
"Kita adalah perserikatan Royal Unity, dan tugas kita adalah menaungi kerajaan. Salah satunya adalah kerajaan Alden. Kami adalah kekuatan di atas kerajaan, dan tujuan kami adalah merubah sistem dunia." Kata Marco.
Luciana hanya terkejut dan menelan ludah mendengar perkataan Marco.
"Siapa kalian sebenarnya.?" Tanya Luciana.
"Sudah aku katakan barusan, kami adalah Royal Unity, dan aku adalah Panglima Tertinggi di sana." Kata Marco.
"Meskipun Rudy masih belum mengangkatku sih." Kata Marco dalam hati.
"Apa itu yang di katakan oleh Ayah tadi.? Kau tidak tertarik dengan kekuasaan kerajaan Alden.? Karena kau memiliki posisi lebih tinggi lagi." Kata Luciana.
"Bukan masalah posisinya, tapi tanggung jawabnya." Saut Marco.
"Aku sangat terkejut Marco. Pantas saja Ayah ingin menjodohkan kita, itu adalah cara paling aman di kerajaan." Kata Luciana.
"Orang itu bicara omong kosong." Kata Marco dengan cemberut.
"Itu adalah salah satu cara Marco. Biasanya kita akan melakukan perjodohan antar kerajaan, bahkan aku sendiri sudah di jodohkan dengan Putra Raja dari kerajaan Borris." Kata Luciana.
"Apa dia Putra Mahkota.?" Tanya Marco.
"Tidak, dia adalah adik dari Putra Mahkota. Akan sangat sulit jika yang menikah sama-sama menyandang Mahkota. Tapi jika dia menikah denganku, sudah pasti dia akan menjadi Raja Alden, dan kakaknya akan menjadi Raja Borris." Jawab Luciana.
"Hm, rumit sekali hidup kalian." Saut Marco.
"Benar Marco, apa lagi jika pernikahan itu terjadi. Keluarga kerajaan Borris akan menguasai dua kerajaan." Kata Luciana.
"Apa Ayahmu tau tentang itu.?" Tanya Marco.
"Ayahku sudah tau dengan itu. Tapi jika sang Raja Alden masih hidup, mereka tidak bisa apa-apa meskipun pernikahan sudah terjalin, kami hanya akan menjadi keluarga kerajaan biasa." Jawab Luciana.
"Hm, aku juga tidak tertarik dengan itu." Kata Marco sambil berjalan menjauh dari sana.
"Apa kau tidak tertarik dengan perjodohan kita.?" Tanya Luciana sambil mengikuti Marco.
"Hm." Saut Marco sambil melirik Luciana.
"Jika kita menikah, kau akan menjadi seorang Raja. Tentu saja kau tidak akan keluar dari posisimu sebagai Panglima Tentinggi, dan yang akan menguasai kerajaan adalah aku sebagai Ratu." Kata Luciana.
"Bahkan kau sendiri sudah dibutakan oleh kekuasaan. Aku hanya akan menikah dengan orang yang aku cintai. Kau sendiri baru mengenalku tadi sore, tapi kau sangat serius membahas pernikahan ini." Kata Marco.
"Tidak Marco, kau hanya tidak tau dengan perasaanku." Saut Luciana.
"Tetap saja aku tidak tertarik. Hidupku lebih bebas dari apapun jika aku mengikuti Rudy. Tidak ada kebebasan yang di tawarkan orang lain seperti Rudy.
"Kenapa kau harus mengikutinya, bukankah kau harus memilih jalanmu sendiri.?" Tanya Luciana.
"Aku sudah memilih jalanku. Hidupku hanya untuk mengabdi pada Rudy. Tidak ada pilihan lain selain itu." Jawab Marco.
"Apa kau tidak ingin melakukan apapun tanpa larangan.? Kebebasan yang sesungguhnya." Tanya Luciana.
"Aku sudah merasakan kebebasan itu, meskipun sekarang, aku bebas mau melakukan apa saja sesukaku. Itu lebih nyaman dari pada menjadi seorang Raja." Jawab Marco.
__ADS_1
"Hm." Saut Luciana dengan sedih sambil melihat Marco dari belakang.
"Kenapa dia menolak untuk menikahiku.? Padahal banyak sekali orang-orang yang menginginkannya." Kata Luciana.
"Marco, apa kebebasan itu adalah hal yang harus di capai.?" Tanya Luciana.
"Itu harus, kau akan merasakan kenyamanan hidup yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata." Jawab Marco.
"Jika kau menikah denganku, aku tidak akan melarangmu untuk melakukan hal yang kau sukai, bukankah lebih enak jika kau menjadi seorang Raja, berkuasa dan memerintah sesukamu. Aku juga tidak melarang, jika kau ingin memiliki permaisuri. Akan ku berikan kebebasan itu padamu." Kata Luciana.
Marco pun tiba-tiba berhenti dari jalannya. Lalu ia menoleh kebelakang.
"Kenapa kau masih membahasnya.?" Tanya Marco sambil mengelus kepala Luciana.
"Eh.? Sudah tentu aku ingin jadi istrimu." Jawab Luciana dengan malu.
