
"Emma.?" Saut Rudy.
"Heh.? Apa kalian menghajar anak kecil itu.?" Tanya Emma dengan kesal sambil menghampiri anak kecil itu.
"Bukan begitu Emma." Saut Rudy.
"Diamlah Rudy." Kata Emma dengan kesal.
"Tapi Emma, sebenarnya kami ingin menyembuhkan anak itu." Kata Rudy dengan panik.
Tanpa berlama-lama, Emma pun mengeluarkan Heal dari tangannya.
ZUIING. Seluruh tubuh anak kecil itu pun bersinar, dan luka fisiknya pun tertutup secara perlahan.
"Dia bisa mengunakan Heal.?" Kata Rudy dalam hati.
"Kenapa kau memukulnya.?" Tanya Emma dengan marah.
"Aku tidak memukulnya, justru aku menyelamatkannya." Jawab Rudy.
"Benar Emma. Dia di siksa oleh para bangsawan disana." Kata Marco.
"Hal seperti ini sering terjadi di kota ini. Mereka menganggap para pengemis dan orang miskin tidak layak hidup, dan tidak berguna bagi manusia lain." Kata Lilia.
"Ah, itu yang terjadi pada kami dulu." Saut Marco.
"Lalu, dimana para bangsawan itu.?" Tanya Emma.
"Aku sudah menghajarnya." Jawab Marco.
"Huh, sudahlah. Lukanya fisiknya sudah sembuh, hanya tinggal luka mentalnya." Kata Emma.
"Terimakasih Emma. Kami sangat panik, dia menolak untuk minum potion ini." Kata Rudy.
"Tentu saja, saraf mulutnya sudah mati rasa. Tapi saat ini sudah tidak apa-apa." Saut Emma.
"Lalu, mau kita bawa pergi kemana anak ini.?" Tanya Rudy.
"Kau yang membawanya, kau juga yang harus bertanggung jawab." Jawab Emma.
"Heh.?" Saut Rudy.
"Kita bawa saja Rudy. Kita latih dia menjadi hunter, seperti yang kau lakukan pada kami." Kata Marco sambil mengendong anak itu.
"Aku juga akan ikut merawatnya, jadi kau tenang saja Rudy." Saut Lilia.
"Baiklah kalau kalian mau merawatnya." Kata Rudy.
"Kita kembali sekarang." Kata Emma.
...
Mereka pun berjalan kembali ke penginapan.
"Kapan kita akan berangkat ke Akademi Emma.?" Tanya Rudy.
"Tiga hari lagi kita akan berangkat." Jawab Emma.
"Lalu, bagaimana dengan anak ini.?" Tanya Marco.
"Kita bawa saja dia ke Akademi." Jawab Emma.
"Apa itu boleh di lakukan.?" Tanya Rudy.
"Hihi, sebenarnya aku dapat 5 tiket masuk. Sangat kebetulan sekali." Jawab Emma.
"Waah, kau sangat membantu sekali Emma." Saut Marco.
"Jika kalian ingin melatihnya, segera latih anak itu. Waktu dua hari sudah cukup untuk naik level." Kata Emma.
"Semoga saja besok dia sudah bangun." Kata Marco sambil melirik kebelakang melihat anak kecil itu.
"Sifatmu tidak berubah Marco." Kata Lilia.
"Aku hanya tidak ingin melihat anak ini terlantar sepertiku dulu." Saut Marco.
Rudy dan Emma pun hanya terdiam sambil mendengarkan ucapan Marco.
...
__ADS_1
1 hari pun berlalu. Pada pagi hari, anak kecil itu pun membuka matanya.
"Dimana ini.?" Kata anak kecil itu.
"Kamar.? HEEE.?" Teriak anak kecil itu dengan terkejut.
"Kau berisik sekali." Kata Marco yang tidur di atas lantai.
"A, aa." Suara Anak kecil itu dengan tercengang.
Lalu, dengan sekejap saja, anak kecil itu pun langsung turun dari atas kasur, dan bersujud di depan Marco.
"Ma, maafkan aku Tuan, aku tidak tau kenapa aku berada disini." Kata Anak kecil itu dengan ketakutan.
"Huh." Suara Marco menghela nafas sambil duduk.
"Hehe, syukurlah kau sudah bangun." Saut Marco dengan tersenyum.
"Ampuni saya Tuan." Kata Anak kecil itu.
"Berhentilah bersikap seperti itu, aku bukan bangsawan." Kata Marco.
"Eh.?" Suara anak kecil itu. Lalu ia pun mengangkat tubuhnya.
"Begitu lebih baik. Siapa namamu.?" Tanya Marco.
"Namaku Rin." Jawab Anak itu.
"Rin kah, nama yang bagus. Salam kenal Rin, namaku Marco. Panggil saja kakak Marco." Saut Marco dengan tersenyum.
"Sa, salam kenal kakak Marco." Kata Rin.
"Kau tidak perlu gugup seperti itu. Status kita sama sebagai rakyat jelata, hehe." Kata Marco yang menghibur.
"Baik kak." Saut Rin.
"Oke, kita pergi makan sekarang. Biarkan tubuh kurusmu itu sedikit terisi." Kata Marco.
"Baik kak, aku akan mencarinya dulu." Kata Rin.
"Kenapa kau harus mencari makanan. Kita bisa membelinya sekarang." Kata Marco.
"Aku tidak punya uang kak." Kata Rin.
