
Di kota Ferland. Rudy dan lainnya masih terkejut dengan perkataan Emma. Bahkan mereka sampai menelan ludah saking terkejutnya.
"Apa kau bercanda Emma.?" Tanya Rudy.
"Aku tidak bercanda, aku serius. Apa kau lupa Rudy, aku bisa memanipulasi ruang dan waktu. Bahkan jalur kehidupan sekalipun, aku bisa menemukannya. Apa lagi hanya membuat sebuah portal." Jawab Emma.
"Tidak bisa di percaya." Saut Marco.
"Aku bahkan sudah gemetar." Saut Lilia.
"Aku bisa membuktikannya, contohnya saja cincin penyimpanan kalian.? Siapa yang membuat itu.? Bahkan kalian sendiri tidak tau, senjata dan perlengkapan yang di masukkan kedalam sana berada dimana. Aku yang membuat ruang itu." Jawab Emma.
"Mungkin aku lupa Emma, tapi kenapa aku ikut terkejut.?" Saut Rudy.
"Bagaimana.? Apa kau masih belum percaya dengan kekuatan calon istrimu ini.?" Jawab Emma dengan tersenyum kepada Rudy.
"HEEEE.?" Teriak mereka semua, bahkan Rudy pun ikut terkejut.
"Apa kau sudah melamarnya Rudy.?" Tanya Marco.
"Tidak kusangka, ternyata kalian juga sudah merencakan itu." Saut Lilia dengan terharu.
"Ah, kau percaya padamu Emma." Saut Rudy dengan tersenyum.
"Eh.? Jadi kau percaya kalau aku adalah calon istrimu.?" Tanya Emma dengan gembira.
"Bukan itu, tapi kekuatanmu." Jawab Rudy.
"Ada apa dengan jawabanmu itu.?" Saut Emma dengan kesal. "Eh.?"
"Aku yakin dia akan di pukuli." Kata Lilia.
Buk buk buk. "Benarkan." Saut Lilia.
...
Beberapa saat kemudian.
"Hosh, hosh," Suata Rudy yang terengah-engah.
"Apa kau bisa berdiri.?" Tanya Marco sambil membantu Rudy berdiri.
"Aku tidak yakin kalau dia jadi istriku, mungkin setiap hari aku akan di pukuli terus." Saut Rudy sambil berdiri.
Emma pun mendengernya. "Apa yang kau katakan.?" Tanya Emma dengan marah.
"Eh.?" BUK Buk Buk.
"Bahkan pukulannya lebih keras lagi." Kata Lilia.
...
Beberapa saat kemudian.
"Apa kalian sudah selesai.? Kita harus pergi ke istana." Tanya Marco.
"Sepertinya aku akan pinsan lagi." Saut Rudy dengan muka yang penuh lebam.
__ADS_1
"Hm, urusi saja urusan keluargamu itu, kita harus bergerak sekarang." Kata Marco.
"Andai saja dia laki-laki, aku pasti akan membalasnya." Saut Rudy sambil berdiri.
"Kau tidak boleh memukul calon istrimu Rudy. Sebaiknya kita susul Emma. Dia sudah mulai membuat portal." Kata Marco.
"Huh, kau harus di pihakku Marco." Saut Rudy.
"Berhentilah merengek seperti itu. Kau harus mengerti perasaanya. Bukankah itu yang kau ajarkan padaku." Kata Marco sambil menyeret tubuh Rudy.
"Ah, mungkin aku salah ngomong." Kata Rudy dengan santai.
...
Di kawasan camp militer. Emma sedang membuat sebuah portal disana. Rudy dan Marco pun sampai disana.
"Apa kau yakin Emma, kalau portal itu sampai ke istana kerajaan.?" Tanya Rudy.
"Asal aku pernah ketempat itu, aku bisa menemukan jalur kesana. Kau tenang saja." Jawab Rudy.
"Aku hanya khawatir saja, siapa tau portal itu menuju ke pintu dungeon." Saut Rudy.
"Hee.? Jadi kau masih belum percaya padaku.?" Tanya Emma sambil menoleh ke arah Rudy dengan penuh ancaman.
"A, aa." Saut Rudy.
"Diamlah di situ, aku akan menyelesaikannya." Kata Emma dengan serius.
Lalu, ia pun memejamkan matanya dan berkonsentrasi. "Jalur ini sangat jelas di lihat. Baiklah, aku bisa langsung membuat portal ke ruangan rapat itu." Kata Emma dalam hati.
...
Di dalam ruang rapat para petinggi kerajaan. Tiba-tiba terlihat sebuah cahaya yang terbentuk di dalam sana.
"He.?" Saut Carlin dengan terkejut.
