
Di kota Ferland. Pada malam hari. Semua orang beristirahat di dalam rumah masing-masing. Terlihat Marco dan Rin sedang mengobrol di depan Dungeon yang di masuki Rudy dan Emma.
"Kau semakin kuat sekarang." Kata Marco.
"Sudah tentu, karena kak Marco adalah guruku. Hehe. Aku berlatih setiap hari untuk meningkatkan kekuatanku kak." Saut Rin.
"Apa kau tidak ingin kembali ke Akademi Rin.?" Tanya Marco.
"Aku lebih tenang jika bersama dengan kakak. Meskipun aku hidup di luar sana, aku tidak apa-apa." Jawab Rin.
"Huh, justru lebih enak hidup didalam sini Rin. Kau lihat, benteng disana sudah hancur berantakan. Jika Lilia tidak memasang Barrier di kota ini, apa yang akan terjadi.?" Saut Marco.
"Pasti hewan iblis akan menyerang kesini kak." Kata Rin.
"Kau benar. Tugas kita disini adalah, melindungi rakyat jelata yang tidak bisa berburu hewan iblis. Bukan menindas mereka, apa kau paham Rin.?" Kata Marco.
"Em, aku paham kak." Jawab Rin.
"Bagus, aku hanya tidak ingin kau memiliki sifat seperti mereka. Justru kau harus melindungi mereka." Saut Marco.
"Baik Kak, aku sangat paham." Kata Rin.
"Setelah Rudy dan Emma kembali kesini, kita semua akan pergi ke dalam Dungeon Expert yang satunya. Kita harus berlatih lebih keras lagi sebelum mereka kembali." Kata Rin.
"Aku sudah berlatih dengan sangat keras kak." Saut Rin.
"Bagus, kita kembali sekarang Rin. Sudah tidak ada apa-apa lagi disini. Semua Barrier sudah di pasang." Kata Rin.
"Apa kita tidak patroli malam kak.?" Tanya Rin.
"Kembalilah dulu, biar aku sendiri saja yang berpatroli." Jawab Marco sambil berdiri.
"Em, baik kak." Saut Rin. Ia pun langsung kembali kedalam tenda.
...
"Huh, udara disini dingin sekali. Aku butuh kehangatan." Kata Marco sambil berjalan menuju dapur umum.
Lalu, PIAS. Suara Barrier yang di pasang di pintu masuk Dungeon Expert pecah.
"He.?" Marco pun terkejut sambil menelan ludah.
"Tidak mungkin, ini baru 5 bulan, apa mereka sudah kembali.? Atau ada hewan iblis yang mampu memecahkan barrier itu.?" Tanya Marco dengan terkejut.
Lilia bersama dengan para Panglima pun langsung berlari kesana.
"Apa yang terjadi Marco.?" Teriak Lilia sambil berlari kearahnya.
"Aku sendiri ingin tau." Saut Marco.
"Heh.? Kenapa Barriernya pecah.?" Tanya Stevani dengan terkejut.
"Kita pastikan ke sana." Jawab Lilia.
Lalu, "Apa kalian tidak tidur.? Aku lihat disini sudah malam." Kata Rudy.
"Rudy.?" Saut Lilia.
"Kenapa kau terkejut begitu.?" Tanya Rudy sambil berjalan menghampiri mereka bersama Emma.
"Apa kau kembali ingin beristirahat disini Rudy.?" Tanya Marco.
"Apa yang kau katakan.?" Saut Rudy.
"Jadi. Kau sudah menyelesaikan dungeon itu.?" Tanya Marco.
"Aku tidak pernah kembali dari dalam dungeon sebelum aku menyelesaikannya." Jawab Rudy dengan tersenyum.
"Terlalu cepat untuk menaklukan dungeon Rank Expert." Saut Marco.
"Sudah jelas, aku kesana bersama Emma." Kata Rudy.
"Ah, aku tau itu. Tapi tetap saja itu mengejutkanku." Saut Marco.
"Selamat datang kembali para Pahlawan." Kata semua Panglima disana.
"Ah, apa mereka sudah tau identitas kita Marco.?" Tanya Rudy.
"Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa menyembunyikannya. Justru aneh jika seseorang bisa menaklukan dungeon Expert hanya berdua saja. Itu sangat mencurigakaan." Jawab Marco.
"Hm, jadi begitu, Baiklah. Lalu dimana tempat makannya.?" Tanya Rudy.
