
Terlihat, hewan iblis hampir sampai di depan benteng. Sedangkan para prajurit dan komandannya hanya tercengang saja di tempatnya.
"Sial, para prajurit sampah. Bisa-bisanya mereka tidak mengambil posisi." kata Marco dalam hati.
DEEP. Marco pun sampai di atas benteng, dan ia melihat para penjaga disana hanya tercengang melihat hewan iblis di depannya.
"Disini juga sampah. Lalu, kemana para Panglima itu pergi, aku yakin masih ada beberapa Panglima yang beristirahat disini."
"Tuan, bagaimana ini.?" Tanya penjaga disana kepada Marco.
"Bagaimana.? kalian lihat saja dari sini, biar hewan iblis itu masuk kedalam benteng." Jawab Marco dengan kesal.
"HIIII." Saut penjaga itu dengan gemetar. Lalu mereka semua pun berlari kedalam benteng dengan ketakutan.
"Percuma aku berteriak semalam. Jika tau akan terjadi seperti ini, aku tidak akan melatih mereka." Kata Marco dengan kesal.
"Hosh, hosh, Apa yang akan aku lakukan kak.?" Tanya Rin dengan terengah-engah.
"Kau sudah datang Rin, bersiaplah untuk mengantar nyawa. Aku tidak yakin bisa mempertahankan benteng ini dengan jumlah mereka yang sangat banyak. Bahkan mereka mengepung seluruh benteng." Jawab Marco.
Terlihat, hewan iblis sedang mengepung seluruh benteng garis depan. Mungkin panjangnya sekitar 1km, dan hewan iblis itu datang memenuhi daratan di depannya.
"Chik, bangsawan bangsat. Kenapa harus aku yang bertarung disini.?" Saut Marco.
SUIING. WOOSH. Ribuan dagger pun melayang keatas udara. Lalu. "HOAAA" Teriak Marco dengan kesal. SWOSH SWOSH SWOSH. Ia pun melesatkan ribuan dagger itu tanpa tersisa.
"Hanya ini yang bisa ku lakukan." Saut Marco.
"Apa aku akan kesana kak.?" Tanya Rin.
"Sebaiknya kau berjaga di bawah benteng Rin. Bunuh hewan iblis itu sebisanya. Jika kau melihat hewan iblis Rank S keatas, segera menjauh dari sana." Jawab Marco.
"Baik kak." Kata Rin sambil melompat kebawah benteng.
"He.? Kenapa dia meloncat kesana.? Aku menyuruhnya untuk menjaga benteng, bukan menyerang mereka. Hm, sudahlah." Kata Marco dalam hati.
"Aku harus berusaha." Kata Rin dalam hati dengan sangat ketakutan.
Lalu, Rin pun berlari kedepan sendirian. "HOAaaa." Teriak Rin sambil menyerang hewan iblis disana. SRAK SRAK SLASH.
"Apa dia sudah gila menyerang mereka semua sendirian." saut Marco.
"Aku tidak bisa berdiam saja disini. Kurang dari 10 detik, hewan iblis disana pasti berhasil masuk kedalam benteng." Kata Marco.
"Hoaaaa." SUING. SWOSH SWOS SWOSH. Marco pun menggeluarkan ribuan dagger lagi ke atas langit, dan langsung di sebar kesegala sisi.
"Apa Rin akan baik-baik saja disana sendirian.?" Kata Marco sambil mengeluar ribuan dagger lagi.
"Aku harap dia baik-baik saja."
Di kawasan peristirahatan prajurit kerajaan. Semua prajurit masih tercengang di tempatnya, tidak ada yang bergerak sama sekali.
Mereka semua ketakutan, cemas dan panik. Bahkan ada beberapa prajurit yang sudah berlari menjauh dari sana.
__ADS_1
Situasinya sangat kacau sekali disana. Apalagi mereka melihat hewan iblis begitu banyaknya, membuat mental para prajurit ciut untuk berperang.
"*Kurang ajaar. Kenapa m*ereka semua malah berlari menjauh. Aku tidak bisa mempertahankan benteng dalam waktu singkat. Sialan."
"Apa boleh buat, aku hanya bisa mengandalkan kecepatanku saja." WOOSH.
Marco pun berlarian mondar mandir keseluruh benteng. Ia menjaga benteng agar tidak ada hewan iblis yang masuk kedalam. Namun Hewan iblis disana juga sangat cepat.
SRAK SLASH "Sialan, mereka banyak sekali, aku tidak bisa mondar-mandir seperti ini terus. jika salah satu sisi ada yang kosong, mereka bisa saja langsung masuk kedalam."
Lalu. DRAP DRAP GROARR. Raungan hewan iblis Rank S yang berlari menuju Rin.
"Eh.? RIN MENJAUHLAH DARI SANAA." Teriak Marco dengan panik.
Namun Rin tidak bisa mendengar teriakannya itu. Ia terlalu fokus membunuh hewan iblis yang ada di depannya. Bahkan ia sendiri tidak tau nyawanya sedang terancam.
"Siaal. Apa yang harus aku lakukan.? Aku harus memilih antara bangsawan atau Rin."
Hewan iblis Rank S pun akhirnya berada di depan Rin. GRAAA. "Eh.?" Saut Rin dengan terkejut.
