Leveling System Reincarnation

Leveling System Reincarnation
CH 31 - Tempat Belajar.


__ADS_3

Terlihat Rudy, Marco, dan Rin sedang makan di luar balkon Caffetaria.


"Apa kalian baru saja keluar kamar.?" Tanya Emma.


"Ah, kami baru saja keluar kamar, dari mana kalian.?" Tanya Rudy balik.


"Kami juga mau makan disini, sangat kebetulan sekali." Jawab Emma.


"Ah, baiklah. Kita pesan makanannya." Kata Marco.


"Pelayan." Teriak Marco.


"Baik Tuan, apa ada yang bisa di bantu ?" Tanya Pelatan itu.


"Kami pesan makanan yang paling enak di tempat ini." Kata Marco


"Baik Tuan. Silahkan tunggu." Jawab Pelayan itu.


Beberapa saat kemudian, makanan yang mereka pesan pun datang. Dan mereka berlima makan bersama disana.


"Emma, berapa lama kita terbang ke ibu kota.?" Tanya Rudy.


"Kurang lebih selama 3 hari sudah sampai." Jawab Emma.


"Lama juga ternyata. Aku kira sehari sudah sampai." Saut Rudy.


"Kecepatan kapal ini berbeda dengan pesawat, jadi kau harus bersabar." Kata Emma.


"Apa maksudmu pesawat Emma.?" Tanya Marco.


"Alat transportasi seperti kapal ini. Hanya kecepatannya saja yang berbeda." Jawab Emma.


"Hoo." Saut Marco.


"Tapi fasilitas disini sangat lengkap, seperti kapal persier. Jadi mau berapa lama pun akan aman." Kata Rudy.


"Apa kau menikmatinya.?" Tanya Emma.


"Disini sangat nyaman sekali." Jawab Rudy.


"Aku juga merasa nyaman kak, tidak terasa sudah tidur seharian." Kata Rin.


"Haha, makanlah yang banyak Rin." Kata Rudy.


...


Waktu pun berlalu sangat cepat. 3 hari pun berlalu, kapal ikan terbang akhirnya sampai di pusat ibu kota.


"Lihatlah Marco, tempat ini lebih luas lagi." Kata Rudy.


"Ah kau benar Rudy. Tidak kusangka, ibu kota ternyata sebesar ini." Kata Marco dengan tercengang melihat ke bawah.


"Kita keluar kamar sekarang. Emma pasti sedang menunggu kita." Kata Rudy.


"Baiklah, kita berangkat Rin." Kata Marco.


"Baik kak." Kata Rin sambil bangun daru kasurnya.


"Kau akan mendapatkan kasur yang empuk di Asrama akademi nanti." Kata Rudy.


"Em, kasur ini benar-benar sangat nyaman." Saut Rin.


"Oh iya Rin. Ambilah ini." Kata Rudy sambil memberikan cincin penyimpanan.


"Eh, apa ini kak.?" Tanya Rin.

__ADS_1


"Ini adalah cincin penyimpanan. Kau bisa menyimpan apapun ke dalam cincin ini. Aku juga sudah memasukkan uang jajan untukmu." Jawab Rudy.


"Hoo, keren sekali." Saut Rin.


"Berapa yang kau berikan kepada Rin.?" Tanya Marco.


"Aku memberikannya 2 Miliyar. Aku tidak tau kebutuhannya nanti sampai habis berapa, itu hanya untuk berjaga-jaga." Jawab rudy.


"Kau sangat memanjakannya Rudy. Bahkan harga makanan untuk 5 orang di kapal ini hanya 4 koin emas." Kata Marco.


"Apa itu terlalu banyak.?" Tanya Rudy.


"Aku akan menambahkannya juga." Saut Marco


"Kau justru menambahkannya, kau bilang uang itu sangat banyak untuknya." Kata Rudy


"Ini hanya untuk berjaga-jaga. Aku berikan 1 miliyar untuknya." Kata Marco.


"Apa uang ini sangat banyak sekali kak.?" Tanya Rin.


"Itu sangat banyak, bahkan kau bisa membangun kerajaan dengan uang itu." Jawab Marco.


"Eh.? Apa itu benar.?" Tanya Rin dengan terkejut.


"Tentu saja. Tapi kau tidak boleh boros Rin, gunakan uang itu untuk kebutuhanmu. Kau sendiri sudah mempunyai banyak uang." Jawab Marco.


"Em, baiklah kak, terimakasih banyak." Kata Rin.


"Baiklah, kau gunakan uang itu dengan bijak Rin. Mungkin kita akan berpisah di Akademi nanti. Jadi aku memberikan uang padamu untuk berjaga-jaga." Kata Rudy.


"Lalu, simpanlah dagger ini di dalam cincin. Aku akan memberikan set perlengkapan yang lebih bagus lagi ke dalam cincin ini. Gunakan set ini saat bertarung dengan hewan iblis." Kata Marco.


"Terimakasih banyak kak. Aku tidak akan melupakan kalian semua." Saut Rin.


