
Rudy dan lainnya sangat terkejut disana sambil melihat perempuan yang sedang memasak.
"Hehe, itu benar." Kata Emma dengan tertawa.
"APAAAAA.?" Teriak mereka bertiga dengan terkejut.
"Jad, jadi selama ini, dia bersamamu Rudy.?" Kata Marco.
"Tidak habis pikir, kau menyembunyikannya dari kami." Kata Lilia.
"Aku sendiri baru tau kalau dia adalah Emma." Kata Rudy dengan tercengang.
"Hihi, aku pernah bilang padamu Rudy, jika kau bisa menyelesaikan dungeon Hell, dewa akan memberikan hadiah padaku. Selamat kau berhasil menyelesaikan semua dungeon." Kata Emma dengan tersenyum.
Rudy hanya menelan ludah. "Suaranya memang sangat mirip sekali dengan Emma." Kata Rudy dalam hati.
"Hanya saja, sekarang aku tidak bisa mendengar isi hatimu lagi." Kata Emma.
"Apa dia teman yang kau bicarakan 2 tahun yang lalu Rudy.?" Tanya Marco.
"Ah, dia adalah orangnya. Bahkan aku sendiri sudah melupakan ucapan terakhirnya." Jawab Rudy.
"Aku sangat senang sekali kembali ke dunia ini Rudy. Terimakasih." Kata Emma.
"Aku juga sangat senang bisa mendengar suaramu lagi Emma." Saut Rudy.
"Jadi dia orang bernama Emma.? Yang ada di dalam tubuhmu.?" Tanya Lilia.
"Itu benar Lilia, tapi sekarang aku tidak akan merepotkan Rudy lagi." Saut Emma.
"Salam kenal Emma." Kata Lilia.
"Salam kenal juga Emma." Kata Marco.
"Ah, salam kenal semua. Senang bisa mengobrol dengan kalian." Kata Emma.
Rudy masih berdiri ditempatnya dengan tatapan kosong.
"Kenapa kau menghilang saat kami masuk ke dalam dungeon. Kemana kau pergi saat itu ?" Tanya Rudy dengan emosi.
"Rudy.?" Saut Lilia.
"Kenapa kau menghilang.? kami mati-matian berjuang di dalam sana, tidak ada petunjuk apapun untuk menaklukan dungeon. Apa kau tau perasaan kami Emma.?" Kata Rudy dengan emosi sambil mengepalkan tangannya.
Emma pun berhenti memasak dan berhenti tersenyum.
"Apa kau tau perasaanku Emma.? Setiap saat aku memikirkanmu, dan itu membuatku kebingungan, dimana kau saat itu.? Kenapa kau tiba-tiba menghilang.?" Kata Rudy dengan emosi.
Emma pun berdiri dan menghampiri Rudy.
"Bahkan sampai saat ini, aku masih memikirkanmu. Apa kau tau, sudah berapa tahun kau membimbingku, bahkan aku sudah ketergantungan denganmu." Kata Rudy.
"Rudy, sudahlah." Kata Marco.
"Aku sangat bersyukur kau kembali lagi, itu membuatku senang." Kata Rudy dengan menundukkan kepalanya sambil meneteskan air mata.
"Aku, akuu..." Tiba-tiba Emma memeluk Rudy.
__ADS_1
"He.?" Saut Rudy yang terkejut.
"Terimakasih Rudy, kau sudah membuatku kembali lagi, aku tidak akan melupakan jasamu." Kata Emma.
"Emma, apa yang kau lakukan.?" Tanya Rudy.
"Aku hanya menenangkanmu. Aku masih seperti dulu, Emma yang kau kenal, untuk sekarang dan seterusnya, aku akan berada di sisimu." Kata Emma sambil memeluk Rudy.
Rudy hanya menelan ludah dan membalas pelukan Emma.
"Aku sudah bilang padamu, aku akan membantumu sampai seumur hidup. Hanya saja sekarang aku memiliki fisik, menjadi manusia dan berpetualang bersamamu lagi." Kata Emma sambil melepas pelukannya.
"Apa sekarang kau paham Rudy.?" Saut Emma sambil melihat wajah Rudy yang sedih.
"Ah, justru seperti ini lebih baik, dari pada kau berbicara di depan telingaku." Kata Rudy.
"Hehe, baiklah. Ceritanya nanti saja, sekarang makan lah." Kata Emma.
"Em, baik." Saut Rudy
"Kalian juga makanlah." Kata Emma kepada Marco dan Lilia.
"Hehe, sepertinya keluarga kita bertambah lagi." Kata Marco dengan tersenyum.
"Kau sangat baik sekali Emma." Kata Lilia.
"em." Saut Emma dengan tersenyum.