__ADS_1
"Apa kai tidak marah dengan itu Rudy.?" Tanya Marco balik.
"Tentang apa.?" Saut Rudy.
"Identitas kita." Jawab Marco.
Emma pun menyelat perkataan. "Tidak apa-apa Marco. Kami tidak mempermasalahkan itu, kami kami akan membicarakan kedepan."
"Eh.? Kedepan.? Apa maksudnya.?" Tanya Marco.
"Hm, kita pergi dari sini, aku sudah lapar." Saut Rudy.
"Baiklah. Kita kesana Rudy." Jawab Marco.
Mereka semua pun berjalan ke dapur umum secara bersamaan.
"Tempat ini sudah berubah." Kata Emma.
"Padahal hanya 5 bulan sejak kita masuk kedalam sana." Saut Rudy.
"Kita semua bekerja keras untuk memulihkan kota ini." Kata Marco.
"Bahkan kita membuat pusat pelatihan terbesar disini." Kata Lilia.
"Marco, mulai sekarang pasti ada hewan iblis yang akan datang kemari, sebaiknya kalian berjaga di sekitar benteng." Kata Rudy.
"Apa maksudmu.?" Tanya Marco.
"Kami lupa membuat menara di dalam sana." Jawab Emma.
"Hm, kalian membuat kami kerepotan." Saut Marco.
"Buat pembagian saja. Kau bereskan hewan iblis yang akan datang kemari. Lalu, Lilia masuklah kedalam dungeon untuk memasang menara. Aku sudah menyiapkan koin yang bagus untuk di pasang di dalam sana." Kata Rudy.
"Biarkan mereka berangkat besok pagi saja Rudy. Yang terpenting saat ini adalah menjaga benteng supaya tidak ada hewan iblis yang masuk kemari." Kata Emma.
"Ah, baiklah kalau begitu." Saut Rudy.
"Oke, kita bangunkan semua prajurit sekarang, tidak ada waktu untuk beristirahat." Kata Marco dengan serius.
"Laksanakan perintah." Kata Semua panglima disana. Mereka pun langsung bergerak ke posisi mereka masing-masing.
"Hee. Apa kau sudah menjadi penguasa militer disini Marco.?" Tanya Rudy.
"Aku serahkan sisanya padamu, aku akan makan dulu bersama Emma." Kata Rudy.
"Baik Rudy, kalian istirahatlah disana, kami akan menyusul nanti." Kata Marco.
Rudy dan Emma pun berjalan menuju dapur umum. Sedangkan Marco dan lainnya bersiaga di setiap benteng kota.
...
Beberapa saat kemudian. Di atas benteng kota timur.
"Lapor, kami mendetekti ada ribuan hewan iblis yang datang kemari." Kata Kevin kepada Marco.
"Kalian bersiaplah." Kata Marco.
"Tapi, mental prajurit di bawah sana sudah terguncang. Apa sebaiknya kami sendiri yang turun tangan.?" Tanya Kevin.
"Hm, Padahal hewan iblis yang datang rata-rata Rank B. Apa mereka tidak bisa menyerang dari rajak jauh.?" Tanya Marco kembali.
"Kalau itu bisa. Lalu, siapa yang akan menyerang ke garis depan.?" Saut Kevin.
"Tentu saja kalian para Panglima." Jawab Marco.
"Baik. Laksanakan perintah." Kata Kevin sambil berjalan menjauh dari Marco.
"Kau ikutlah bertarung di garis depan Rin." Kata Marco.
"Padahal aku ingin tidur. Baiklah Kak." Saut Rin sambil berlari menghampiri Kevin dan lainnya.
...
Drak Drak.Drak. Suara kaki hewan iblis yang berlari ke arah benteng timur dengan jumlah yang sangat banyak.
"Jumlah ini terlalu banyak." Kata Stevani.
"Ah, kita yang harus pergi kesana setelah ini." Kata Viona.
Lalu. GROARR. DREM DREN Terlihat hewan iblis Rank S yang berlari dengan cepat dari arah belakang, bahkan hewan iblis di depannya di gusur olehnya.
__ADS_1
"Tidak mungkin, hewan iblis Rank S." Kata Stevani dengan terkejut.
"Apa yang harus kita lakukan.?" Tanya Viona.
Semua prajurit yang berdiri di depan benteng pun hanya terdiam ketakutan sambil menelan ludah.
