Leveling System Reincarnation

Leveling System Reincarnation
CH 49 - Pertama Kalinya.


__ADS_3

"Mereka sok akrab sekali dengan para Yang Mulia." Kata Rocky yang melihat Rudy dan lainnya sedang tertawa bersama.


"Kau harus hati-hati sekarang, mungkin dia bukan seorang pelayan yang kau bicarakan." Kata Stevani.


"Pelayan tetaplah pelayan." Kata Rocky dengan kesal.


"Huh, aku sudah memperingatimu." Kata Stevani.


....


Pada malam hari. Rudy sedang melamun sendirian di luar balkon Caffetaria. Ia melihat kedepan sambil bersandar di pinggi pagar.


"Kau sedang melamun apa Rudy.?" Tanya Emma yang tiba-tiba menghampiri Rudy.


"Ah, Emma." Saut Rudy.


"Aku lihat kau sedang gelisah. Apa yang kau pikirkan.?" Tanya Emma sambil bersandar di samping Rudy.


"Aku hanya tidak menyangka di kehidupanku yang sekarang, meskipun aku ingin hidup di dunia yang penuh dengan kekuatan sihir, aku merasa masih punya tujuan." Jawab Rudy.


"Apa tujuanmu.?" Tanya Emma.


"Seperti yang kau katakan, Sang Dewa tidak memberikan misi padaku, tapi sepertinya sekarang aku punya misi." Jawab Emma.


"Apa kau sudah menemukannya.?" Tanya Emma.


"Aku hanya seorang mahasiswa biasa Emma, aku tidak tau apa-apa tentang kerajaan, tapi aku merasa ingin merubah suatu kerajaan menjadi parlementer. Tentu ada seorang menteri yang di pilih oleh rakyatnya sendiri. Bukan di berikan atas hak otoriter kerajaan." Jawab Rudy.


Emma pun hanya terdiam sambil melihat wajah Rudy dengan serius.


"Jadi, kekuatan dari sebuah kekuasaan tetap ada di tangan rakyat. Aku hanya ingin menghapus status sosial di dunia ini. Mungkin seorang Raja tidak bisa di gantikan, hanya saja seorang kabinet harus di gantikan, dan yang memilih adalah rakyat kerajaan sendiri." Kata Rudy


"Apa itu yang terjadi di duniamu dulu.? Aku rasa mereka tetap sama saja Rudy. Tidak ada sistem yang bagus untuk membangun sebuah negara." Kata Emma.


"Kau benar Emma, tapi itu lebih baik dari pada sistem kerajaan di dunia ini. Manusia disini lebih mementingkan kekuasaan dari pada kemampuan." Kata Rudy


"Apa maksudmu.?" Tanya Emma.


"Kau lihat saja Rin. Dia adalah manusia biasa tanpa status sosial, tapi aku melihat anak itu mempunyai kemampuan, bahkan bisa di anggap dia adalah bocah yang jenius." Kata Rudy.


"Maksudku adalah, kerajaan bisa mencari orang-orang seperti Rin, asalkan tidak ada status sosial di kerajaan ini. Seorang Raja hanya perlu mendidik dan membina anak-anak seperti mereka." Kata Rudy.


"Kau benar Rudy, tidak kusangka kau berfikir sampai sejauh itu." Saut Emma dengan tersenyum.


"Em, aku hanya melihat rakyat biasa yang tindas oleh orang-orang yang memiliki status sosial. Contohnya adalah Marco dan Lilia. Bahkan saat mereka masih bocah, mentalnya sudah terguncang begitu keras. Kehidupan dan sudut pandang mereka sudah berubah." Kata Rudy.


"Padahal mereka hanya ingin hidup, dan menikmati hidup yang di berikan oleh Dewa. Bukan memaksanya untuk hidup, bahkan jika mereka mati sekalipun, mereka tetap tidak bisa menikmati dunia yang sudah di ciptakan ini." Kata Rudy.

__ADS_1


"Kau sudah menemukan tujuanmu Rudy. Aku akan tetap mendukungmu apapun yang kau lakukan." Kata Emma dengan tersenyum.


"Terimakasih banyak Emma, tanpamu mungkin aku bukan siapa-siapa di dunia ini. Mungkin aku hanya seseorang seperti Marco saat itu." Kata Rudy dengan tersenyum sambil melihat wajah Emma.


"Ternyata dia cantik juga jika dilihat dari dekat." Kata Rudy dalam hati.


"Mukamu memerah Rudy. Apa yang kau lihat, apa kau baru menyadarinya.? Aku ini memang cantik. Hahaha." Kata Emma dengan tertawa.


