
Beberapa jam kemudian, Rudy dan lainnya masih menunggu Luciana yang berdandan.
"Lama sekali, ini sudah 3 jam kita menunggu disini. Apa dia pinsan disana.?" Kata Marco dengan kesal.
"Kau benar, bahkan kita disini hanya di temani oleh si Raja Bodoh itu." Saut Rudy.
"Terimakasih Rudy, kau sudah menemaniku disini." Kata Rudy.
"Aku sebenarnya ingin pergi bersama Emma ke ruang rapat. Tapi kau menahanku." Saut Rudy.
"Kalian tenang saja, Putri Emma dan lainnya sudah saya siapkan kamar, mungkin mereka sedang beristirahat disana." Kata Raja Eden.
"Lalu, bagaimana dengan para bangsawan itu.?" Tanya Rudy.
"Ah, mereka pasti sudah tau apa yang sudah terjadi saat ini, Anna dan Rewin menyembuhkan mereka, mungkin mereka semua sudah kembali ke kediaman masing-masing." Jawab Raja Eden.
"Untuk urusan itu, aku serahkan padamu saja. Tapi, dimana kamarku.?" Tanya Rudy.
"Aku sudah menyiapkan kamar untukmu dan Marco, kalian tenang saja. Apa perlu aku panggilkan perempuan juga.?" Saut Raja Eden.
Rudy dan Marco pun langsung terkejut mendengarnya.
"Hehehe, Marco, apa kau tertarik.?" Tanya Rudy dengan muka mesumnya.
"Hehe, sepertinya ini adalah kesempatan emas Rudy." Jawab Marco dengan muka mesumnya.
"Aku bisa menyiapkan perempuan yang kalian inginkan, bilang saja kriterianya." Kata Raja Eden.
"Apa ada perempuan yang lebih cantik dari Emma.?" Tanya Rudy.
"Kriteriamu terlalu tinggi Rudy. Sejujurnya, Putri Emma sudah sangat cantik. Bahkan perempuan di seluruh kerajaan sekalipun, tidak ada yang bisa menandingi karakteristiknya. Jika di lihat dari kemampuannya, Putri Emma sudah menguasai segalanya, apalagi kekuatannya. Di tambah lagi dengan fisik yang sangat bagus dan wajahnya yang cantik." Kata Raja Eden sambil membayangkan Emma.
BUOK. "Apa yang kau pikirkan.?" Saut Rudy sambil memukul kepala Raja Eden. "Aaah."
"Tidak Rudy, kau tidak akan bisa menemukan perempuan seperti Putri Emma, apalagi di atasnya. Apa kau yakin masih ingin memilih wanita lain.?" Tanya Raja Eden.
"Huh, sepertinya memang tidak mungkin. Bagaimana dengannmu Marco.?" Saut Rudy.
Tiba-tiba Luciana datang ke kamarnya dengan pakaian gaun yang sangat indah. Bahkan wajahnya terlihat lebih bersih dari sebelumnya. Karakteristik Luciana pun di perlihatkan di depan Marco.
"Siapa dia.?" Kata Marco dengan tercengang melihat kecantikan Luciana.
"Marco, bagaimana denganmu.? Luciana sudah datang, tidak mungkin kita membicarakan hal seperti ini di depan dia." Kata Rudy.
"Sepertinya aku ingin dia pergi ke kamarku." Jawab Marco sambil menunjuk Luciana.
"He.?" Saut Rudy dengan terkejut.
"Jadi kau ingin Luciana yang menemanimu malam ini.?" Tanya Raja Eden.
"Eh.?" "Kenapa aku bengong begini." Kata Marco.
"Tidak tidak. Aku juga masih belum memikirkannya." Kata Marco.
"Aku sudah siap Marco. Apa kita bisa pergi sekarang.?" Tanya Luciana.
"Waah, kau terlihat cantik Luciana. Benarkan Marco.?" Kata Rudy.
"Hm, biasa saja." Saut Marco dengan dingin.
"Baiklah, kalian pergi saja sekarang, jangan terlalu malam." Kata Raja Eden.
Marco pun berdiri. "Lama sekali kau." Saut Marco sambil berjalan melewati Luciana.