"Huh. Dengarkan aku Rin, mulai sekarang kita adalah keluarga. Apapun kebutuhanmu, serahkan padaku, aku tidak akan menelantarkanmu." Kata Marco.
"Tapi, uang sangat sulit di dapatkan. Aku tidak ingin merepotkan kakak." Kata Rin.
"Hem, bahkan uangku sekarang tidak akan habis sampai 1000 tahun. Kau tenang saja." Kata Marco.
Rin pun hanya terdiam dengan tercengang.
"Dimana orang tuamu.?" Tanya Marco.
"Aku anak yatim piatu kak, aku sendiri tidak tau orang tuaku ada dimana." Jawab Rin.
"Hem, sudah kuduga. Lalu, bagaimana caramu berada di benteng dalam.?" Tanya Marco.
"Aku hanya mencari makanan disana. Aku lewat pintu gerbang saat orang-orang berdesakan di depan pintu." Jawab Rin.
"Ho jadi seperti itu, penjaga disana memang sangat bodoh." Saut Marco.
...
Di tempat Bar makan. Lilia dan Emma sedang memesan sarapan pagi. Lalu, marco dan Rin pun datang kesana.
"Pagi teman-teman." Kata Marco.
"Ah, pagi Marco." Saut Emma.
"Hee, jadi dia sudah bangun. Dia terlihat lucu?" Tanya Lilia.
"A, maaf Nona." Kata Rin.
"Mereka adalah temanku. Sebaiknya kau perkenalkan diri." Kata Marco
"Baik. Salam kenal Nona, namaku Rin." Kata Rin.
"Salam Kenal Rin, namaku Emma." Saut Emma dengan tersenyum.
__ADS_1
Lilia pun mendekati Rin dan berlutut di depan Rin.
"Salam kenal juga Rin. Namaku Lilia. Dan pamhhil saja kami kakak." Kata Lilia dengan tersenyum.
"A, Salam kenal kakak Emma dan Kakak Lilia." Saut Rin.
"Hehe. Duduklah disini Rin." Kata Lilia.
"Baik kak." Saut Rin.
"Kau boleh memilih makanan sesukamu, pesanlah Rin." Kata Emma.
"Heh.? Apa boleh seperti itu kak.?" Tanya Rin.
"Pesanlah yang banyak, kau boleh makan sesukamu." Jawab Jawab Emma.
"Pelayan, berikan menu makanan disini." Kata Marco.
"Silahkan Tuan." Kata pelayan Bar sambil memberikan menu makanan.
"Pilih saja Rin." Kata Marco.
"Ini, ini terlihat sangat enak sekali." Kata Rin dalam hati dengan tercengang.
"Aku ingin semuanya." Kata Rin yang keceplosan. Lalu "Heh.?" Saut Rin dengan terkejut. Ia bahkan tidak sadar dengan ucapannya.
"Baiklah, pesan semua makanan yang ada di menu ini." Kata Marco.
"Baik Tuan. Mohon di tunggu." Kata Pelayan.
"Maaf kak, aku tidak sengaja mengucapkan itu." Kata Rin dengan takut.
"Tida apa-apa Rin, jika kau tidak habis, masih ada 1 orang lagi yang belum makan." Kata Marco.
Tiba-tiba Rudy datang. "Apa kau membicarakanku.?" Kata Rudy.
"Kau sudah bangun Rudy, ikutlah makan bersama kami." Kata Emma.
"Hem." Saut Rudy sambil duduk.
"Perkenalkan Rin. Dia bernama Rudy, dan dia adalah seorang pemimpin di kelompok kita." Kata Marco.
"Ah, jadi kau bernama Rin. Salam kenal Rin. Hehe." Kata Rudy.
"Sa, salam kenal kak Rudy." Saut Rin dengan gugup.
"Bagaimana keadaanmu, apa kau merasa baikan sekarang.?" Tanya Rudy.
"Em, aku merasa lebih baik kak, terimakasih sudah meyelamatkanku." Jawab Rin.
"Hehe, syukurlah kalau begitu." Saut Rudy.
Lalu, mereka semua pun makan bersama. Dan Rin memakan makanan disana dengan malu-malu, namun Lilia selalu memperhatikannya dengan baik.
Beberapa saat kemudian. Semua menu makanan yang dipesan disana habis di makan.
"Bagaimana dengan makanan ini.?" Tanya Rudy kepada Rin.
"Ini pertama kalinya aku makan dengan puas." Jawab Rin.
"Hahaha, aku senang mendengarnya." Kata Marco dengan tertawa.
"Baiklah Rin, mulai sekarang kau harus berlatih dengan kekuatan sihir. Marco dan Lilia akan melatihmu." Kata Rudy.
"He.?" Saut Rin dengan terkejut.
"Kau harus lebih kuat mulai sekarang. Bukankah itu yang di inginkan manusia yang hidup di dunia ini.?" Kata Rudy.
"Kau harus berjuang dengan giat Rin." Kata Emma.
"Aku akan melatihmu dengan baik." Kata Lilia.
"Hahah, kita mulai sekarang saja." Saut Marco.
"Ini sangat mengejutkanku kak." Kata Rin.
"Apa kau bisa mengunakan kekuatan Sihi.?" Tanya Rudy.
"Aku bisa merasakan kekuatan di dalam diriku, tapi aku tidak bisa mengeluarkannya." Jawab Rin.
__ADS_1
"Baiklah, setelah kau berlatih, kau akan bisa melakukannya." Saut Rudy.
...