"Aku juga akan datang berkunjung ke asramamu jika kita memang berpisah disana." Kata Marco.


"Ah, aku sebenarnya merasa lebih aman dan nyaman jika bersama kak Marco." Kata Rin.


"Hahaha, kita masih belum tau Rin. Jangan kecilkan hatimu, kau harus berani menghadapi para bangsawan disana." Kata Marco.


"Em, aku akan mencobanya." Saut Rin.


...


Rudy dan lainnya pun bertemu dengan Emma di pintu keluar.


"Emma." Teriak Rudy.


"Rudy.? Kita melapor dulu di sana." Kata Emma.


"Ah, baiklah." Saut Rudy.


Di meja persepsionis kapal, Rudy dan lainnya pun check out dan mengambil peta ibu kota. Tidak berlangsung lama, kapal pun mendarat dengan selamat.


"Akhirnya kita sampai di ibu kota Emma." Kata Rudy dengan tersenyum.


"Kau sudah menginginkannya sejak umurmu masih 5 tahun. Apa sekarang kau senang.?" Tanya Emma dengan tersenyum.


"Ah, aku sangat senang Emma. Terimakasih sudah membantuku sampai sejauh ini." Jawab Rudy sambil mengusap kepala Emma.


"Baiklah, kita turun sekarang." Kata Emma dengan senang.


...


Mereka berlima pun keluar dari kapal, lalu mereka pun di jemput oleh salah satu inspektur Akademi disana.

__ADS_1


"Lihat, kita semua di jemput Rudy." Kata Emma.


"Ah, jadi kita langsung berangkat ke Akademi.?" Tanya Rudy.


"Aku sendiri ingin tau." Kata Emma sambil menghampiri salah satu inspektur Akademi.


Tiba-tiba, Kevin dan kawanannya datang menghampiri Emma.


"Hoo, apa rakyat jelata juga di jemput disini.?" Kata Kenn.


"Hem, itu adalah kendaraan para bangsawan, apa kau yakin akan menaikinya cantik.?" Kata Kevin kepada Emma


"Siapa mereka.?" Tanya Rudy.


"Mereka mencoba mengoda kami tempo lalu Rudy." Jawab Lilia.


"Para bangsawan itu membuatku darah tinggi." Saut Marco.


"Diamlah disana Marco." Kata Rudy sambil memperhatikan Emma.


"Apa ada yang salah jika rakyat jelata menaiki kendaraan ini.?" Saut Emma kepada Kevin.


"Tentu saja itu salah, kau tidak memiliki status sosial." Kata Kevin sambil berjalan melewati Emma.


"Lebih baik kalian jalan kaki saja." Kata Julius yang melewati Emma.


Lalu, inspektur disana mulai bicara. "Berhentilah mengoceh, alat ini sudah di bagi berdasarkan nomer pendaftaran. Kendaraan ini untuk nomer 355-360. Siapa yang punya nomer pendaftaran ini.?" Tanya Inspektur bernama Bima.


"Ah, ini pak inspektur. Kami memiliki nomer itu." Jawab Emma.


"Baiklah, kalian masuklah, kita akan langsung berangkat ke Akademi." Saut Bima sambil mengambil nomer pendaftaran dari Emma.


"Kita masuk sekarang." Kata Emma.


"Okee." Saut Rudy.


Mereka semua pun pergi ke Akademi menggunakan kendaraan yang di siapkan oleh Akademi sendiri. Akademi Rousen setidaknya menyiapkan ratusan kendaraan untuk menyemput murid baru dari berbagai kota.


Di perjalanan, jalur yang di lalui oleh mereka melewati alam liar di luar benteng ibu kota. Dan terlihat ada puluhan kendaraan yang berbaris dengan cukup panjang.


"Mereka membuat jalur yang cukup berbahaya." Kata Rudy.


"Ini sudah di lakukan ratusan tahun yang lalu nak." Kata Bima.


"Ah, apa setiap murid yang datang akan di jemput seperti ini.?" Tanya Rudy.


"Itu benar, setiap inspektur sepertiku setidaknya membawa 20 kendaraan. Dan kebetulan aku sendiri ikut dalam kendaraan kalian." Jawab Bima.


"Apa pak inspektur tidak takut jika ada hewan iblis yang datang menyerang.?" Tanya Rudy.


"Mereja tidak akan menyerang, kau tenang saja." Jawab Bima.


"Kendaraan ini di lengkapi dengan cristal penyerap energi. Tentu saja area sekitar kendaraan tidak memiliki energi alam." Saut Emma.


"Hoo, kau cukup pintar juga." Kata Bima.


"Berapa perjalanannya pak inspektur.?" Tanya Rudy.


"Tidak akan jauh, kita hanya perlu mendaki gunung di sana." Kata Bima sambil melihat keluar jendela.


Tempat Akademi Rousen, berada di dataran tinggi, tempat para leluhur melatih sihirnya di atas gunung Cison. Sampai sekarang, tempat itu menjadi sebuah Akademi yang cukup terkenal di seluruh benua.


"Menarik sekali." Kata Rudy.


...

__ADS_1


__ADS_2