"Ah, maaf. Para pelayan kerajaan sangat gembira disana, Aku juga di hadang oleh Panglima Tertinggi dan beberapa bangsawan, mereka memberiku salam dengan terharu." Kata Luciana.
"Hm." Saut Marco sambil keluar kamar.
"Eh.? Tunggu Marco, apa kau tau jalan.?" Tanya Luciana.
__ADS_1
"He.?" Saut Marco dengan terkejut.
"Kau akan tersesat jika berjalan sendirian Marco." Kata Rudy sambil berdiri.
"Apa kau mau ikut.?" Tanya Marco.
"Aku akan pergi ke kamarku." Jawab Rudy sambil berjalan melewati Luciana dan Marco.
"Tunggu Rudy, apa kau tau jalan.?" Tanya Marco.
"He.?" Saut Rudy.
"Hahaha, biar aku antar." Kata Raja Eden sambil berjalan menghampiri Rudy.
"Nikmatilah malam ini Marco, aku tidak masalah dengan Luciana." Kata Raja Eden.
"Apa maksudmu.?" Tanya Marco.
"Kau menginginkannya kan.? Kau boleh mengajaknya ke kamarmu." Jawab Raja Eden.
"Bajingan tua ini menjual anaknya untuk kepentingan kerajaan." Kata Marco dalam hati dengan kesal.
"Buahahahaha." Raja Eden pun tertawa terbahak-bahak.
"Dasar gila." Saut Marco.
"Bagaimana Marco.? Kau ikuti saja aku." Kata Luciana.
"Ah baiklah, kemana rencanamu pergi.?" Tanya Marco.
"Pertama, aku ingin pergi ke taman, aku ingin melihat bungah-bungah, lalu kita pergi ke perpustakaan, lalu ke tempat pelatihan." Jawab Luciana.
"Hm, baiklah, kita tidak punya waktu, tunjukan saja jalannya." Kata Marco.
"Baik." Kata Luciana sambil berbelok ke kanan.
"Kami pergi dulu Rudy." Kata Marco.
Mereka berempat pun berpencar. Rudy dan Raja Eden kearah kiri, lalu Marco dan Luciana ke arah Kanan.
"Apa kau tidak ada acara lain Rudy.? Ini masih belum malam sekali." Tanya Raja Eden.
"Tidak ada, tapi aku ingin rebahan di kamarku." Jawab Rudy.
"Baiklah kalau begitu. Aku antarkan ke kamarmu." Kata Raja Eden.
...
Di taman istana, Marco dan Luciana sampai di sana.
"Waah, bungahnya semakin banyak disini." Kata Luciana dengan gembira.
"Luas sekali taman ini." Saut Marco.
"Bagus kan Marco, disana ada tempat duduk juga." Kata Luciana.
"Ah, aku akui, taman ini sangat bagus." Saut Marco.
Mereka pun berjalan-jalan di sekitar taman, lalu mereka pergi ke dalam perpustakaan.
"Ini adalah perputakaan terbesar di seluruh kerajaan, bahkan ada banyak sekali buku-buku karya para leluhur disini." Kata Luciana.
"Apa kau dulu sering belajar disini.?" Tanya Marco.
"Ah, aku tidak pergi ke Akademi, aku hanya belajar sendiri bersama Tuan Rewin." Jawab Luciana.
"Kenapa kau tidak pergi ke Akademi.?" Tanya Marco.
"Banyak yang melihatku secara diam-diam, bahkan banyak yang mengangguku disana." Jawab Luciana.
__ADS_1
"Siapa yang menganggu, bukankah mereka tidak akan berani menganggumu.?" Tanya Marco.
"Orang-orang sering mengirimkan bungah dan surat padaku, bahkan kelasku sendiri sampai penuh dengan karangan bungah. Surat-surat juga sangat banyak di mejaku. Dan aku sangat terganggu, padahal aku hanya ingin belajar sihir disana." Jawab Luciana.
"Hanya karena itu.?" Saut Marco.
"Mereka semua ingin mendekatiku Marco, bahkan anak-anak para bangsawan itu pernah mengodaku." Kata Luciana.
"Ah, mungkin itu hal wajar buat mereka. Melihat kau adalah Putri Raja, dan kau juga terlihat cantik. Sudah pasti para laki-laki ingin mengodamu." Kata Marco.