Mereka Berempat pun makan bersama di alam liar yang di huni jutaan hewan iblis tingkat tinggi.
"Apa kau juga memiliki kekuatan sihir Emma.? Aku lihat kau tidak bisa menggunakan sihir, bahkan kau sendiri tidak bisa membantuku bertarung." Kata Rudy.
"Aku memang tidak bisa mengeluarkan sihir saat jiwaku berada di dalam tubuhmu, tapi berbeda dengan sekarang. Aku sudah memiliki fisik untuk menampung energi sihir." Saut Emma.
"Jadi, apa kau bisa menggunakan sihir.?" Tanya Rudy.
"Tentu saja aku bisa Rudy. Hanya saja aku tidak memiliki perlengkapan." Jawab Emma.
"Aku punya perlengkapan untukmu Emma." Kata Lilia.
"Eh, benarkah.?" Saut Emma.
"Mungkin perlengkapan wanita lebih cocok untukmu, ambilah ini." Kata Lilia sambil memberikan set perlengkapan kepada Emma.
"Apa kau tipe Magis seperti Lilia Emma.?" Tanya Marco.
"Aku bukan tipe Magis, sihirku seperti milik Rudy, mengunakan sword." Kata Emma.
"Kalau begitu, ambillah perlengkapan ini." Kata Rudy sambil mengeluarkan set perlengkapan dari inventorynya.
"Kau mengumpulkan banyak item bagus Rudy." Kata Emma.
"Pakailah Emma, setelah ini kita pergi ke dalam benteng." Kata Rudy.
"Baiklah." Saut Emma.
Ziing. Suara set perlengkapan yang di kenakan di tubuh Emma.
__ADS_1
"Wooh, dia sepeti seorang dewi." Kata Marco.
"Kau sangat cantik sekali dengan perlengkapan itu Emma." Kata Lilia.
"Ehe, terimakasih teman-teman." Saut Emma.
"Jadi, berapa levelmu sekarang.?" Tanya Rudy kepada Emma.
"Tentu saja sama sepertimu. Simbol Rank IMR, level 205." Jawab Emma.
"Apaa.?" Saut Rudy dengan terkejut.
"Hehe, aku dan kau adalah satu Rudy. Semua Statmu, akan sama denganku. Hanya saja yang berbeda adalah stat tambahan." Kata Emma.
"Tidak bisa di percaya, ternyata kau sudah mencapai keabadian, dan kau juga bersatu dengannya Rudy.?" Kata Marco.
"Apa yang kau pikirkan Marco." Saut Rudy.
"Em, apa sekarang kau sekuat itu Rudy.?" Tanya Emma.
"Aku sendiri tidak menyadarinya. Biasanya aku memintamu untuk memberitahukan statusku." Jawab Rudy.
"Kau sudah mencapai keabadian sekarang. Dan aku tidak bisa menyerangmu, kau sendiri juga tidak bisa menyerangku." Kata Emma.
"Em.? Kenapa bisa seperti itu.?" Tanya Rudy.
"Karena kita sudah bersatu dan tidak bisa di pisahkan oleh apapun." Jawab Emma dengan tersenyum.
"Eeh.?" Saut Rudy dengan muka memerah.
"Hahaha, aku suka dengan ekspresimu itu Rudy." Kata Emma dengan tertawa senang.
"Jangan mengodaku Emma." Saut Rudy.
"Ekm. Baiklah teman-teman, mari kita bergerak." Kata Lilia sambil berdiri.
"Ayo Rudy, saatnya kita pergi ke dalam benteng." Kata Marco.
"Ah, baiklah." Saut Rudy.
"Apa kalian akan meninggalkan jejak disini.?" Tanya Emma sambil menunjuk ke arah gubuk.
"Ah, aku hampir lupa dengan itu." Kata Lilia, lalu SWOSH. Gubuk itu pun hancur berkeping-keping karena sihir Lilia, dan puing-puingnya terbang kemana-mana.
"Aa, apaa.? Tidak mungkin, gubuk itu aku bangun dengan susah payah." Kata Marco dengan sedih.
"Sudahlah Marco, mari kita tidur di tempat yang lebih layak lagi setelah ini." Kata Rudy dengan tersenyum.
"Tapi tidak seperti itu menghancurkannya, harga diriku seperti di injak-injak." Kata Marco sambil di tarik oleh Rudy.
"He.? Apa kau mau protes padaku Marco.?" Kata Lilia dengan wajah yang menyeramkan.
"Eh.?" Saut Marco yang ketakutan.
"Hahaha." Emma pun tertawa lepas.
Mereka berempat pun berjalan menuju benteng selatan kerajaan Alden.
__ADS_1