Leveling System Reincarnation

Leveling System Reincarnation
CH 120 - Cahaya Berbentuk


__ADS_3

Hari kedua. Di perbatasan wilayah kerajaan Konggo. Para tawanan perang di terlantarkan di luar. Bahkan mereka hanya di berikan makanan dan minuman seadannya.


"Bajingan mereka semua." kata Leo dengan marah.


PUk puk. Puk. Suara roti yang di lempar ke arah tawanan.


"Makanlah itu, kami masih baik hati membagikan makanan kami." kata prajurit Neverland.


"Cuuh." Leo meludahi roti itu.


BUOOK. "Bajingan seperti kalian masih ingin melawan.? kalau kau tidak mau memakannya, tidak perlu di ludahi. Sialan." Buook.


Leo di pukul dengan sangat keras disana. "Hosh, hosh."


"Kita sudah tamat disini. Meskipun kita melawan mereka, sama saja kita bunuh diri." kata Silvi.


"Sebaiknya aku mati dengan perlawanan dari pada mati tanpa perlawanan." saut Leo.


"Lalu, bagaimana caramu melawan mereka.?" tanya Silvi.


"Aku sendiri tidak tau, bahkan ikatan sihir ini sangat kuat." jawab Leo.


"Huh, kalau begitu, diam saja dan terima semua yang terjadi disini." kata Silvi.


"Tapi masih ada satu kesempatan lagi untuk melawan mereka." kata Leo.


"Hm.? Bagaimana caranya.?" tanya Silvi.


"Kita hanya menunggu waktu saja, sampai pasukan Royal Unity datang kemari." jawab Leo.


"Kau benar. Mereka masih belum datang kesini. Yaah, aku harap kita bisa di bebaskan oleh mereka." saut Silvi.


"Masih kurang dua hari lagi. Kita harus bertahan selama itu." kata Leo.


"Aku harap prajurit kita bisa bertahan juga." kata Silvi.


"Tapi aku ingin mencoba sesuatu." saut Leo.


"Apa yang ingin kau coba.?" tanya Silvi.


"Aku hanya menunggu momen saja, dan saat itu, aku bisa memberikan informasi kepada mereka." jawab Leo.


...


Di dalam kapal terbang. Stevani berlari dengan panik menuju caffetaria.


"Tuan, Tuan." teriak Stevani dengan panik.


"Hm.? Ada apa.?" tanya Rudy.


"Apa Anda sudah mendengar informasi yang ada di perbatasan saat ini.?" tanya Stevani.


"Aku sudah menghubungi Eden dan yang lainnya, tapi mereka tidak menjawab. Ada apa.?" saut Rudy.


Stevani pun menelan ludah. "Pasukan gabungan Overlord, sudah di kalahkan." kata Stevani.


"Apaaa.??" teriak Rudy dan Marco dengan sangat terkejut.


"Ba, bagaimana kau bisa tau.?" tanya Eudy dengan panik.


"Aku menghubungi salah satu jendral disana. Tapi yang menjawab adalah pasukan Neverland. Dan aku sendiri melihat kondisi mereka lewat panggilan bergambar. Prajurit Neverland menyiksa mereka dan mengikatnya dengan sihir." kata Stevani.


Rudy pun hanya menelan ludah.


"Siapa yang kau hubungi.?" tanya Marco.

__ADS_1


"Jendral pasukan gabungan. Leo. Dia sengaja mengintimidasi prajurit disana dan memaksa mereka menekan tombol komunikasi. Sepertinya Leo sedang memberikan informasi kepada kita Tuan." kata Stevani.


"Ini lebih cepat dari dugaanku." kata Rudy dengan tercengang.


"Apa kapal ini tidak bisa berjalan lebih cepat lagi.?" saut Marco dengan kesal.


"Ini sudah kecepatan penuh Tuan." Jawab Stevani.


"Sialan. Apa yang harus kita lakukan Rudy.?" tanya Marco.


"Ada satu jalan untuk menuju kesana dengan kecapatan tinggi." SUING. Rudy pun mengeluarkan sebuah buku skill.


"Apa itu.?" tanya Marco.


"ini adalah buku skill. Kau harus mempelajarinya sekarang, dan kita akan berangkat kesana." saut Rudy


"Skill.? Skill apa yang bisa membuat kita sampai disana.?" tanya Marco.


"Skill terbang. Kau bisa mengeluarkan sayap di punggungmu." jawab Rudy.


"Apa itu bisa.?" tanya Marco.


"Sialan, berhentilah bertanya, dan pelajari skill itu." kata Rudy dengan tatapan serius.


"Hee.? Baiklah." saut Marco.


...


Di tempat perbatasan. Leo di hajar habis-habisan di dalam tenda komando.


BUOOK. "Katakan, apa itu.?" tanya Jack dengan kesal.


"Uhuk. Huh huh." saut Leo yang menyembunyikan keberadaan Chip.