"Sudah jelas aku memilih Rin." Saut Marco sambil melesatlan daggernya.
SRAK. Hewan iblis di depan Rin pun di bunuh oleh Marco. "Ini menyeramkan." Kata Rin dengan ketakutan.
"MENJAUH DARI SANA RIIN." Teriak Marco
DEEP. Marco pun berdiri di depan Rin. "Ganti posisi." Kata Marco. "Baik kak." Saut Rin sambil berlari ke arah benteng.
"Eh.? Kak Marco, hewan iblis disana sudah masuk kedalam benteng." Kata Rin dengan tercengang.
"Mereka pasti mati didalam sana, Sialan. Meskipun begitu aku masih memiliki hati." Kata Marco sambil melesat kedepan.
Tiba-tiba. SUSH, BREDOM. DROMMR. TRET TRET. Serangan petir yang keluar dari atas langit dan membunuh hewan iblis yang ada di dalam benteng. Lalu, BLARSS BREDOM. Serangan api biru yang menyerang ke arah depan.
"He.? Rudy kah.? Apa dia sudah sadar.? Sialan kau, kenapa tidak dari tadi." Kata Marco sambil bertarung .
...
Didalam benteng. Emma berjalan kearah benteng sambil mengeluarkan skill area. Ia juga melihat para prajurit bersama komandanya yang berlarian.
"Kenapa bisa sampai masuk.?" Tanya Emma dengan terkejut.
"Sepertinya mereka masih belum memasang koin itu." Saut Rudy
"Kau tetaplah disana Rudy, jangan keluar dulu. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian, ada yang aneh dengan tubuhmu itu." Kata Emma sambil menerbangkan Rudy ke dalam barrier.
"Bagaimana caranya aku kabur dari sini.? Tanganku saja susah untuk di gerakkan." Saut Rudy.
"Bagus, tetap disitu." Kata Emma sambil berjalan.
"Kenapa para prajurit malah lari menjauh.? Harusnya mereka melawan mereka." Kata Rudy yang melihat prajurit berlarian menjauh.
"Itulah sifat manusia sekarang Rudy. Entah mereka benar-benar lari karena takut, atau ada maksud lain." Saut Emma.
__ADS_1
"Ah, kau benar Emma. Di antara mereka aku merasakan ancaman, ada yang tertawa saat berlari, ada juga yang benar-benar ketakutan. Ini sangat aneh." Kata Rudy.
"Mereka pasti punya maksud lain. Aku sudah meresa curiga sejak kembali kesini." Kata Emma.
Lalu, mereka pun melihat Rin bertarung sendirian menjaga gerbang masuk yang sudah runtuh.
"Rin.? Kenapa dia bertarung sendirian.?" Saut Emma dengan terkejut.
"Dimana yang lainnya. Apa Alicia dan para panglima ikut kedalam dungeon bersama Lilia.?" Tanya Rudy.
"Ini sangat aneh sekali." Saut Emma sambil mengahampiri Rin yang bertarung.
"Hosh, hosh, apa kak Marco baik-baik saja disana.?" Kata Rin dalam hati sambil bertarung.
SWOSH, SLASH SLASH. "Eh.? Apa bala bantuan sudah datang.?" Saut Rin yang terkejut melihat beberapa hewan iblis terbunuh di depannya, lalu ia pun menoleh ke belakang.
"Kak Emma.?" Kata Rin.
"Rin, dimana yang lainnya.?" Tanya Emma.
"Aku tidak tau kak. Aku hanya bertarung berdua bersama kak Marco." Jawab Rin.
"Dimana Marco.?" Tanya Rudy.
"Eh.? Kak Rudy, kenapa kakak terbang begitu.?" Saut Rin dengan terkejut.
"Nanti saja ceritanya. Dimana Marco.?" Tanya Rudy.
"Kak Marco ada di depan sendirian." Jawab Rin.
"Hm, bahkan kalian hanya bertarung berdua saja. Ini sangat mencurigakan. Pasti ada maksud lain." Saut Emma.
"Kau bantu mempertahankan benteng ini Emma. Dan kau Rin, bantulah dari bawah benteng." Kata Rudy.
"Ah, baik kak." Saut Rin.
"Hati-hati Rin, kami akan ke atas benteng." Kata Emma sambil melombat ke atas benteng.
"Serahkan padaku." Saut Rin.
Lalu. TAK. Suara kaki emma yang mendarat di atas benteng. "Jumlah ini sangat banyak Rudy, pantas saja Marco tidak bisa mempertahankan benteng ini. Daratan yang luas itu di penuhi hewan iblis." Kata Emma sambil melihat ratusan ribu hewan iblis di depannya.
"Ini sangat cocok untuk skill area. Habisi mereka semua Emma." Saut Rudy.
"Baiklah, setelah ini kita harus mencari tau apa yang sudah terjadi dengan tempat ini." Kata Emma.
Tiba-tiba. GING GING GING. Suara kapal dari pusat kota yang lepas landas meninggalkan tempat itu.
"He.? Kenapa mereka sampai meninggalkan tempat ini." Kata Emma.
"Kurang ajar, mereka kabur dengan sangat terang-terangan." Saut Rudy.
Mereka pun melihat 5 Kapal yang terbang ke udara. Termasuk kapal sipil dan militer.
__ADS_1
...