"Eh.? Apa aku cantik Marco.?" Tanya Luciana dengan tersenyum.
"Semua orang tidak akan menyangkal itu." Jawab Marco.
"Meskipun begitu, aku tidak nyaman jika mereka melakukannya, dan dari salah satu bangsawan itu bahkan ada yang membenciku. Mereka melakukan manuver politik dan ingin menjatuhkanku. Memang aku adalah Putri Mahkota, dan suamiku nanti adalah seorang Raja." Kata Luciana.
"Aku tidak tau politik, tapi apa yang terjadi jika kau benar-benar mati.? Apa posisi itu akan di turunkan ke adikmu.?" Tanya Marco.
"Sudah pasti Marco, bahkan keluarga kerajaan sekalipun bisa menjadi musuh, tapi Ronald sangat polos, bahkan dia tidak ingin mendapatkan posisi Raja." Jawab Luciana.
"Apa kau yakin.? Meskipun dia terlihat polos, tapi dia terlihat sangat pintar." Kata Marco.
"Aku sendiri tidak tau." Kata Luciana.
"Kau harus berhati-hati Luciana, justru sampai sekarang nyawamu sudah terancam." Kata Marco.
"Kau tidak perlu khawatir Marco, sekarang penjagaan istana di perketat lagi." Tanya Luciana.
"Apa kau yakin.? Apa kau percaya dengan para penjaga itu.?" Saut Marco.
"Kau membuatku binggung Marco. Lalu apa yang harus aku lakukan.?" Tanya Luciana dengan binggung.
"Aku sendiri tidak tau, aku juga tidak tau dengan politik, dan aku tidak ingin tau." Jawab Marco sambil berjalan menjauh.
"Kenapa kau tidak ingin tau.?" Tanya Luciana.
Marco pun berhenti berjalan.
"Karena manusia sangat serakah dengan kekuasaan. Mereka mengira, jika menjadi seorang penguasa bisa memiliki segalanya, dan mereka melakukan apapun untuk mendapatkan kekuasaan itu hanya karena hasrat yang tidak pernah terpuaskan." Jawab Marco.
"Apa kau tidak ingin berkuasa Marco.?" Tanya Luciana.
"Untuk apa aku berkuasa.? Untuk orang-orang seperti kalian.? Aku sangat tidak tertarik." Jawab Marco.
"Kau sangat misterius Marco, aku sangat penasaran. Bahkan semua orang sangat menginginkan posisi tertinggi." Kata Luciana.
"Itu yang aku maksud dengan serakah. Bahkan mereka tidak pernah melihat rakyat jelata di pinggiran benteng." Saut Marco.
"Aku paham maksudmu Marco, aku juga ingin membantu mereka. Tapi aku tidak bisa melakukannya, jika aku melakukan itu, nama keluarga kerajaan akan tercoreng di dalam kerajaan." Kata Luciana.
"Kalian bahkan masih mementingkan diri sendiri. Aku tau kalian akan kerepotan jika bertindak seperti itu, para bangsawan akan bermanuver dan melakukan pemberontakan, bahkan dukungan kalian akan berkurang. Itu lah kenapa aku tidak menyukai bangsawan sampai saat ini." Kata Marco.
"Kau berbicara dengan sangat mudah Marco, tapi melakukannya sangat sulit. Lalu apa yang harus kami lakukan.?" Tanya Luciana.
"Sudah pasti harus ada kekuatan yang lebih tinggi lagi." Jawab Marco
"Apa ada kekuatan seperti itu.?" Tanya Luciana.
"Tentu ada, kekuatan aturan dan janji jabatan. Itu yang aku pelari dari Rudy." Jawab Marco.
"Apa itu Marco.?" Tanya Luciana dengan terkejut.
"Namanya adalah parlemen dan konstitusi, itu adalah sistem kerajaan yang sangat sulit untuk di goyah." Jawab Marco
"Aku baru mendengarnya, sebaiknya kita bertemu dengan sang Raja, kita harus menyampaikan ini." Kata Luciana.
"Kami sudah membahasnya tadi, dan Raja itu setuju untuk merubah sistem kerajaan." Saut Marco
"Benarkah.?" Saut Luciana dengan terkejut.
__ADS_1
...