempelkan pedang ke leher Leo.
"Aku akan membalas kalian semua setelah ini." saut Leo dengan marah.
...
Di tengah-tengah lembah, Teo pun bergerak sendirian kesana. Lalu, ia melihat dua orang yang sedang duduk dan berdiri.
"Hanya dua orang.? Yang benar saja. Pasti ini adalah jebakan." kata Teo sambil turun dari kudanya dan menghampiri Rudy.
Tap Tap Tap.
"Tidak kusangka kalian mampu membereskan pasukan kavaleri." kata Teo.
"Apa kau pemimpin mereka.?" tanya Rudy.
Trang. "Jika iya, lalu apa yang akan kau lakukan.?" saut Teo sambil mengeluarkan pedangnya.
"Kami akan menawanmu." saut Rudy.
"Baiklah, aku anggap itu deklarasi perang. Kalau begitu, panggil semua pasukanmu untuk keluar dari tempat persembunyiannya." kata Teo.
"Apa kau tidak melihat, hanya dia pasukanku." kata Rudy sambil menunjuk Marco.
"He.? Kau pikir aku akan percaya dengan omonganmu itu. Trik seperti itu sangat mudah di tebak." saut Teo.
"Baiklah jika kau tidak percaya." kata Rudy sambil berdiri.
"Itu adalah trik yang sering terjadi di medan perang bukan.?" saut Teo.
"Aku tidak akan menggunakan trik seperti itu, sebaiknya kau jawab pertanyaanku. Dimana para tawanan perang.?" tanya Rudy.
"Dia serius sekali. Apa benar hanya mereka berdua saja yang datang kemari.?" saut Teo dalam hati.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu. Tapi, ijinkan aku melakukan duel bersamamu. Itu adalah tradisi dari perang jaman dulu, kita tidak perlu menumpahkan darah dari prajurit kita." kata Teo.
"Kau pintar juga. Tapi aku tidak yakin bisa menang." saut Rudy.
"Jika kau tidak mau, maka aku akan menyerang kalian dengan seluruh kekuatan kerajaan." kata Teo.
Tap Tap. "Siapa bilang aku tidak mau. Aku hanya tidak yakin, kau bisa menang melawanku." kata Rudy.
"Hm, baiklah, kita buktikan disini." saut Teo. Sreet. Teo pun memasang kuda-kuda. Suing. Suara sihir dari pedang milik Teo.
"Apa kau tidak bersiap-siap.? Kau terlalu meremehkanku." saut Teo.
"Tidak perlu, kita mulai sekarang." saut Rudy. DEEP.
SWOOSH. "Ha.??" Teo pun sangat terkejut melihat tangan Rudy yang sudah ada di depannya. Tapi, Wos. Teo pun berhasil menghindarinya.
"Dia bisa menghindarinya.? Sepertinya akulah yang sudah meremehkannya." saut Rudy.
TING, SWOSSH. Teo pun menghempaskan pedangnya BRDMM.
"Aku cukup terkejut kau bisa mengarahkan tanganmu ke depan wajahku. Tapi sayang sekali, kau berakhir seperti ini." kata Teo.
DEEP. "Ternyata kau terlalu meremehkan musuhmu." saut Rudy yang tiba-tiba berada di depan Teo.
"Mustahil." saut Teo dengan sangat terkejut.
BRUOOOKK. "Arrrghh." Rudy pun memukul perut Teo dengan sangat keras, bahkan punggungnya sampai condong ke belakang, dan mulutnya mengeluarkan darah. WOOOSSS. Tubuhnya terlempar ke atas udara.
"Tidak mungkin."
DEEP. "Aku harap kau tidak pinsan." BUOOK. "Ergh."
SWOSSH. BREDOMM. Tubuh Teo pun terhempas ke tanah dengan sangat keras.
...
Di tempat prajurit Neverland.
"Itu benar kapten, kita tidak perlu turun tangan." saut prajurit disana.
...
Lalu, di tempat Rudy.
Tak. Rudy mendarat dengan sangat mulus.
"Apa sudah selesai.?" tanya Marco.
"Kita lihat dulu." saut Rudy sambil menghampiri Teo yang sudah sekarat.
"Err, uhuk. Uhuook."