"Huh, jika aku ingin menikah, aku hanya akan menikah sekali seumur hidup. Aku tidak ingin mempermainkan hati perempuan, apa lagi perempuan itu adalah orang yang aku cintai." Kata Marco.
"Hee.?" Saut Luciana dengan terkejut.
"Aku benar-benar ingin jadi istrimu." Kata Luciana.
"Sudahi pembahasan ini. Lalu kemana kita akan pergi.?" Tanya Marco.
"Baiklah, kita pergi kesana. Tempat pelatihan sihir." Kata Luciana sambil berjalan mendahului Marco.
"Oke." Saut Marco sambil mengikuti Luciana.
"Apa kau benar-benar menolak tawaran itu Marco.?" Tanya Luciana.
"Menjadi Raja." Jawab Luciana.
"Huh, kau benar-benar terus membahasnya. Aku tidak akan berubah pikiran, jadi berhentilah bertanya." Saut Marco.
"Ah, baiklah. Berapa umurmu sekarang ?" Tanya Luciana.
"Aku.? Seumuran denganmu." Jawab Marco.
"He.? Jadi kau masih berumur 19 tahun.?" Saut Luciana.
"Benar, kenapa kau terkejut begitu. Apa yang salah.?" Kata Marco.
"Ah, tidak tidak." Saut Luciana "Ternyata dia masih seumuran denganku. Tidak kusangka, pikirannya sudah dewasa."
"Aneh sekali dia." saut Marco.
...
Beberapa saat kemudian. Mereka berdua pun sampai di pusat pelatihan terbesar di dalam istana kerajaan.
"Hm, jadi ini pusat latihannya. Tempatnya lebih kecil dari pada di kota Ferland." Kata Marco.
Di tempat itu, Leo kebetulan berada di sana bersama dengan para prajuritnya.
__ADS_1
"Panglima, Tuan Putri datang kemari." Kata salah satu prajurit di sana.
"Benarkah. Dimana Tuan Putri sekarang.?" Tanya Leo.
"Disana Panglima." Saut Prajurit itu.
"He.?" "Siapa orang di belakangnya itu.?" Kata Leo. Lalu, iya pun melihat wajah Marco dengan seksama.
"Dia, bukankah dia adalah tamu Raja Eden.? Kenapa dia kesini dengan Tuan Putri."
Leo pun menghampiri Luciana disana. "Salam Hormat Yang Mulia Putri." Kata Leo sambil menundukkan badannya.
"Ah, Leo. Aku hanya ingin melihat-lihat tempat ini, sebaiknya kau lanjut saja berlatihnya." Kata Luciana.
"Baik Yang Mulia. Tapi, kenapa Anda datang kemari tanpa penjagaan. Itu sangat membahayakan Anda." Kata Leo.
"Aku datang bersama Marco disini, kenapa aku harus khawatir." Saut Luciana.
"Apa tamu Yang Mulia adalah Putra Mahkota kerajaan sahabat.? Jika seperti itu, seharunya Anda di kawal oleh beberapa prajurit." Kata Luciana.
"Ah, tidak. Aku hanya orang biasa, dan bukan seorang bangsawan." Kata Marco.
"He.? Apa maksud Anda.?" Tanya Leo dengan terkejut.
"Hm, aku hanya rakyat jelata, dan sangat kebetulan aku bisa berada di dalam istana kerajaan ini." Jawab Marco dengan santai.
"Rakyat jelata.?" Saut Leo sambil mengangkat tubuhnya.
"Marco.?" Saut Luciana dengan tekejut.
"Maaf Tuan Putri, aku masih belum memperkenalkan diri lebih dalam. Aku sebenarnya adalah Rakyat Jelata biasa." Kata Marco.
"Tidak mungkin. Aku tidak percaya dengan omonganmu. Tadi kau bilang, kau adalah Panglima Tertinggi." Saut Luciana.
"Tidak Putri, aku hanya rakyat jelata biasa. Dan tidak ada identitas resmi lainnya." Kata Marco dengan tersenyum.
"Aku ingin melihat reaksinya. Sepertinya dia sama seperti bangsawan bangsat itu." Kata Marco.
"Tapi kau yang menyembuhkanku Marco. Tidak mungkin kau rakyat jelata." Kata Luciana.
"Aku tidak berbohong. Aku benar-benar Rakyat Jelata, aku bisa mempertanggung jawabkan omonganku ini." Kata Marco.
"He.?" Saut Luciana dengan terkejut.
"Jadi kau hanya rakyat jelata.? Berani sekali kau masuk kedalam istana. Bahkan kau berjalan dengan Tuan Putri, apa maksudmu.?" Kata Leo dengan kesal.
"Aku hanya di paksa oleh Raja kalian, padahal aku sudah menolaknya." Saut Marco dengan santai.
"Aku tau kau adalah tamu VIP Yang Mulia Raja, tapi tidak kusangka, ternyata kau sudah menipu kami semua. Itu adalah kejahatan tertinggi dalam aturan kerajaan." Kata Leo.
"Lalu, apa hukumnya.?" Tanya Marco.
"Sudah jelas kau harus di eksekusi." Jawab Leo sambil mengeluarkan pedangnya.
__ADS_1
Luciana hanya terdiam disana dengan sangat terkejut.
...