"Aku tidak mau mati." Kata salah satu prajurit di sana.
"Hiiii." Teriak prajurit yang ketakutan.
Satu persatu para prajurit disana terjatuh dengan sendirinya, lalu mereka berlari dan berteriak masuk kedalam benteng.
"HAAAAA." Teriakan para prajurit yang kabur dari posisinya.
"Ternyata mental mereka lebih lemah dari hewan iblis." Kata Marco sambil mengangkat kakinya di pinggir benteng.
"Apa kau akan turun tangan.?" Tanya Lilia.
"Lalu, apa mereka bisa menghadapi hewan iblis itu.?" Tanya Marco balik.
"Aku sebenarnya bisa saja membunuh mereka sekaligus, tapi mereka butuh pengalaman lebih untuk menghadapi puluhan ribu hewan iblis di luar sana." Jawab Lilia.
"Hm, berikan serangan pembuka Lilia, mereka harus di bangkitkan semangatnya." Kata Marco.
"Baiklah." SUUUSH, BLARS. WOOSH. Keluarlah bola api berwarna biru dari tongkat Lilia dan melesat ke arah kumpulan hewan Iblis.
DROMRR. "Ledakan yang sangat besar, bahkan kau membunuh separuh dari kawanan hewan iblis yang datang kemari." Kata Marco.
"Itu hanya serangan pembuka. Selanjutnya adalah kau." Saut Lilia.
"Hm. PARA PRAJURIT. JANGAN GENTARKAN KAKIMU UNTUK MUNDUR." Teriak Marco.
"He ?" Saut prajurit yang tiba-tiba berhenti dari larinya.
"KITA AKAN MENANG, BASMI SEMUA HEWAN IBLIS DI DEPAN KITA."
"Dia memberikan semangat, sepertinya kita bisa menang kali ini." Kata Stevani.
"Ah, aku yakin begitu." Saut Viona.
Semua prajurit pun menoleh kebelakang dan melihat bekas ledakan dari serangan Lilia.
"Itu, apa kita akan selamat.?" Kata prajurit disana.
"JIKA KALIAN MUNDUR DARI SINI, SIAPA YANG AKAN MENJAGA BENTENG INI KEDEPAN."
Para prajurit pun hanya terdiam di sana dengan merenung.
"APA KALIAN INGIN KELUARGA KALIAN DI BASMI OLEH MEREKA.? APA KALIAN HANYA INGIN BERSEMBUNYI DI DALAM SANA.? LALU SIAPA YANG AKAN MENYELAMATKAN KALIAN."
"Itu benar, siapa yang akan menyelamat kita nanti."." Kita masih punya harapan disini."."Benar, inilah saatnya kita bangkit."."Kenapa kita takut mati, jika besok kita pun bisa mati."
Semua prajurit pun berbalik arah dan berjalan keluar benteng.
"Tidak kusangka, dia bisa membuat para prajurit bergerak kesini." Kata Viona.
"Kita tinggal menunggu saja, apa yang akan dia lakukan setelah ini." Kata Stevani.
"SEKARANG ATAU BESOK, SEMUA AKAN TETAP SAMA SAJA. ANGKAT SENJATA KALIAN."
"HOAAAAAA." Para Prajurit pun berteriak dengan semangat. Mereka berlari menuju posisinya masing-masing.
TRING, SWOSSH Ribuan dagger milik Marco terbang ke udara.
GROAR. GAARRRR. Raungan hewan iblis yang semakin mendekat ke arah benteng. Semua orang di sana hanya terdiam dengan tegang sambil menunggu perintah.
"Ini akan menjadi peperangan yang panjang." Kata Stevani.
"Mereka sudah dekat Marco." Saut Lilia.
"Tunggu, sedikit lagi." Kata Marco dengan serius sambil melihat kebawah benteng.
Lalu. "SEKARANG, SERAAAANG." Teriak Marco kepada seluruh prajurit disana.
BRLAR BLAR. SWOS, WOS. Bola api pun di luncurkan oleh prajurit garis belakang.
"HOAAA." Teriakan semua prajurit garis depan. Mereka berlari dengan penuh semangat.
"Sekarang waktunya kita beraksi." Kata Stevani dengan penuh semangat.
SRAK SRAK, BREDOM. DROMRR. Peperangan pun di mulai.
__ADS_1
...