"Cukup." saut Teo. Lalu ia pun berjalan menghampiri Leo.


"Kau menyembunyikan sesuatu dari kami. Katakan, apa sebenarnya cahaya yang keluar di depanmu itu.?" tanya Teo.


"huh, huh. Aku sudah memberikan informasi kepada mereka. Uhuok. Huh, bersiaplah. Mereka pasti akan datang secepat mungkin." saut Leo.


BUOK. "Uhuook."


"Bajingan. Apa kau ingin mati.?" tanya Jack.


"Huh, huh. Aku tidak masalah jika mati disini. Huh, huh, asalkan bajingan seperti kalian bisa di habisi." saut Leo dengan tersenyum.


BUOOKK. "Aakkk." Leo pun pinsan di tempat. Bruk.


"Hm, sepertinya kita tidak dapat informasi apapun. Mungkin Raja mereka tau. Bawa dia kesini." kata Teo.


"Baik Tuan." saut Jack.


"Cahaya apa itu. Ini benar-benar membuatku penasaran. Tidak ada sihir yang bisa membentuk cahaya seperti itu." kata Teo.


...


Beberapa menit kemudian. Bruk. Tubuh Eden pun jatuhkan di depan Teo.


"Apa yang kau inginkan dariku.?" tanya Eden.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Apa kau tau tentang cahaya yang muncul di depan dia.?" tanya Teo sambil menunjuk Leo yang sudah tergeletak.


"Cahaya.? Apa maksudmu.?" saut Eden.


Buook. "Kau juga menyembunyikan sesuatu dari kami.?" teriak Jack sambil memukul Eden.

__ADS_1


"Huh, huh. Aku tidak tau apa maksudmu. Cahaya seperti apa maksudmu.?" tanya Eden.


"Hm, cahaya berbentuk persegi panjang yang keluar di depan orang itu. Kau pasti tau sesuatu, katakan padaku, sihir macam apa itu.?" saut Teo.


"Ah, aku masih belum paham apa maksudmu. Jika kau ingin mengambil kerajaanku, silahkan, tapi jangan sakiti rakyatku." kata Eden.


"Kau benar-benar tidak tau.?" saut Teo dengan kesal.


"Aku paham dengan maksudmu." saut Eden.


"Hm, kau menyembunyikan sesuatu dari kami. Seret semua tawanan, kita berangkat ke istana sekarang." kata Teo dengan kesal.


"Baik Tuan." saut Jack. Buook. "Berdiri bangsat." Eden pun di pukul dan di seret keluar tenda.


"Sialan, kenapa mereka tidak mau memberitahuku. Chik." saut Teo dengan kesal.


...


Di luar tenda.


"Prajurit Berkumpul." Teriak Jack sambil melemparkan tubuh Eden. Bruk.


Semua prajurit Neverland pun langsung berkumpul dan berbaris.


"Apa ada perintah.?" tanya Jill.


"Ah, kita akan pergi ke istana Konggo, dan seret semua tawanan disana." jawab Jack.


"Hm, tapi cuaca tidak mendukung. Sepertinya akan turun hujan." saut Jill.


"Mau bagaimana lagi, kita hanya menjalankan perintah." kata Jack.


"Baiklah kalau begitu. Jalur mana yang akan kita lewati.?" tanya Jill.


"Sesuai rencana awal. Kita akan melewati lembah gunung kearah timur. Sudah tidak ada jalur lain selain melewati lembah itu. Sebaiknya kita bergegas." jawab Jack.


"Apa kau yakin.? Bagaimana jika pasukan kerajaan menyerang kita disana." saut Jill.


"Kita tinggal membereskannya saja. Yakinlah, tidak ada seorang pun yang sekuat Eden, jika Eden adalah yang terkuat di benua ini, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan kita." kata Jack.


"Baiklah, jika ini keinginan Tuan Teo. Kita berangkat sekarang." kata Jill sambil melihat pasukannya yang berbaris.


...


"Ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Sampai kapan kita berperang seperti ini.?" saut Jill dalam hati.


"Apa sudah siap semua.?" tanya Teo yang tiba-tiba datang.


"Tuan. Semua sudah siap, tinggal menunggu perintah Anda." jawab Jack.


"Hm." saut Teo sambil menaiki kuda.


"Pasukan Kavaleri, berangkatlah lebih dulu. Kau yang memimpin Jack." saut Teo.


"Laksanakan Perintah." kata Jack sambil menaiki kuda.


"Hia, hia." teriak Jack sambil menungangi kuda dan berjalan kedepan.


Tring. Jack pun mengeluarkan pedangnya. "Pasukan Berangkat." teriak Jack.


"Berdiri bangsat." saut Prajurit disana sambil menyeret tawanan.


"Hm, kemana kita akan pergi.?" saut Silvi sambil di seret.


...

__ADS_1


__ADS_2