"Sialan."


Emma pun memeluk punggung Rudy. "Eh.? Apa yang kau lakukan Emma.?" Tanya Rudy.


"Aku tidak tau, aku merasa ingin memelukmu dalam situasi seperti ini." Kata Emma dengan tersenyum.


"Kau terbawa suasan Emma." Kata Rudy sambil mengusap kepalanya.


"Kau benar, suasananya terlihat sangat romantis disini." Kata Emma sambil memejamkan matanya sambil menikmati angin malam.


"Apa kau menyukaiku Emma.?" Tanya Rudy.


"Tentu saja." Kata Emma dengan spontan. Lalu, wajahnya memerah. "Ah, bukan itu maksudku, aku hanya menghormatimu, Bukan, aku hanya menghargaimu." Kata Emma dengan panik sambil melepaskan pelukannya.


"He.? Yang mana yang benar.?" Tanya Rudy dengan bingung.


"Diamlah Rudy." Jawab Emma dengan malu.


"Itu sudah pasti. Aku sendiri tidak tau, apa yang sudah terjadi padaku. Padahal aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya, bahkan saat aku masih hidup puluhan ribu tahun yang lalu." Kata Emma.


Rudy pun memeluk Emma dengan perlahan.


"Eh.? Kau juga melakukannya Rudy." Saut Emma.


"Diamlah, dan rasakan hatimu. Apa kau merasa nyaman.?" Tanya Rudy.


Emma pun membalas pelukan Rudy, dan meletakkan kepalanya di pundaknya.


"Ah, aku merasa nyaman disini." Kata Emma dengan lembut.


"Aku tau itu. Aku juga merasakannya." Saut Rudy.


Lalu. "Ekhm. Apa aku menganggu kalian.?" Tanya Marco yang tiba-tiba datang.


"Eh, Marco.?" Saut Rudy dengan terkejut. Ia pun berusaha melepaskan pelukannya, namun Emma masih memeluknya dengan erat.


"Kau sangat menganggu Marco." Saut Emma.


"Ahahaha. Maaf kalau gitu." Kata Marco sambil berjalan menjauh dari sana.

__ADS_1


"Lepaskan Emma, ini memalukan." Kata Rudy sambil berusaha melepaskan pelukan Emma.


"Marco sudah pergi. Jadi tolonglah, biarkan aku memelukmu sebentar." Kata Emma dengan serius


"Eh.?" Saut Rudy dengan terkejut. "Hm, baiklah lakukan sesukamu." Kata Rudy.


"Aku belum pernah merasakan kenyamanan seperti ini Rudy. Jadi biarkan aku merasakannya lebih lama." Kata Emma.


"Apa ini pertama kalinya bagimu.?" Tanya Rudy.


"Ini pertama kalinya, sangat nyaman sekali." Kata Emma sambil memeluk Rudy lebih erat lagi.


"Baiklah, mungkin hanya ini yang bisa aku berikan padamu." Kata Rudy sambil membalas pelukan Emma.


"Terimakasih Rudy." Kata Emma dengan tersenyum.


...


Di dalam Caffetaria.


"Mereka berpelukan disana dengan bebas. Apa mereka tidak melihat, didalam sini banyak orang." Kata Marco.


"Biarkan mereka Marco. Emma merasakan cinta di hatinya." Kata Lilia dengan tersenyum melihat Rudy dan Emma.


"Begitulah anak muda. Aku jadi ingin mengingat masa mudaku dulu. Hahaha." Kata Marcus yang ada disana.


"Hm, Padahal aku hanya ingin menyampaikan, kalau mereka menjadi tontonan di dalam sini." Kata Marco.


"Apa kau iri dengannya Marco.?" Tanya Alicia.


"Aku hanya meresa tidak enak saja mereka jadi tontonan." Jawab Marco


"Kau mengeles saja, padahal kau sendiri ingin melakukan itu." Kata Lilia.


"Lalu, dengan siapa aku melakukannya. Apa ada yang mau.?" Tanya Marco.


"Tentu saja aku mau." Kata Ana yang tiba-tiba datang.


"He.? Aku tidak mau di peluk oleh orang tua sepertimu." Kata Marco dengan panik.


"Dimlah, dan rasakan perasaan cinta dari orang tua." Kata Ana sambil menghampiri Marco.


"Eh.? Hentikan." Kata Marco yang tiba-tiba lari dari sana.


"Hahahaha." Tertawa semua orang disana.


"Hm, menjadi anak muda memang sangat menyenangkan." Kata Ana sambil melihat Rudy dan Emma.

__ADS_1


...


__ADS_2