"Untunglah dia tidak pinsan." saut Rudy. Glep. Ia pun mengangkat Teo.
"Aku bertanya sekali lagi, dimana para tawanan perang.?" tanya Rudy dengan serius.
"Mereka akan mati setelah ini. Aku sudah memerintahkan prajuritku untuk membunuh mereka." saut Teo. Lalu, Suiing. Sebuah suar merah yang meluncur ke atas udara.
"Itu adalah sinyalnya." saut Teo.
"Bajingan." Buokk. "Aakk." Teo pun langsung pinsan di tempat.
...
Di tempat prajurit Neverland.
"He.? Bukankah itu sinyal dari Tuan Teo.?" tanya prajurit disana.
"PERINTAH UNTUK MEMBUNUH TAWANAN." teriak Jill kepada pasukannya.
"Kenapa tidak dari kemarin.?" saut prajurit disana. Tring.
"Aku akan membunuh dengan pelan, tidak akan sakit." kata prajurit itu.
__ADS_1
"Huh, huh huh." saut tawanan perang yanh sudah tidak berdaya.
...
Di tempat Rudy.
"Marco, mereka berada di belakang sana. CEPAAAT." Teriak Rudy.
"Serahkan padaku." DEEP.
Rudy pun mengeluarkan pedangnya. SET, SWOOOSH. Dia membelah udaha di sana. Dan terlihat, ratusan ribu prajurit yang sedang menunggu di belakang lembah gunung.
"Ini baru terlihat jelas." saut Marco. SUING. SING SING SING SING SING
Marco pun melesatkan Daggernya ke arah prajurit Neverland.
"Apa itu.?" saut Jill dengan terkejut melihat ribuan dagger yang mengarah pada mereka.
"SERANGAN MUSUUUH." teriak Jill.
"He.? Lalu bagaimana dengan tawanan ini.?" saut prajurit disana. "Sebaiknya aku bunuh dulu." Lalu, Jleb. Kepalanya pun tertembus dagger. Bruk.
"FORMASI BERTAHAAN." Teriak Jill.
Jleb Jleb Jleb Jleb. "Aarg." "Aaaah." teriakan prajurit yang terkena serangan Dagger.
"Sepertinya dia sudah bergerak. Aku sangat merepotkannya." kata Raja Eden.
Buook. Leo pun menendang prajurit disana. "Rasakan ini bajingan." saut Leo.
"SERAANG MEREKAA." teriak Silvi sambil berdiri.
"HOAAAAAAA." teriak prajurit Overlord yang bangkit.
"Hee, mereka melawan Jendral." teriak Kapten kepada Jill.
Namun, Jill hanya terdiam sambil berfikir keras.
"Apa ini.? Situasinya sangat membingungkan." saut Jill.
...
Bruok, buuk. Slash. Draak. suara pertarungan para prajurit Overlord yang melawan dengan kakinya saja.
Dan di sisi lain. Marco terus mengeluarkan daggernya dan meluncurkannya ke bawah.
"Mereka lebih banyak dari dugaanku." saut Marco.
Tret tret. WOS WOS. DRMRR BREDMM. "Harusnya pakai skill area saja." saut Marco.
DEEP. Rudy pun menghampiri Marco.
"Jangan gunakan Skill area bodoh. Kau bisa melukai para tawanan." saut Rudy.
"Hee.? Lalu bagaimana.?" tanya Marco.
"Formasi mereka sudah kacau, bunuh siapapun yang mendekati tawanan. Aku akan membereskan sisannya." saut Rudy.
"Baiklah, itu mudah." SUING. SING SING SING.
"AAAH."."ARRGH."."TOLOOONG." teriakan prajurit Neverland yang berlari tanpa arah.
"Chik, ini kacau sekali. Mereka melanggar perintah militer." kata Jill dengan marah.
Lalu. DEEP. "Apa kau salah satu pemimpin disini.?" tanya Rudy.
"Haa.??" saut Jill. BRUOOKK. "Errgh." SWOOSH. BRMDMM.
"Dimana Raja bodoh itu.?" saut Rudy sambil mencari tawanan.
Dan. "Itu mereka." saut Rudy. DEEP.
...
__ADS_1