"Apa itu.?" Tanya Raja Eden.
"Itu sebuah portal. Baru pertama kalinya aku melihatnya." Saut Rewin.
"Bahkan di dalam buku-buku hanya tertulis sebuah teori, tidak ada seorang pun yang bisa membuktikannya. Siapa yang membuat portal itu.?" Kata Anna dengan terkejut.
"Jangan bilang itu portal hewan iblis." Kata Sean.
"Apa.?" Saut mereka semua dengan terkejut.
Lalu, istana kerajaan pun mulai bergetar cukup kencang.
"Aura ini. Kekuatannya sangat besar, jangan-jangan itu Rudy dan lainnya." Saut Raja Eden tercengang.
Semua orang disana pun langsung terkejut dengan tercengang. "Ini sangat gawat." Saut Marcus.
"Bersiaplah." Teriak Raja Eden. Para Yang Mulia disana pun langsung memakai semua set penglengkapan perang.
"Ho, jadi kalian sudah bersiap-siap melawan kami.?" Saut Rudy yang tiba-tiba keluar dari portal. Lalu di susul oleh Emma dan lainnya.
Para petinggi kerajaan hanya tercengang melihat kehadiran mereka semua. Bahkan Raja Eden sampai menelan ludah karena saking terkejutnya.
__ADS_1
"Ini mustahil." Kata Raja Eden.
"Padahal sudah jelas, mereka sudah mati. Apa laporan yang aku terima salah.?" Kata Carlin dalam hati.
"Hallo Para Yang Mulia, kami datang ingin mengembalikan Racun ini." Kata Rudy sambil melemparkam racun yang ada di dalam barrier kecil.
TAK TAK. Barrier itu pun berputar di atas meja, dan berhenti di atas sana. Semua orang pun terkejut melihat racun itu.
"Aku yakin racun itu milik kalian. Jadi kami berinisiatif untuk mengembalikannya." Kata Rudy.
"Hm, ada apa dengan wajah bodoh kalian.?" Saut Marco dengan kesal.
"Sialan, kenapa jadi seperti ini.?" Kata Carlin dengan terkejut.
"Kenapa kalian diam saja.?" Tanya Marco dengan kesal sambil mengeluarkan dokumen.
"Apa yang kau lakukan Marco.?" Saut Anna.
"Hm." Srak. Suara kertar yang di sobek oleh Marco. "Perjanjian kita batalkan.?" Saut Marco dengan tersenyum penuh kebencian.
"Ha." Saut Anna dengan terkejut.
"Bersikaplah yang sopan di dalam sini, kalian tidak ijinkan masuk kedalam istana." Saut Marcus.
Rudy pun melangkah kedepan. "Ah, kau benar, kami adalah penyusup. Lalu apa yang akan kalian lakukan.? Apa kalian akan melawan kami.?" Saut Rudy.
"Aku kembalikan kartu eksklusifnya." Kata Emma sambil melempar semua kartu.
"Mereka tidak bisa di hadapi dengan kekuatan kami sekarang. Aku harus mengunakan artefak itu." Kata Raja Eden.
Lalu. DRAP DRAP DRAP. Suara langkah kaki para prajurit elit yang masuk kedalam istana.
"Kalian sudah di kepung. Jangan macam-macam disini." Kata Marcus.
"Apa kalian sudah tidak waras. Kalian ingin melawan kami dengan prajurit sampah seperti itu.?" Saut Marco.
"Prajurit itu bagianmu Rin, bereskan mereka semua jika Raja Bodoh itu melakukan perlawan pada kita." Kata Rudy.
"Siap laksanakan." Saut Rin.
"Kami disini hanya ingin mendengarkan penjelasan kalian semua." Kata Rudy.
"Tapi melihat situasi sekarang. Sepertinya tidak perlu di jelaskan. Semua sudah jelas, kalian penghianat." Kata Rudy.
"Jaga bicaramu bocah. Kau sekarang berhadapan dengan kekuatan tertinggi kerajaan Alden." Kata Raja Eden.
"He.? Kekuatan tertinggi.?." Saut Rudy. "Kata itu bahkan tidak pantas aku dengarkan." Saut Rudy dengan tersenyum.
"Bisa-bisanya kau bilang seperti itu di depan sang Raja. Bahkan kau sendiri terlihat seperti pecundang." Kata Marcus.
DEEP. "HOOO." BRUOK. Suara kepala Marcus yang di benturkan ke atas meja oleh Marco. Bahkan Meja itu pun sampai hancur berkeping-keping. "Argh."
"Huh, ternyata dia sudah tidak sabar." Kata Rudy.
"Bajingan, SERAAAAANG." Teriak Raja Eden.
...
__ADS_1